Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Forum Dialog Hijau CAEXPO–CABIS 2025 Bahas Sawit Berkelanjutan dan Ekspor ke China

Heri Sugiarto • Jumat, 19 September 2025 | 19:34 WIB

Suasana Forum Dialog Hijau Indonesia–China di CAEXPO–CABIS 2025 Guangxi, fokus pada hilirisasi sawit dan praktik pertanian ramah lingkungan.(Foto: IST)
Suasana Forum Dialog Hijau Indonesia–China di CAEXPO–CABIS 2025 Guangxi, fokus pada hilirisasi sawit dan praktik pertanian ramah lingkungan.(Foto: IST)
PADEK.JAWAPOS.COM-Indonesia menggelar Dialogue For China’s Green Policy II Indonesia di sela pameran CAEXPO–CABIS 2025 di Nanning International Convention and Exhibition Center (NICEC), Guangxi.

Forum ini membahas strategi penguatan ekspor sawit ke China, hilirisasi, inovasi teknologi, serta komitmen pada praktik pertanian berkelanjutan.

Acara ini menghadirkan berbagai tokoh penting dari sektor sawit nasional dan internasional. Di antaranya, Wakil Ketua Komite Konferensi Konsultatif Politik Rakyat Tiongkok Daerah Otonomi Zhuang Guangxi, Huang Junhua, yang menekankan pentingnya hubungan Indonesia–China, serta Wakil Direktur Jenderal Kantor Anti-Penyelundupan Guangxi, Fu Jinming.

Kegiatan tersebut diinisiasi oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) yang aktif mengampanyekan sawit berkelanjutan.

Dalam paparannya, Miftah Farid, Direktur Pengembangan Ekspor Produk Primer Kementerian Perdagangan sekaligus keynote speaker, menegaskan pentingnya peran China dalam peta ekspor sawit Indonesia.

“Pada semester I 2025, China menjadi negara tujuan utama ekspor minyak sawit Indonesia dengan volume sekitar 1,74 juta ton atau 14% dari total ekspor nasional. Namun, kita harus mendorong hilirisasi, inovasi, dan praktik ramah lingkungan agar sawit Indonesia semakin berdaya saing di pasar global,” ujar Miftah Farid.

Sementara itu, Sany Anthony, Wakil Ketua Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), menekankan perlunya kampanye sawit berkelanjutan agar produk Indonesia memenuhi standar internasional.

“Pasar China dan negara mitra kini menuntut komoditas bersertifikat keberlanjutan. Ini peluang bagi kita untuk memperkuat ekspor, mendukung sertifikasi ISPO/RSPO, dan meningkatkan nilai tambah produk sawit Indonesia,” ungkapnya.

Data Ekspor Sawit Indonesia ke China

Menurut BPS, total ekspor minyak kelapa sawit Indonesia pada semester I 2025 mencapai 12,4 juta ton dengan nilai sekitar US$13,53 miliar. Dari jumlah itu, China menyerap sekitar 1,74 juta ton atau 14% dari total ekspor nasional.

Namun, berdasarkan data GAPKI, sepanjang 2024 ekspor sawit Indonesia ke China turun menjadi 4,48 juta ton, dibandingkan 7,73 juta ton pada 2023.

Penurunan ini memperlihatkan perlunya strategi baru melalui diversifikasi pasar, hilirisasi, serta peningkatan praktik keberlanjutan.

Posisi Indonesia di pasar China juga menghadapi persaingan ketat dari Malaysia yang gencar membuka fasilitas pengolahan dan tangki timbun di China untuk memperkuat ekspornya.

Menuju Kolaborasi Hijau

Dalam sambutannya, Konsul Jenderal RI di Guangxi, Ben Perkasa Drajat, menilai forum kebijakan hijau ini sangat strategis. Tahun lalu (2024), forum serupa juga digelar di tempat yang sama dan memberikan hasil signifikan.

Tahun ini, forum kembali menjadi ajang penting bagi Indonesia untuk menegaskan diri sebagai produsen sawit berkelanjutan.

Forum juga membuka peluang joint venture, transfer teknologi, dan kerja sama riset antara Indonesia dan China.(*)

Editor : Heri Sugiarto
#inovasi ramah lingkungan #CAEXPO #ekspor ke china #Forum Dialog Hijau #CABIS 2025 #hilirisasi #sawit berkelanjutan