PADEK.JAWAPOS.COM-Harga minyak dunia turun tajam, sementara pasar saham dan obligasi global menguat setelah Amerika Serikat menunda rencana serangan terhadap Iran selama dua pekan.
Keputusan tersebut diumumkan oleh Donald Trump pada Selasa malam, 7 April 2026 waktu setempat, hanya beberapa jam sebelum batas waktu serangan. Penundaan ini terjadi setelah mediasi Pakistan dan kesediaan Iran membuka Selat Hormuz, jalur energi strategis di Timur Tengah,
Pengumuman tersebut kemudian memicu ekspektasi pasar terhadap potensi gencatan senjata antara kedua negara.
Pasar Global Bereaksi Positif
Meredanya ketegangan geopolitik langsung berdampak pada pasar keuangan global. Harga minyak mentah AS turun sekitar 9% ke level 103 dolar AS per barel.
Sementara itu, kontrak berjangka indeks saham S&P 500 melonjak 1,6%. Penguatan ini mencerminkan optimisme investor terhadap peluang stabilitas dan berkurangnya risiko gangguan pasokan energi.
Di sisi lain, dolar AS melemah secara luas, sedangkan kontrak berjangka obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun naik sekitar 15 ticks, yang menandakan peningkatan permintaan aset aman.
Dampak ke Asia dan Pasokan Energi
Sentimen positif juga diperkirakan menyebar ke pasar Asia. Kontrak berjangka menunjukkan potensi kenaikan di berbagai bursa saham kawasan saat pembukaan perdagangan.
Faktor utama pendorong optimisme adalah jaminan Iran untuk memastikan keamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz selama periode dua minggu. Jalur ini merupakan salah satu rute distribusi minyak dan gas paling penting di dunia.
Dengan terbukanya kembali akses tersebut, pasar melihat peluang pemulihan ekspor energi dari kawasan Teluk.
Rencana Perundingan di Islamabad
Selain penundaan serangan, periode dua pekan ini juga akan dimanfaatkan untuk pembicaraan gencatan senjata antara AS dan Iran.
Perundingan dijadwalkan dimulai pada Jumat di Islamabad, dengan fokus pada upaya mengakhiri konflik yang sedang berlangsung.(*)
Editor : Heri Sugiarto