Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Detik-Detik Mahasiswi Unand Selamat dari Kepungan Banjir Akibat Jebolnya Bendungan Gunuang Nago

Riyadhatul Khalbi • Kamis, 4 Desember 2025 | 14:33 WIB

Kondisi sekitar Kos Fathimah Azzahra yang ia ambil dari balkon lantai 2 kosnya di Jalan Irigasi, Pauh, Kota Padang saat air banjir melanda Kota Padang beberapa waktu lalu.(Fathimah Azzahra/For Padek)
Kondisi sekitar Kos Fathimah Azzahra yang ia ambil dari balkon lantai 2 kosnya di Jalan Irigasi, Pauh, Kota Padang saat air banjir melanda Kota Padang beberapa waktu lalu.(Fathimah Azzahra/For Padek)

PADEK.JAWAPOS.COM-Fathimah Azzahra (23), mahasiswi Sastra Inggris Unand asal Jakarta yang ngekos di lantai 2 kos Oma 2 di Jalan Irigasi di bawah bendungan Gunung Nago pada saat itu sedang mengerjakan artikel skripsinya sembari mendengarkan musik menggunakan earphone.

Tiba-tiba pintu kamarnya digedor-gedor oleh kawan kosnya memberitahunya bahwa area sekitar irigasi sudah kebanjiran. Kaget, ia pun bergegas berlari ke balkon untuk melihat kondisi sekitar.

Ternyata kosnya sudah dikepung air berwarna coklat dengan arus yang deras datang dari atas bendungan irigasi yang jebol.

Pada pukul 00.10 WIB hari Jumat, Fathimah Azzahra (23) sedang fokus mengerjakan artikel skripsinya sembari mendengarkan musik dengan earphone yang melekat di telinganya.

Mahasiswi asal Jakarta dari Prodi Sastra Inggris Universitas Andalas (UNAND) tersebut tiba-tiba mendengar suara orang menggedor-gedor pintu kamar kosnya dengan kencang.

Sontak, ia pun melepaskan earphone yang sebelumnya menutupi telinganya tersebut. Bergegas membuka pintu, saat pintu terbuka ia melihat keadaan lorong kos saat itu begitu kacau. Salah satu teman kosnya pun berteriak, “Kak! Banjir Bandang! Bendungan Jebol!” teriak temannya ke Fathimah. 

Mahasiswi asal Jakarta yang ngekos di lantai 2 Kos Oma 2, berada di Jalan Irigasi, Pauh tersebut pun langsung bergegas pergi ke balkon kosannya untuk melihat keadaan sekitar.

Saat itu, jalanan sudah dibanjiri air berwarna coklat secara deras dengan arah air berasal dari atas (bendungan Gunuang Nago) yang sudah jebol. 

Air banjir yang begitu deras, ditambah dengan intesitas hujan yang tinggi membuat air mencapai paha orang dewasa. Hal itu terlihat oleh Fathimah, saat berdiri di balkon tersebut ketika ada warga yang berusaha menerjang arus deras banjir. 

Untungnya, kamar kosnya berada di lantai 2 sehingga ia dan barang-barang miliknya tak langsung dibasahi air banjir namun motornya yang berada di parkiran kos sudah naas terendam banjir.

Ia pun memantau terus bagaimana kondisi sekitar dari balkon kosnya tersebut bersama teman-teman kos-nya. Teman sekosnya yang berada di lantai 1 pun juga turut naik ke lantai 2 untuk menyelamatkan diri dan barang berharga milik mereka. 

Sedari awal kejadian beberapa teman kosnya sudah ada yang mengajak Fathimah untuk mengungsi dan memang sudah ada yang meninggalkan kos.

“Info yang saya dapat, setelahnya mereka malah terjebak di jalan Pasar Baru karena debit air semakin tinggi dan arus yang sangat deras” ucapnya, Selasa (2/12). 

Tak sampai setengah jam, Tim SAR pun datang dengan perahu karet untuk mengevakuasi warga. Pada saat itu, Tim SAR mengevakuasi mereka yang berada di lantai 1, lansia, orang yang sakit atau membutuhkan pertolongan cepat.

Salah satu petugas pun menyampaikan ke mereka yang berada di lantai 2 salah satunya Fathimah, untuk tetap berada di lantai 2 tersebut sementara sampai banjir mereda demi keselamatan mereka. 

