Sebagai produsen pupuk terbesar ketujuh di dunia, Pupuk Indonesia memiliki kapasitas produksi dan cadangan stok bahan baku yang memadai untuk memastikan keberlanjutan pasokan bagi petani.
"Pupuk Indonesia berkomitmen menjalankan mandat pemerintah untuk memastikan ketersediaan dan keterjangkauan pupuk bagi petani. Di tengah dinamika geopolitik yang terjadi, kami memastikan pasokan pupuk nasional tetap aman sehingga petani dapat terus menanam, tanpa perlu khawatir terhadap ketersediaan pupuk," ujar Sekretaris Perusahaan Pupuk Indonesia, Yehezkiel Adiperwira.
Menurutnya, saat ini kapasitas produksi Pupuk Indonesia Grup mencapai 14,5 juta ton per tahun untuk berbagai jenis pupuk. Khusus pupuk urea, kapasitas produksi nasional mampu memenuhi seluruh kebutuhan domestik.
Produksi urea juga memiliki tingkat kemandirian yang tinggi karena bahan baku utamanya berupa gas bumi dapat dipenuhi dari dalam negeri dengan pasokan dan harga yang sudah diatur pemerintah.
Dengan demikian, eskalasi konflik di Selat Hormuz—jalur distribusi urea global—tidak berdampak langsung terhadap pasokan urea nasional.
“Pupuk Indonesia merupakan produsen urea terbesar di kawasan Asia Pasifik, Timur Tengah, dan Afrika Utara. Dengan kapasitas produksi yang kuat tersebut, kami memiliki kemampuan untuk menjaga pasokan pupuk tetap optimal bagi petani Indonesia," tambah Yehezkiel.
Selain kapasitas produksi, Pupuk Indonesia juga memperkuat ketahanan rantai pasok melalui diversifikasi sumber bahan baku strategis yang masih diimpor. Beberapa bahan baku, seperti fosfat (P) dan kalium (K), tidak tersedia secara alami di Indonesia dan menjadi komponen penting dalam produksi pupuk NPK.
Pasokan fosfat saat ini diperoleh dari negara-negara Afrika Utara, antara lain Maroko, Tunisia, dan Aljazair.
Sementara kalium dipasok dari Kanada dan Laos, sehingga risiko gangguan akibat konflik Timur Tengah dapat diminimalkan.
Bahan baku lain yang berpotensi terdampak langsung oleh eskalasi konflik adalah sulfur (S), yang sebagian berasal dari Uni Emirat Arab, Qatar, dan Kuwait.
Meski demikian, pasokan sulfur juga tersedia dari negara lain, seperti Kanada, sehingga risiko gangguan dapat diantisipasi.
Pupuk Indonesia juga memperkuat manajemen stok bahan baku dengan menjaga ketersediaan fosfat, kalium, dan sulfur pada tingkat yang mencukupi untuk mendukung produksi.
Langkah ini sekaligus menjadi antisipasi terhadap potensi kenaikan biaya logistik akibat meningkatnya harga minyak dunia.
Dengan dukungan kapasitas produksi yang kuat, diversifikasi sumber bahan baku, serta manajemen stok yang andal, Pupuk Indonesia optimistis dapat menjaga stabilitas pasokan pupuk nasional.
“Fokus utama kami tetap memastikan kebutuhan pupuk dalam negeri terpenuhi dengan optimal," pungkasnya.(*)
Editor : Heri Sugiarto