PADEK.JAWAPOS.COM-Serikat Perusahaan Pers (SPS) menegaskan media pers harus kembali mengedepankan akurasi, kedalaman, dan integritas informasi di tengah derasnya arus informasi digital dan dominasi algoritma media sosial.
Penegasan tersebut disampaikan dalam momentum World Press Freedom Day 2026 yang berlangsung di Aula Lukman Kantor Gubernur Papua pada 4-5 Mei 2026.
SPS menilai fenomena saat ini menunjukkan semakin banyak media, termasuk media cetak, mulai mengadopsi pola kerja media sosial dengan mengejar viralitas, klik, dan algoritma.
Menurut SPS, pendekatan tersebut berisiko mengikis esensi jurnalisme.
Dalam pandangan yang dirujuk SPS, Ketua Dewan Pers 2016-2019 Yosef Adi Prasetyo menegaskan media tidak seharusnya larut dalam kegaduhan media sosial.
Pria yang akrab disapa Stanley itu menyebut pers bukan content creator, melainkan institusi publik yang bekerja dengan verifikasi, disiplin etik, dan tanggung jawab sosial.
“Ketika media mengejar viralitas, yang terjadi adalah penurunan kualitas dan hilangnya kepercayaan publik,” ujarnya.
SPS menegaskan peran utama media saat ini justru semakin strategis sebagai clearing house atau penjernih informasi di tengah banjir hoaks dan disinformasi.
Media disebut harus memverifikasi informasi, memberikan konteks, dan menjadi rujukan publik, bukan sekadar mengikuti arus distribusi informasi yang bising.
SPS juga menyoroti pengalaman di berbagai negara Eropa dan kawasan eks Uni Soviet yang menunjukkan media tetap bertahan bukan karena menjadi yang tercepat, tetapi karena menjadi yang paling dipercaya.
Momentum World Press Freedom Day 2026 disebut menjadi refleksi penting bagi masa depan pers Indonesia, khususnya dalam menjaga kualitas informasi di tengah kompleksitas sosial dan pembangunan daerah.
Ketua KTP2JB, Dr. Suprapto, mengatakan pers memiliki tanggung jawab strategis dalam menjaga keseimbangan informasi publik.
“Di tengah derasnya arus informasi, pers harus tetap berdiri sebagai penyeimbang—memberikan informasi yang jernih, akurat, dan dapat dipercaya. Tanpa itu, ruang publik akan dipenuhi kebisingan tanpa arah,” ungkapnya.
Sementara itu, Gubernur Papua Komjen Pol Purn Mathius Derek Fakhiri menekankan pentingnya peran pers dalam menjaga harmoni sosial dan keadilan pembangunan di daerah.
“Papua membutuhkan pers yang mampu menghadirkan realitas secara utuh bukan memperkeruh, tetapi menjernihkan. Pers yang berkualitas adalah mitra strategis dalam membangun kepercayaan dan keadilan bagi masyarakat,” ujarnya.
Dalam World Press Freedom Day 2026, SPS kembali menegaskan media pers tidak perlu bersaing dengan media sosial dalam kecepatan dan sensasi.
Media pers disebut harus kembali pada kedalaman, akurasi, dan kepatuhan terhadap kode etik jurnalistik.
“Kebebasan pers adalah fondasi. Namun kualitas, etika, dan kepercayaan adalah tujuan. Tanpa itu, pers kehilangan relevansi di tengah masyarakat,” pungkas Yosef Adi Prasetyo.(*)
Editor : Heri Sugiarto