Dalam pidatonya, Puan menyampaikan bahwa secara global jumlah perempuan mencapai 4,09 miliar jiwa atau sekitar 49,7% dari total populasi dunia. Ia menyebut perempuan sebagai konsumen paling kuat dalam dunia ekonomi dan berperan penting dalam berbagai sektor.
“Hampir setengah dari 280 juta penduduk Indonesia adalah perempuan. Banyak perempuan yang telah berkontribusi terhadap kemajuan signifikan bagi Indonesia,” ujar Puan.
Konferensi ini digelar oleh mahasiswa CSU dengan dukungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan dihadiri oleh President CSU Sacramento Dr. Luke Wood serta para mahasiswa lintas disiplin ilmu.
Delegasi Indonesia yang hadir mendampingi Puan antara lain Ketua Komisi V DPR Lasarus, Wakil Ketua Komisi VII DPR Evita Nursanty, hingga Anggota Komisi VI DPR Mufti Anam.
Mengawali pidatonya, Puan mengapresiasi sambutan hangat dari tuan rumah. “Atas nama delegasi Indonesia, perkenankan saya menyampaikan penghargaan setinggi-tingginya kepada Sacramento State University atas keramahannya,” katanya.
Puan juga memaparkan sejarah keterlibatan perempuan dalam politik Indonesia. Ia menyoroti Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 yang mewajibkan partai politik memiliki minimal 30% keterwakilan perempuan.
“Selama periode 2019–2024, proporsi perempuan di parlemen meningkat dari 17,3% menjadi 21,39%,” ungkapnya.
Ia juga menyinggung keterlibatan perempuan dalam kepemimpinan nasional, seperti Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri dan dirinya sebagai Ketua DPR RI perempuan pertama dalam sejarah Indonesia.
“Kesetaraan gender mengakui bahwa hak politik, sosial, ekonomi, dan budaya laki-laki dan perempuan adalah sama,” tegas Puan.
Dalam pidatonya, Puan turut menyoroti tantangan global saat ini, mulai dari perubahan iklim, krisis ekonomi, hingga konflik geopolitik.
Ia menyebut pentingnya membangun ketangguhan global yang mampu beradaptasi dan pulih dari berbagai krisis.
“Kita harus memiliki ketangguhan, mampu bertransformasi sesuai dengan konteks lokal yang unik,” katanya.
Puan juga menyerukan pentingnya kerja sama antarnegara untuk menciptakan tatanan dunia yang adil dan bebas dari dominasi maupun eksploitasi.
“Setiap negara membutuhkan kerja bersama antarbangsa untuk membangun tatanan dunia yang lebih baik,” ujarnya.
Menurut Puan, perempuan memiliki perspektif unik yang dapat memperkaya proses diplomasi dan kebijakan publik.
“Partisipasi perempuan dalam pengambilan keputusan akan menghasilkan pemulihan dan tata dunia yang lebih baik,” jelasnya.
Ia menambahkan, konstruksi sosial masih menjadi hambatan bagi perempuan untuk maju. Sebagai Ketua DPR, Puan menyatakan komitmen Indonesia dalam forum-forum internasional seperti P20 dan forum parlemen lainnya untuk memperjuangkan kesetaraan gender.
“Kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan merupakan kunci untuk kemajuan umat manusia,” kata Puan.
Sementara itu, President CSU Sacramento Dr. Luke Wood mengaku bangga atas kehadiran Puan. “Rekam jejak Ibu Ketua DPR sebagai perempuan pertama yang memimpin parlemen Indonesia menunjukkan semangat demokrasi yang kuat. Kami merasa kagum,” ucapnya.(*)
Editor : Hendra Efison