Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Thailand Tolak Dialog Selama Bentrokan Belum Berakhir, Kamboja Desak PBB Gelar Sidang Darurat

Heri Sugiarto • Kamis, 24 Juli 2025 | 20:36 WIB

Dalam foto yang dirilis oleh Angkatan Darat Kerajaan Thailand pada Juli 2025 ini, tentara Thailand sedang memeriksa wilayah perbatasan di Provinsi Ubon Ratchathani. (Foto: AP)
Dalam foto yang dirilis oleh Angkatan Darat Kerajaan Thailand pada Juli 2025 ini, tentara Thailand sedang memeriksa wilayah perbatasan di Provinsi Ubon Ratchathani. (Foto: AP)
PADEK.JAWAPOS.COM-Perdana Menteri sementara Thailand, Phumtham Wechayachai, menegaskan bahwa tidak akan ada pembicaraan damai sebelum bentrokan bersenjata dengan Kamboja benar-benar dihentikan.

Dalam konferensi pers pada Kamis (24/7) malam, Phumtham menyatakan bahwa Kamboja telah menembakkan senjata berat ke wilayah Thailand tanpa target spesifik, termasuk ke kawasan permukiman sipil, yang menyebabkan 10 warga sipil dan 1 tentara tewas, serta melukai sedikitnya 24 warga sipil dan 4 prajurit.

“Tidak ada deklarasi perang dari pihak Thailand. Kamboja yang memulai serangan, dan kami hanya bertindak dalam kerangka pertahanan diri demi melindungi kedaulatan negara,” ujarnya.

Phumtham juga mengungkapkan bahwa bentrokan telah menyebar ke empat provinsi Thailand, yaitu Ubon Ratchathani, Sisaket, Surin, dan Buriram, namun belum meluas ke provinsi lain.

Pemerintah Thailand telah mengevakuasi warga dari zona konflik dan menutup seluruh sekolah di wilayah terdampak.

“Kami tidak akan memulai negosiasi apa pun sampai Kamboja menghentikan serangan,” tegas Phumtham, dilansir Al Jazeera.

Sebelumnya, dalam konferensi pers terpisah, Menteri Kesehatan Thailand Somsak Thepsuthin menyatakan bahwa total korban tewas mencapai 12 orang dan 31 lainnya terluka, termasuk anak-anak.

Masih ada perbedaan angka antara laporan instansi, dan otoritas tengah melakukan verifikasi lebih lanjut.

Minta Hentikan Tindakan Provokatif

Sementara itu, Perdana Menteri Kamboja Hun Manet menuduh Thailand sebagai pihak yang memicu konflik dan menyebut serangan udara Thailand sebagai “agresi militer brutal”.

Kamboja juga telah meminta pertemuan darurat Dewan Keamanan PBB dan mendesak Thailand menghentikan seluruh tindakan provokatif di perbatasan.

Hun Manet mengimbau seluruh warga Kamboja untuk tidak melakukan tindakan diskriminatif atau merugikan terhadap entitas yang berkaitan dengan Thailand.

Dalam pernyataan resmi yang dipublikasikan melalui akun Facebook-nya, Hun Manet menegaskan agar masyarakat tidak melakukan aksi apa pun yang dapat berdampak negatif terhadap Kedutaan Besar Thailand di Phnom Penh, perusahaan Thailand, maupun warga negara Thailand yang tinggal dan bekerja di Kamboja.

Ia juga meminta warga Kamboja yang tinggal, bekerja, atau belajar di Thailand untuk kembali ke tanah air jika merasa menghadapi tekanan atau diskriminasi.

Warga tersebut diminta untuk menghubungi perwakilan resmi pemerintah Kamboja di Thailand agar bisa mendapatkan bantuan dan perlindungan.

Sementara itu, sebagai respons terhadap bentrokan bersenjata yang terjadi sejak Kamis pagi, pemerintah Thailand telah menutup seluruh pos lintas batas dengan Kamboja, termasuk di Distrik Kap Choeng, Provinsi Surin, yang menjadi titik terdampak utama konflik.(*)

Editor : Heri Sugiarto
#thailand #Thailand menolak dialog #konflik Thailand Kamboja #Phumtham Wechayachai #Hun Manet #kamboja #perang Thailand dan Kamboja #sidang darurat PBB