Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Akses Terputus Longsor, Warga Benermeriah Jalan 20 Kilometer Demi Kebutuhan Pokok

Novitri Selvia • Senin, 22 Desember 2025 | 11:15 WIB

TERHEMPAS BANJIR: Poster Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto tertempel di kawasan Sekolah Dasar Negeri 3 Tripejaya yang rusak dan tertimbun material lumpur pasca bencana di Desa Uyeberirin.
TERHEMPAS BANJIR: Poster Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto tertempel di kawasan Sekolah Dasar Negeri 3 Tripejaya yang rusak dan tertimbun material lumpur pasca bencana di Desa Uyeberirin.

PADEK.JAWAPOS.COM-LANGKAH kaki masyarakat Kabupaten Benermeriah, Aceh, khususnya warga Simpang Balek, Kecamatan Wih Pesam, tak sekadar perjalanan biasa. Setiap jejak yang mereka tempuh adalah upaya bertahan hidup demi memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Rakyat Aceh (grup Padang Ekspres) melaporkan kemarin (21/12), sejak akses jalan utama terputus akibat bencana longsor pada akhir November lalu, warga terpaksa berjalan hingga 20 kilometer menuju Desa Rimba Raya, Kecamatan Pintu Rime Gayo, Kabupaten Bener Meriah, demi mendapatkan beras, gas, hingga bahan makanan.

Di Rimba Raya, transaksi jual beli berlangsung layaknya pasar darurat. Gas elpiji, beras, BBM, minyak goreng, hingga kebutuhan pokok lainnya tersedia, Menurut Nanda warga Pante Raya, Simpang Balek, kepada Rakyat Aceh (20/12), perjalanan menuju “pasar kaget” Rimba Raya tidak mudah.

Dia harus melewati tiga titik longsor yang memutus total akses jalan darat, yaitu Timang Gajah, Tengge Besi, dan Kilometer 60. Meski tersedia jasa ojek di beberapa titik, ia memilih berjalan kaki demi menghemat pengeluaran.

“Sebenarnya ada ojek, sekali naik itu Rp 15 ribu. Jadi, butuh tiga kali naik ojek sampai ke KM 60. Kalau pulang pergi bisa Rp 90 ribu,” katanya.

Ironisnya, kebutuhan pokok sebenarnya sudah tersedia di kampong mereka sendiri. Namun, harganya melambung tinggi akibat sulitnya akses distribusi.

“Kalau di Simpang Balek gas harganya bisa Rp 250 ribu sampai Rp 300 ribu. Di sini Rp 60 ribu,” tutur Nanda.

Soal bantuan pemerintah, Nanda mengaku masih sangat terbatas. Sejauh ini, ia dan warga lainnya baru dua kali menerima bantuan beras, pertama satu kilogram per orang, lalu empat ons dari desa. Selebihnya, mereka bertahan dengan usaha sendiri.

Kisah serupa dialami Zul Azmi, warga Simpang Balek lainnya. Ia juga harus menuju Kilometer 60 demi mendapatkan gas untuk kebutuhan rumah tangga.

“Saya cari gas untuk pribadi. Saya bawa dua tabung. Gas sudah langka sejak hari pertama banjir,” katanya.

Zul menempuh perjalanan dengan sepeda motor hingga Timang Gajah, lalu melanjutkan dengan ojek seharga Rp 15 ribu selama sekitar 15 menit.

Ia berangkat subuh karena jika siang hari jalur dipadati warga dan macet. Gas yang didapat pun baru bisa dibawa pulang menjelang siang.

Rehabilitasi Infrastruktur

Gubernur Aceh Muzakir Manaf (Mualem) mengatakan, meskipun setiap musibah diyakini memiliki hikmah, proses rehabilitasi dan rekonstruksi tetap membutuhkan waktu.

Meski demikian, pemerintah berupaya melakukan percepatan penanganan secara maksimal, khususnya pada infrastruktur vital yang rusak akibat banjir.

