Dalam penampilannya di Madison Square Garden, New York, pada akhir pekan lalu, Lorde terdengar menyerukan “free f–king Palestine” di hadapan ribuan penonton. Seruan itu disambut sorakan meriah dari penonton, namun memunculkan kontroversi tajam, terutama di Israel.
Menurut laporan New York Post, tata cahaya di panggung konser tersebut menampilkan warna merah, hijau, putih, dan hitam—kombinasi yang menyerupai bendera Palestina. Aksi itu dinilai sebagai bentuk dukungan terbuka Lorde terhadap kebebasan Palestina.
Tak lama setelah konser tersebut, Apple Music Israel menghapus seluruh konten musik Lorde dari platform mereka. Keputusan ini membuat pengguna di Israel tidak lagi bisa mengakses lagu-lagu sang penyanyi melalui Apple Music, meski karyanya masih tersedia di Spotify dan layanan streaming lainnya.
Langkah Apple Music Israel memicu perdebatan di dunia maya. Sebagian pihak menganggap penghapusan tersebut sebagai bentuk pembatasan terhadap kebebasan berekspresi, sementara yang lain menilai tindakan itu wajar mengingat sensitivitas isu politik Palestina-Israel.
Hingga kini, Lorde belum memberikan pernyataan resmi terkait tindakannya di konser tersebut. Namun, sejumlah video rekaman momen itu telah beredar luas di media sosial dan memunculkan diskusi global tentang batasan artis dalam menyampaikan pandangan politik di panggung musik.
“Keputusan ini bersifat lokal dan tidak memengaruhi akses pengguna di negara lain,” ujar juru bicara Apple Music dalam pernyataan singkat yang dikutip media lokal Israel, tanpa menjelaskan alasan detail di balik penghapusan konten Lorde.
Sementara itu, dukungan terhadap Lorde justru meningkat di luar Israel. Tagar #StandWithLorde sempat menjadi trending di media sosial, dengan ribuan penggemar memuji keberaniannya menyuarakan dukungan bagi Palestina.
Beberapa kritikus musik memperkirakan, langkah Lorde bisa berdampak panjang terhadap kariernya di industri hiburan global. Pasalnya, Israel memiliki hubungan bisnis yang kuat dengan sejumlah label dan promotor musik internasional.
Pengamat musik internasional menilai, insiden ini menyoroti dilema yang dihadapi para artis dunia. Di satu sisi, mereka memiliki panggung besar untuk menyuarakan isu kemanusiaan, namun di sisi lain, sikap politik dapat berpotensi mengganggu hubungan profesional dan distribusi karya mereka di pasar tertentu.
Fenomena serupa bukan hal baru di industri musik. Sepanjang sejarah, banyak musisi yang menggunakan panggungnya untuk menyuarakan isu global, mulai dari perang Vietnam hingga apartheid di Afrika Selatan. Namun, konflik Israel-Palestina memiliki sensitivitas tersendiri karena menyangkut kepentingan geopolitik dan ekonomi global.
Dalam setahun terakhir, dukungan terhadap Palestina meningkat di berbagai negara, termasuk di kalangan selebriti internasional. Namun, banyak artis yang memilih diam demi menghindari risiko kehilangan pasar dan kontrak kerja sama.
Kasus Lorde ini menjadi pengingat bahwa musik tetap menjadi medium kuat untuk menyuarakan sikap politik dan kemanusiaan. Publik kini menanti langkah lanjutan dari Lorde—apakah ia akan memberikan klarifikasi, mempertahankan sikapnya, atau memilih diam setelah kontroversi global yang menyertai konsernya di New York.(cc5)
Editor : Hendra Efison