Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Presiden Prabowo di KTT ASEAN: Pangan adalah Fondasi Kedaulatan Negara

Heri Sugiarto • Minggu, 10 Mei 2026 | 16:55 WIB
Presiden Prabowo Subianto menyampaikan pidato mengenai ketahanan pangan pada sesi pleno KTT ASEAN ke-48 di Cebu, Filipina.(Foto: BPMI Setpres)
Presiden Prabowo Subianto menyampaikan pidato mengenai ketahanan pangan pada sesi pleno KTT ASEAN ke-48 di Cebu, Filipina.(Foto: BPMI Setpres)

PADEK.JAWAPOS.COM-Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menegaskan bahwa ketahanan pangan merupakan faktor penentu kedaulatan, stabilitas, dan keberlangsungan sebuah negara.

Berbicara pada sesi pleno Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN ke-48 di Cebu, Jumat (8/5), Presiden menekankan bahwa pangan bukan sekadar komoditas ekonomi, melainkan elemen dasar penopang kehidupan bangsa.

Dalam pidatonya, Presiden menjelaskan bahwa negara berkewajiban hadir secara kuat dalam memastikan ketersediaan pangan warganya. Ia menggarisbawahi bahwa krisis pangan global, perubahan iklim, dan ancaman El Nino ekstrem menjadi tantangan nyata bagi kawasan Asia Tenggara.

“Tanpa pangan, pada dasarnya tidak ada masyarakat. Tanpa pangan, tidak ada kemerdekaan. Tanpa pangan, tidak ada kedamaian,” ujar Presiden Prabowo.

Presiden Prabowo menekankan bahwa sektor pertanian dan pangan tidak boleh dipandang hanya sebagai urusan pasar. Menurutnya, pemerintah harus menjadi aktor utama dalam memastikan ketahanan pangan nasional.

“Pertanian terlalu penting. Ketahanan pangan itu penting. Bagi kami, ini adalah tanggung jawab utama pemerintah, dan pemerintah Indonesia bertekad mengambil tanggung jawab penuh serta kedaulatan penuh atas sektor vital ini,” tegasnya.

Ia juga menolak anggapan bahwa sektor pertanian bisa sepenuhnya diserahkan kepada mekanisme bisnis swasta.

“Ketahanan pangan adalah tentang kepemimpinan pemerintah dan intervensi pemerintah. Indonesia tidak percaya bahwa pertanian hanya boleh diserahkan kepada sektor swasta,” ujarnya.

Dalam forum negara-negara Asia Tenggara tersebut, Presiden Prabowo mengingatkan bahwa prediksi cuaca ekstrem akibat perubahan iklim dapat mengganggu produksi pangan kawasan.

Organisasi internasional telah memberi peringatan mengenai potensi El Nino ekstrem yang dapat memicu penurunan hasil pertanian.

“Kita telah diperingatkan mengenai risiko El Nino ekstrem yang mengintai di depan kita. Dalam situasi ini, ketahanan pangan menjadi semakin mendesak,” kata Presiden Prabowo.

Di hadapan para pemimpin ASEAN, Presiden mendorong peningkatan sinergi regional dalam pengembangan teknologi pertanian, diversifikasi komoditas pangan, serta penguatan cadangan pangan melalui skema ASEAN Plus Three Emergency Rice Reserve (APTERR).

“Ini bukan tantangan yang dapat ditangani oleh satu negara saja. ASEAN harus bertindak bersama,” ucapnya.

Presiden juga menekankan perlunya setiap negara memperkuat cadangan pangan lokal untuk menghadapi potensi krisis global di masa depan.

“Kita harus memajukan cadangan pangan berbasis lokal kita,” pungkasnya.

Sejalan dengan arahan Presiden, Kementerian Pertanian yang dipimpin oleh Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman terus mempercepat berbagai langkah strategis untuk memperkuat ketahanan pangan nasional.

Program peningkatan produksi, optimalisasi lahan pertanian, hingga dukungan pembiayaan bagi petani menjadi fokus utama pemerintah untuk memastikan Indonesia tetap tangguh menghadapi krisis pangan dunia.(*)

Editor : Heri Sugiarto
#KTT ASEAN ke-48 #krisis pangan global #El Nino ekstrem #ketahanan pangan #prabowo subianto