“Kita akan segera memperbaiki jembatan dan jalan yang rusak. Sesuai prosedur, hal ini akan kita laporkan dan koordinasikan dengan dinas-dinas terkait maupun ke kementerian,” ujar Mualem di sela kunjungan ke Aceh Tenggara, seperti dikutip dari Rakyat Aceh kemarin.

Selain itu, Mualem menyatakan kalau dia tidak keberatan apabila masyarakat memanfaatkan material banjir, seperti kayu gelondongan, untuk mendukung proses rehabilitasi dan rekonstruksi.

Namun, pemanfaatannya harus diperuntukkan khusus bagi kebutuhan korban banjir dan tetap dikoordinasikan dengan pemerintah daerah setempat.

“Untuk kebutuhan rehabilitasi dan rekonstruksi, silakan dimanfaatkan selama digunakan bagi korban banjir. Teknis dan petunjuk pelaksanaannya agar dikoordinasikan dengan pemerintah daerah,” katanya.

Pemanfaatan material banjir tersebut diharapkan dapat mempercepat pemulihan kehidupan masyarakat serta mengembalikan aktivitas warga ke kondisi yang lebih baik pascabencana.

Selesai Awal 2026

Sementara itu, Gubernur Sumatera Utara Bobby Nasution menyatakan, pemerintah akan segera membangun 1.006 unit rumah bagi korban bencana banjir dan longsor di sejumlah wilayah Sumatera Utara.

Pembangunan hunian tersebut akan dilaksanakan oleh Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman di Kabupaten Tapanuli Selatan, Tapanuli Tengah, dan Tapanuli Utara.

Baca Juga: Semen Padang FC vs Persija Jakarta: Bidik Tiga Poin demi Bangkit dari Zona Degradasi

Program pembangunan rumah bagi warga terdampak bencana ini dibagi ke dalam tiga kategori, yakni rumah rusak ringan, rusak berat, dan rumah hilang. Pemerintah menegaskan akan memprioritaskan korban yang rumahnya hilang sepenuhnya akibat bencana.

“Kita sudah mengkategorikan rumah rusak berat, ringan, dan ada yang rumahnya hilang. Yang hilang ini rumahnya sudah menjadi aliran sungai. Kondisi seperti ini yang kita prioritaskan untuk mendapatkan hunian tetap pada tahap awal,” ujar Bobby seusai meninjau pembangunan Jembatan Aek Garoga dan Desa Garoga, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sabtu (20/12), seperti dikutip dari Sumut Pos (grup Padang Ekspres).

Bobby menjelaskan, tahap awal pembangunan hunian bagi warga terdampak ditargetkan selesai pada awal 2026.

“Lahan akan kita cek di setiap kabupaten. Pembangunan akan segera dimulai agar di awal tahun depan masyarakat sudah bisa pindah ke hunian tetap,” katanya.

Fasilitas Wisata Rusak

Di Sumatera Barat, bencana hidrometeorologi yang melanda Kota Pariaman mengakibatkan kerusakan pada sejumlah fasilitas pariwisata dan fasilitas pendukung, dengan tingkat kerusakan rata-rata pada bagian atap dan plafon bangunan.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Pariaman Ferialdi menyampaikan, bahwa fasilitas yang terdampak antara lain atap musala Pulau Angso Duo, Pentas Seni Pantai Kata, Gedung LKAAM, Pos Pariwisata, serta Gedung Tourist Information Center.

“Kondisi ini cukup berisiko karena dapat membahayakan pengunjung dan pengguna fasilitas, sehingga memerlukan penanganan segera,” ujar Ferialdi kepada Padang Ekspres.

Kerusakan tersebut mengganggu mobilitas pengunjung dan berpotensi menurunkan tingkat kunjungan wisata.

“Dermaga Pulau Angso Duo mengalami kerusakan berat akibat bencana hidrometeorologi. Pulau ini merupakan destinasi unggulan Kota Pariaman yang menjadi daya tarik sekaligus penggerak ekonomi masyarakat,” ujar Ferialdi. (fir/val/san/han/hen/ttg/jpg)

Editor : Novitri Selvia
#Benermeriah #bobby nasution #longsor #Garoga #Rime Gayo #Muzakir Manaf