Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Trump Tunda Tarif Resiprokal, Pasar Saham Langsung Hijau: Khusus Tiongkok Naik Lagi Menjadi 125 Persen

jpg • Jumat, 11 April 2025 | 11:45 WIB

Donald Trump Resmi dilantik sebagai Presiden Amerika ke-47  / CBS News
Donald Trump Resmi dilantik sebagai Presiden Amerika ke-47 / CBS News

PADEK.JAWAPOS.COM-Presiden AS Donald Trump menunda penerapan kebijakan tarif resiprokal. Penundaan itu berlaku selama 90 hari dan ditujukan untuk puluhan negara yang menjadi mitra dagang AS.

Trump menjelaskan, kebijakan itu diambil karena negara-negara yang terdampak menjadi gelisah dan takut. “Kami memutuskan mengambil tindakan dan kami melakukannya hari ini,” ujar Trump, dilansir dari CBS.

Selain itu, penundaan dilakukan karena banyak negara memiliki niat baik untuk berunding dengan AS. Meski begitu, kebijakan itu tidak berlaku untuk Tiongkok. Beijing justru dikenakan kenaikan tarif impor dari 104 persen menjadi 125 persen.

Trump punya alasan sendiri mengenai kebijakan itu. “Karena kurangnya rasa hormat Tiongkok pada pasar dunia, dengan ini saya menaikkan tarif untuk Tiongkok menjadi 125 persen, berlaku segera,” kata Trump via Instagram.

“Suatu saat, mudah-mudahan dalam waktu dekat, Tiongkok akan menyadari bahwa hari-hari menipu AS dan negara-negara lain, tidak dapat diterima,” imbuhnya.

Penundaan tarif resiprokal itu direspons positif oleh bursa global. Indeks S&P 500 melonjak 9,5 persen. Lonjakan itu terbesar dalam satu hari sejak 2008.

Pergerakan terbaru itu mengakhiri minggu penuh gejolak yang dimulai ketika Trump mengejutkan dunia dengan mengumumkan kenaikan tarif impor.

Sementara itu, kemarin Tiongkok resmi memberlakukan tarif balasan sebesar 84 persen terhadap berbagai produk asal Amerika Serikat.

Dilansir The Guardian, juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok Lin Jian menegaskan bahwa Beijing tidak sedang balas dendam pada AS.

Kementerian Perdagangan Tiongkok bahkan menyatakan bahwa pintu dialog sejatinya masih terbuka. Pihaknya berharap ada jalan tengah guna menyelesaikan masalah itu.

Pengamat hubungan internasional dari Universitas Padjajaran Teuku Rezasyah menilai, waktu 90 hari ini harus dimanfaatkan dengan baik oleh Indonesia.

“Kita tidak boleh hanya wait and see. Kita jangan terlena karena bagaimanapun ini menyakut hidup-mati bangsa,” jelasnya, Kamis (10/4).

Pengiriman tim negosiasi ke AS harus berlanjut. Penundaan ini, menurut dia, bisa jadi lantaran kondisi dalam negeri AS belum siap menerima kebijakan Trump yang tergesa-gesa.

IHSG Ikut Terkerek

Keputusan Trump menunda tarif resiprokal berimbas juga pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Hingga penutupan perdagangan kemarin, IHSG naik 4,79 persen atau 286,04 poin ke level 6.254,024.

Chief Economist Bank Mandiri Andry Asmoro menilai, pasar merespons positif pengumuman Trump tersebut. Apalagi, Trump juga membuka ruang negosiasi ulang dengan negara-negara mitranya, termasuk Tiongkok.

“Karena penangguhan tarif sementara meredakan kekhawatiran akan eskalasi langsung dalam perang dagang global,” ucapnya kepada Jawa Pos (grup Padang Ekspres).

Andry juga mencermati perkembangan pasar obligasi dan nilai tukar. Imbal hasil obligasi pemerintah Indonesia tenor 10 tahun naik 5,5 bps menjadi 7,14 persen. Sedangkan yield obligasi global dalam USD (INDON) naik lebih tajam, sebesar 26,2 bps ke 5,63 persen.

Rupiah tercatat masih belum beranjak dari level Rp 16.800-an per USD. Merujuk Bloomberg Market Spot Rate, nilai tukar rupiah ditutup di angka Rp 16.823 per USD hingga pukul 17.00.

Melemah 49,50 poin atau minus 0,29 persen. “Nilai tukar rupiah terhadap USD diperkirakan masih bergerak dalam kisaran Rp 16.831 hingga Rp 16.933,” terangnya.

Senior Economist DBS Bank Radhika Rao berharap pemerintah dapat membuat kebijakan untuk meningkatkan permintaan dalam negeri di tengah situasi ekonomi global yang kacau.

Bank Indonesia (BI) memiliki ruang untuk menurunkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin (bps). “Tentu dengan memperhatikan volatilitas rupiah,” ujarnya.

Radhika mengapresiasi upaya pemerintah bernegosiasi untuk mencapai beberapa kompromi. “Analisis dampak kami menunjukkan adanya efek lanjutan terhadap pertumbuhan sebesar 0,5 persen dari PDB (produk domestik bruto) Indonesia, dengan dampak lanjutan dari melambatnya pertumbuhan global,” ungkap Radhika. (mia/dee/lyn/han/oni/jpg)

Editor : Novitri Selvia
#donald trump #tarif resiprokal #Perang Dagang Amerika-Tiongkok #Lin Jian