Pada saat itu, ia juga terus berkomunikasi dengan keluarganya di Jakarta yang khawatir dengan keselamatannya. Di pukul 09.00 WIB, ia pun evakuasi bersama pemilik kos walaupun debit air masih meningkat dan arus kian deras.

Atas bantuan salah satu Satpol PP yang bertugas mengevakuasi warga sekitaran kosnya, ia pun dapat tiba di Jalan Utama Pasa Baru, naik ke mobil polisi yang akan membawa warga untuk evakuasi ke Posko Pengungsian SDN 02 Cupak Tangah. 

Posko tersebut begitu crowded karena banyak sekali pengungsi. Diarahkan untuk mengisi nama dan tempat tinggal kos pada meja pendaftaran. Lalu, mendapatkan bantuan Makan Bergizi Gratis (MBG) dan air mineral. 

“Meskipun ramai, kondisi disana kondusif dengan banyaknya petugas yang informatif membantu para pengungsi dengan baik. Kebutuhan makanan dan minuman juga sangat banyak tersedia disana. Beberapa Polisi juga turut serta menjaga posko pengungsian ini” ujarnya.

Tak lama setelah itu, ia pun dijemput temannya yang juga sejurusan dengannya untuk mengungsi di rumahnya yang tidak terdampak banjir.

Di hari yang sama, keluarganya langsung membelikan tiket agar ia dapat pulang ke Jakarta saking khawatirnya mereka dengan keselamatan Fathimah. Perhari ini pun ia masih menetap di Jakarta sembari menunggu kondisi membaik agar dapat kembali ke Kota Padang. 

Sama halnya dengan Fathimah. Miralda Putri (22) asal Sumatera Utara, tinggal di kosnya yang berada di dekat Alvanza Foodcourt, Simpang Pasir, Jl. Dr. Moh. Hatta yang juga menjadi titik terdampak banjir karena jebolnya bendungan Gunuang Nago tersebut.

Naasnya, ia baru saja wisuda di Unand pada tanggal 22 November 2025 lalu dan masih menetap di kos karena ingin mengurus ijazahnya.

Sebelum banjir terjadi, ia dan mereka yang kos di tempat tersebut sudah diperingatkan pemilik kos untuk siaga apabila ada banjir sedari hari sebelumnya.

Hal tersebut, membuat Miralda sudah mengamankan barang-barang pentingnya sehingga saat air naik di malam hari ia tidak terlalu kesusahan. 

“Saat pertama naik, air tidak deras, tapi debit air naik dengan cepat karena dalam hitungan menit air sudah selutut orang dewasa” sampainya ke Padang Ekspres, Selasa (2/12).

Ketika air naik tersebut, orang-orang sekitar sudah mulai panik, dan berteriak menyuruh semua warga sekitar untuk keluar rumah, salah satunya mereka yang ngekos di tempat tersebut.

Wanita asal Sumut ini pun berlari-lari mencari tempat untung berlindung, ia sempat memesan ojek online untuk membantunya evakuasi namun karena kondisi banjir seperti itu tentu tidak ada yang sanggup menerima orderannya. 

Orang tuanya pun tentu juga khawatir dengan kondisinya karena saat itu mereka terus berupaya melakukan komunikasi dengannya via telfon. Mereka mengingatkan Miralda untuk tidak panik dan berpikir secara rasional. 

Akhirnya, ia pun evakuasi ke kosan temannya yang berada di seberang jalan dari kosnya sebelum air semakin deras karena tempat tersebut memiliki lantai 2.

Disana ia menyelamatkan diri dan air sempat surut tapi setelah itu terjadi banjir susulan yang lebih deras sampai siang. Saat keadaan sudah membaik, banjir sudah tidak ada lagi tetapi hanya lumpur-lumpur bawaan air yang menguasai area sekitar.

Ia mendatangi kosnya untuk mengambil barang-barang yang dapat diselamatkan, keadaan kos yang cukup parah dipenuhi lelumpuran membuatnya harus kembali ke kos temannya tersebut. 

Saat ini, ia memiliki keinginan untuk kembali ke kampungnya karena kondisi yang tidak kondusif. Orang tuanya pun sempat menyuruhnya untuk kembali ke kampung halamannya.

Baca Juga: Stok Sembako Korban Galodo Kritis, Nagari Salarehaie masih Mencekam

“Namun ternyata semua akses menuju sumut tutup, sehingga hanya bisa menunggu keadaannya membaik” tutupnya. (Riyadhatul Khalbi - Padang)

Editor : Novitri Selvia
#bendungan jebol #banjir #unand #Gunuang Nago