Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Militer AS Tangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro dalam Serangan Skala Besar

Heri Sugiarto • Sabtu, 3 Januari 2026 | 19:05 WIB

Ledakan dan asap membubung di Venezuela dan AS tangkap Presiden Nicolas Maduro.(Foto: SS Video AP)
Ledakan dan asap membubung di Venezuela dan AS tangkap Presiden Nicolas Maduro.(Foto: SS Video AP)
PADEK.JAWAPOS.COM-Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan bahwa pasukan militer AS telah menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan istrinya dalam operasi militer semalam pada 3 Januari 2026.

Operasi ini juga melibatkan serangan udara besar yang mengguncang Caracas dan beberapa wilayah di Venezuela.

Trump menegaskan melalui posting di Truth Social, “AS berhasil melaksanakan serangan berskala besar terhadap Venezuela dan pemimpinnya, Presiden Nicolás Maduro, yang bersama istrinya telah ditangkap dan diterbangkan keluar dari negara tersebut. Operasi ini dilakukan bekerja sama dengan aparat penegak hukum AS.”

Gambaran Serangan dan Situasi di Lapangan

Foto-foto dari Venezuela menunjukkan ledakan, kendaraan terbakar, dan asap tebal yang membubung di ibu kota Caracas serta lokasi lain.

Saksi mata melaporkan suara jet yang terbang rendah selama serangan berlangsung.

Serangan ini lanjutan dari pengerahan pasukan AS di Karibia, serangan terhadap kapal-kapal yang diduga membawa narkoba di Venezuela, dan ancaman Trump terhadap Maduro dan pemerintahannya dalam beberapa bulan terakhir.

Tanggapan Pemerintah Venezuela

Pemerintah Venezuela menyatakan darurat nasional dan mengecam dengan menyebut "agresi militer yang sangat serius oleh Pemerintah Amerika Serikat terhadap wilayah dan penduduk Venezuela."

Menteri Pertahanan Venezuela Vladimir Padrino menegaskan negara tersebut akan menolak kehadiran pasukan asing dan sedang mendata korban tewas dan luka-luka akibat serangan.

Sementara, Kolombia dilaporkan telah mengaktifkan pos komando terpadu di sepanjang perbatasan dengan Venezuela serta menyerukan penghormatan hukum internasional.

“Republik Kolombia menegaskan keyakinannya bahwa perdamaian, penghormatan terhadap hukum internasional, dan perlindungan terhadap kehidupan serta martabat manusia harus lebih diutamakan daripada segala bentuk konfrontasi bersenjata," kata Presiden Kolombia, Gustavo Petro, melalui posting di X.

Rusia mengecam aksi militer AS dengan menyebutnya sebagai agresi bersenjata dan menyerukan agar menahan diri sehingga tidak terjadi eskalasi lebih lanjut.

Kementerian Luar Negeri Rusia menilai alasan AS tidak berdasar dan dipengaruhi oleh perselisihan ideologis, bukan pragmatisme atau hubungan diplomatik yang dapat dipercaya.

Maduro akan Diadili di AS

Senator AS dari Partai Republik, Mike Lee, mengungkapkan bahwa Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, memberi tahu bahwa Maduro akan diadili atas tuduhan kriminal di Amerika Serikat.

“Maduro telah ditangkap oleh personel AS untuk menghadapi proses hukum, dan tindakan kinetik yang kita lihat malam ini dilakukan untuk melindungi dan membela pelaksana surat perintah penangkapan,” kata Lee seperti dilansir dari USA Today, Sabtu (3/1/2026).

Latar Belakang Nicolas Maduro

Dikutip dari Al Jazeera, Nicolas Maduro menjadi Presiden Venezuela sejak 2013, menggantikan almarhum Hugo Chavez. Sebelumnya, ia pernah menjabat menteri luar negeri dan wakil presiden.

Maduro dikenal sebagai pendukung sosialisme Venezuela dan pengkritik AS, serta kerap menuduh Washington mendukung upaya kudeta, sabotase ekonomi dan sanksi yang menggoyahkan pemerintahannya.

Kemenangan Maduro dalam pemilu 2024 tidak diakui sebagian besar negara, termasuk AS. Pemerintah Barat dan tokoh oposisi menuduhnya menerapkan pemerintahan otoriter, melemahkan institusi demokrasi, dan memanipulasi pemilu. Namun, tuduhan tersebut selalu dibantahnya.(*)

Editor : Heri Sugiarto
#darurat nasional #venezuela #donald trump #Operasi militer AS #nicolas maduro #penangkapan presiden Venezuela