PADEK.JAWAPOS.COM-Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) kembali harus menghentikan pergerakan bantuan di Gaza, Palestina. Keputusan itu terpaksa diambil karena militer Israel (IDF) mengeluarkan perintah evakuasi baru untuk daerah Deir al-Balah.
Wilayah itu selama ini menjadi pusat bagi para pekerja PBB untuk mendistribusikan bantuan. Dilansir dari The Guardian, seorang pejabat senior PBB menyebut, mereka telah merelokasi sebagian besar personelnya dalam operasi itu.
Meski begitu, mereka berupaya agar dapat terus mengintegrasikan bantuan dengan penduduk setempat. “PBB tetap melanjutkan operasinya, meskipun dengan pembatasan,” jelas Stéphane Dujarric, juru bicara Sekjen António Guterres.
Perintah evakuasi terbaru dikeluarkan Israel untuk warga Gaza bagian selatan Khan Younis dan wilayah tengah, termasuk Deir el-Balah. Separo penduduk di wilayah tersebut telah mengungsi lebih dari satu kali.
Dalam beberapa kasus, jumlahnya mencapai tiga atau lima kali. Dalam satu kasus, satu keluarga tertentu telah mengungsi sepuluh kali. Kondisi itu membuat warga trauma. Mengingat perintah dan pengusiran paksa itu sering kali menyesatkan dan kontradiktif.
Warga diminta berlindung ke zona yang disebut aman, setelah itu IDF justru mengintensifkan serangan di wilayah aman tersebut.
Koalisi Desak Netanyahu Balas Hizbullah
Terpisah, PM Israel Benjamin Netanyahu didorong untuk makin mengintensifkan serangan di Lebanon. Hal itu menyusul serangan balasan 320 roket Hizbullah ke Israel pada Minggu (25/8).
Dilansir dari The Guardian, dorongan kepada Netanyahu itu berasal dari sayap kanan koalisi yang terpecah belah. Koalisi tersebut memang menghadapi berbagai dinamika yang membuat mereka terpecah, terutama karena kebijakan situs suci Al Aqsa di Yerusalem.
Menteri keamanan nasional sayap kanan Netanyahu, Itamar Ben-Gvir, merupakan salah satu yang paling memprovokasi agar Israel terus melawan Hizbullah. Israel tidak boleh puas dengan satu serangan awal.
“Kita harus melancarkan perang yang menentukan melawan Hizbullah yang akan menyingkirkan ancaman di wilayah utara dan memungkinkan penduduk untuk kembali ke rumah dengan selamat,” ujarnya.
Netanyahu saat ini terus disalahkan dari berbagai sisi. Selain dianggap tidak mampu menjaga keamanan dalam negeri, dia juga terus ditumbalkan secara politik dari kubu tengah maupun kanan.
Beberapa kritikus menyebut Israel terus diserang, tetapi Netanyahu tidak melakukan apa pun. Wilayah Israel Utara menjadi lokasi yang paling banyak disasar oleh Hizbullah.
Hal itu membuat sekitar 80 ribu penduduk di perbatasan utara sulit untuk kembali ke rumah. Beberapa warga bahkan menuduh koalisi pemerintah hanya memprioritaskan pertahanan Israel Tengah, tetapi tidak di bagian utara.
Ben Caspit, seorang kolumnis di surat kabar Maariv yang berhaluan kanan-tengah, bahkan menyebut Netanyahu memilih opsi militer yang paling hati-hati yang diberikan kepadanya oleh para jenderalnya.
Dia menuding Netanyahu juga bertanggung jawab karena Israel telah “dipermalukan” oleh Hizbullah. (dee/c17/bay/jpg)
Editor : Novitri Selvia