Meskipun melambat dari 20,6% pada Januari dan 25,5% pada Desember, inflasi tahunan hingga Februari tetap tinggi di 276,2%. Hal ini menyebabkan daya beli masyarakat melemah dan meningkatkan kemiskinan.
Negara di Amerika Selatan ini sedang mengalami krisis ekonomi terburuk dalam beberapa dekade terakhir.
Pemerintahan baru yang dipimpin oleh Javier Milei yang libertarian berusaha menekan inflasi tiga digit dengan melakukan penghematan yang ketat, sebuah langkah yang meningkatkan keuangan negara, namun sangat menekan masyarakat.
Masyarakat Argentina merasakan dampak inflasi yang tinggi. Ines Ambrosini, seorang pembeli di pasar grosir, mengatakan bahwa harga makanan sangat tinggi. "Semuanya membutuhkan banyak uang," keluhnya.
Sandra Boluch, seorang penjual buah-buahan dan sayur-sayuran di sebuah pasar di Buenos Aires, mengatakan dia melihat tren yang mengkhawatirkan ketika inflasi melonjak: penurunan penjualan dan semakin banyak orang yang memulung barang-barang yang ia buang, dengan harapan mendapatkan cukup makanan.
Kemiskinan di Argentina diprediksi mencapai 60%, dan Unicef memperingatkan bahwa kemiskinan anak bisa mencapai 70% pada kuartal pertama tahun ini.
Presiden Milei telah menerapkan beberapa langkah untuk memerangi inflasi, seperti pemotongan belanja negara, menargetkan subsidi, dan menyederhanakan program kesejahteraan.
Pemerintah juga mendevaluasi peso lebih dari 50% pada Desember, yang menyebabkan harga-harga melonjak lebih cepat.
Milei memperingatkan bahwa bulan Maret bisa menjadi "rumit" karena sinyal ekonomi yang suram. Penjualan, aktivitas, dan produksi mengalami penurunan.
Hujan lebat di Argentina juga membuat tanah menjadi terlalu basah di kawasan pertanian utama, yang dapat mempersulit panen kedelai pada tahun 2023/24.
Hujan lebat menyebabkan banjir di beberapa bagian Buenos Aires dan mengganggu panen kedelai.
Namun, Menteri Pertanian Fernando Vilella mengatakan bahwa hujan masih mendukung pertumbuhan kedelai.
Curah hujan yang melimpah baik untuk penanaman gandum, yang dimulai pada bulan Mei.(rtr)