Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

40 Persen Siswa Sekolah Rakyat Alami Karies Gigi

Eri Mardinal • Selasa, 30 Desember 2025 | 10:53 WIB

 

Mensos Saifullah Yusuf, Ketua Tim Formatur Sekolah Rakyat M. Nuh serta sejumlah kepala daerah bersama siswa di Graha Unesa, kemarin (29/12).
Mensos Saifullah Yusuf, Ketua Tim Formatur Sekolah Rakyat M. Nuh serta sejumlah kepala daerah bersama siswa di Graha Unesa, kemarin (29/12).
PADEK.JAWAPOS.COM-Program sekolah rakyat sudah berjalan selama enam bulan. Kementerian sosial (Kemensos) mulai melakukan evaluasi menyeluruh. Ada tiga materi yang menjadi catatan.

Tidak hanya dari sisi akademik, tetapi juga kesehatan, sosial, hingga pemetaan talenta. Kemensos juga menyiapkan kerja sama agar lulusan sekolah rakyat bisa kuliah atau bekerja di luar negeri

Ketua Tim Formatur Sekolah Rakyat Prof Muhammad Nuh mengatakan, fase rintisan sudah cukup memberi gambaran capaian awal. Karena itu, evaluasi dilakukan secara komprehensif.

”Sekarang saat yang paling tepat. Kita evaluasi ide dasarnya, pelaksanaannya, dan capaian satu semester ini,” ujarnya saat acara pra launching sekolah rakyat di Graha Unesa, Senin (29/12).

Ada tiga catatan yang menjadi evaluasi. Pertama soal kondisi fisik dan kesehatan siswa. Sejak awal masuk, seluruh peserta didik dipetakan secara detail.  Mulai dari berat dan tinggi badan, kebugaran, penglihatan, pendengaran, kesehatan gigi, hingga status gizi. Data tersebut dibandingkan dengan kondisi setelah satu semester untuk melihat perubahan.

Pemetaan kesehatan itu membuka persoalan mendasar. Sekitar 40 persen siswa Sekolah Rakyat mengalami karies gigi. Sebagian lain baru diketahui memiliki gangguan penglihatan, gejala tuberkulosis, hingga kekurangan gizi. Temuan tersebut langsung ditindaklanjuti melalui kerja sama dengan puskesmas dan rumah sakit rujukan. Anak-anak yang membutuhkan perawatan medis ditangani terlebih dahulu agar proses belajar berjalan optimal.

Evaluasi kedua adalah aspek psikososial dan talenta. Setiap siswa memiliki kartu talenta yang dipetakan sejak awal. Pendekatan ini menjadi ciri khas Sekolah Rakyat. Sebab, pendidikan tidak dimulai dari nilai akademik, melainkan dari potensi anak. ”Tidak semata-mata akademik. Talenta justru menjadi pintu masuk pengembangan,” tegas Nuh.

Pendekatan berbasis talenta itu mulai menunjukkan hasil konkret. Salah satunya dialami Azril, siswa yang semula tidak bisa membaca dan menulis. Setelah didampingi sesuai peta potensinya, Azril kini mampu membaca, menulis, bahkan menembus peringkat tiga besar di kelas.

Evaluasi ketiga adalah capaian akademik. Meski bukan satu-satunya tolok ukur, hasil belajar tetap menjadi indikator penting. Ketiga pilar tersebut nantinya diukur menggunakan metode Social Return on Investment (SROI), bukan sekadar Return on Investment (ROI). Hasil evaluasi ditargetkan diumumkan ke publik pada akhir Januari. ”Ini investasi sosial. Yang dinilai bukan untung-rugi, tapi nilai sosial yang dihasilkan,” jelas Nuh.

Menteri Sosial Saifullah Yusuf menyebut, hingga akhir tahun ini Sekolah Rakyat telah berjalan di 166 titik di berbagai daerah. Sejak Juli hingga September, jumlah lokasi bertambah secara bertahap. Menurutnya, proses belajar-mengajar mulai menunjukkan hasil, terutama dalam pemetaan bakat siswa. ”Tidak ada tes akademik di awal. Yang ada cek kesehatan dan tes DNA Talenta berbasis kecerdasan buatan,” kata Gus Ipul.

Hasil pemetaan talenta tersebut menjadi dasar hilirisasi pendidikan. Lulusan Sekolah Rakyat diarahkan melanjutkan ke perguruan tinggi, menjadi tenaga kerja terampil, atau berwirausaha. Pemerintah telah menjalin kerja sama dengan Kementerian Pendidikan Tinggi, termasuk skema lanjutan dengan LPDP untuk mendukung akses pendidikan tinggi baik di dalam atau luar negeri. Kerja sama juga dibangun dengan sejumlah perguruan tinggi swasta untuk memperluas pilihan jalur pendidikan bagi lulusan Sekolah Rakyat. 

Sekolah Rakyat juga akan diperkuat dari sisi infrastruktur. Tahun depan, pemerintah menargetkan pembangunan 104 gedung permanen Sekolah Rakyat di berbagai kabupaten dan kota, termasuk Surabaya. Selama ini, seluruh Sekolah Rakyat masih menggunakan gedung sementara. Kendala awal seperti sarana prasarana, air bersih, listrik, hingga internet disebut sudah teratasi. Evaluasi akhir Januari mendatang akan menjadi dasar perluasan dan penyempurnaan program secara nasional. (*)

Editor : Eri Mardinal