Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Ibu Kota Pakistan Lockdown: Internet Dimatikan, Ribuan Aparat Dikerahkan, Jalanan Diblokade

Heri Sugiarto • Senin, 25 November 2024 | 21:51 WIB

Seorang tentara berjaga ketika pengendara sepeda motor melaju di jalan raya, yang sebagian ditutup kontainer menjelang unjuk rasa para pendukung Imran Khan. (Foto: AP)
Seorang tentara berjaga ketika pengendara sepeda motor melaju di jalan raya, yang sebagian ditutup kontainer menjelang unjuk rasa para pendukung Imran Khan. (Foto: AP)
PADEK.JAWAPOS.COM-Ibu kota Pakistan, Islamabad, ditutup total (lockdown) disertai pemadaman internet, blokade jalan raya, dan pengerahan ribuan aparat keamanan.

Tindakan yang dilakukan sejak Jumat (22/11/2024) tersebut untuk mencegah protes massal dari pendukung mantan Perdana Menteri Imran Khan yang ditangkap pada Agustus 2023.

Sebelumnya Imran Khan memerintah hingga 2022, sebelum pemerintahannya tumbang akibat konflik dengan kepala militer yang berpengaruh.

Kebijakan pemerintah melakukan lockdown, dilakukan setelah Khan menyampaikan seruan kepada pendukungnya untuk turun ke jalan menuntut pembebasannya, memprotes perubahan terbaru pada sistem peradilan dan konstitusi.

Khan, yang menghadapi banyak tuduhan hukum, menuding bahwa penahanannya adalah bagian dari agenda politik pemerintah dan militer untuk menjauhkan dirinya dari kekuasaan.

Dia juga mengklaim adanya kecurangan besar-besaran dalam pemilu Februari lalu, di mana partainya, Pakistan Tehreek-e-Insaf (PTI), mengklaim memenangkan suara mayoritas. PTI kini menuntut diadakannya pemilu yang bebas dan adil.

Ibu Kota Siaga Tinggi

Sejak Jumat, puluhan ribu pendukung PTI dari berbagai daerah mulai bergerak menuju Islamabad. Mereka mengindahkan seruan Khan dari dalam penjara.

Pemerintah koalisi yang dipimpin Perdana Menteri Shehbaz Sharif dari Pakistan Muslim League Nawaz (PML-N) telah dituding melakukan tindakan keras untuk membendung protes ini. 

Blokade jalan dilakukan di berbagai wilayah. Akses internet, termasuk layanan pesan seperti WhatsApp, diblokir di Punjab, Sindh, dan Khyber Pakhtunkhwa.

Pengawas internet global NetBlocks mengatakan di X, bahwa metrik langsung menunjukkan layanan pesan WhatsApp telah dibatasi sebelum protes.

NetBlocks mengatakan pihak berwenang juga memberlakukan larangan pada platform media sosial dan menargetkan layanan VPN.

Bulan lalu, menurut laporan Al Jazeera, pihak berwenang menghentikan layanan telepon seluler di Islamabad dan Rawalpindi untuk menggagalkan demonstrasi pro-Khan.

Pemutusan layanan ini mengganggu komunikasi dan memengaruhi layanan sehari-hari seperti perbankan, transportasi daring, dan pengiriman makanan.

Ibu kota dijaga ketat dengan penghalang seperti kontainer dan blokade di area "zona merah", yang mencakup gedung-gedung parlemen.

Menurut PTI, polisi menggunakan gas air mata dan pentungan untuk menghentikan para pendukung yang bergerak ke Islamabad.

Hingga kini, lebih dari 5.000 pendukung dan pemimpin PTI, terutama dari Khyber Pakhtunkhwa, telah ditangkap. Para pendukung PTI membalas dengan melemparkan batu dan membakar kendaraan polisi.  

Pernyataan Pemimpin PTI dan Keluarga

Istri Khan, Bishra Bibi, yang baru-baru ini dibebaskan dari penjara, ikut dalam pawai dan menyatakan komitmennya untuk terus berjuang.

“Sampai Imran bersama kami, kami tidak akan berhenti. Saya akan bertahan hingga napas terakhir, dan kalian semua harus mendukung saya,” ujarnya seperti dilansir dari The Guardian, Senin (25/11/2024).  

Shaikh Waqas Akram, Sekretaris Informasi PTI, mengungkapkan lebih dari 70.000 orang dari Khyber Pakhtunkhwa telah bergerak menuju Islamabad.

Ia mengecam tindakan polisi yang menggunakan peluru karet dan gas air mata kedaluwarsa terhadap pengunjuk rasa damai.

“Kami siap sepenuhnya. PTI telah menyiapkan truk dengan kipas besar untuk menghalau gas air mata," kata Akram.

Meski demikian, ia memperkirakan pawai baru mencapai Islamabad dalam satu atau dua hari lagi, tergantung pada hambatan yang dihadapi.

Akram juga mengklaim bahwa pihak militer telah meminta pertemuan dengan Khan di penjara Adiala, Rawalpindi, untuk membujuknya menghentikan pawai.

Namun, PTI tetap bersikeras bahwa tuntutan utama mereka, termasuk pembebasan Khan dan tahanan politik lainnya, harus dipenuhi.(*)

Editor : Heri Sugiarto
#krisis politik Pakistan #islamabad #pakistan lockdown #Internet Diblokir #imran khan #Jalan raya diblokade #Shehbaz Sharif