Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Perbaikan Gizi sejak Remaja Kunci Lahirkan Generasi Bebas Stunting

Adriyanto Syafril • Sabtu, 11 Juli 2026 | 09:15 WIB
Prof Dr Azrimaidaliza, S.K.M., M.K.M
Prof Dr Azrimaidaliza, S.K.M., M.K.M

PADEK.JAWAPOS.COM -- Status gizi perempuan sebelum dan selama kehamilan menjadi faktor penentu kualitas kesehatan generasi mendatang. Upaya membangun generasi yang sehat, cerdas, dan bebas stunting harus dimulai jauh sebelum kehamilan, yakni sejak masa remaja.

Hal ini disampaikan Prof Dr Azrimaidaliza, S.K.M., M.K.M, Guru Besar Bidang Ilmu Gizi Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Andalas (Unand) pada Rabu (8/7), di Ruang Kerjanya. Sebagaiamana diberitakan pa­da laman resmi Unand, dia menjelaskan, Indonesia masih meng­ha­da­pi tri­ple burden of malnutrition, yakni stunting, kekurangan zat gizi mikro, dan obesitas. Kondisi tersebut me­nunjukkan bahwa persoalan gizi tidak hanya berkaitan de­ngan kekurangan asupan makanan, tetapi juga dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling berkaitan sepanjang siklus kehidupan.

Ia menegaskan, status gizi ibu sebelum hamil dan selama kehamilan sangat menentukan kesehatan bayi yang akan dilahirkan. Perempuan yang memasuki masa kehamilan dengan kondisi gizi baik memiliki peluang lebih besar melahirkan bayi dengan status gizi optimal, sedangkan kekurangan gizi sejak remaja dapat meningkatkan risiko anemia, Kurang Energi Kronis (KEK), bayi lahir dengan berat badan rendah, hingga stunting yang berlanjut pada generasi be­ri­kutnya.

Menurutnya, permasalahan gizi pada ibu tidak terjadi secara tiba-tiba ketika hamil, melainkan merupakan akumulasi berbagai faktor sejak usia remaja. Pola makan yang kurang sehat, ren­dahnya aktivitas fisik yang seimbang, pengaruh media sosial, lingkungan keluarga, hingga minimnya pemahaman menge­nai gizi menjadi faktor yang ber­kontribusi terhadap kondisi ter­sebut. Oleh karena itu, intervensi perbaikan gizi harus dilakukan secara komprehensif dengan melibatkan berbagai sektor.

Berdasarkan hasil riset ya­ng ditelitinya, sekitar sepertiga remaja putri di salah satu wila­yah Sumatera Barat masih mengalami gizi kurang, dengan hampir 20 persen memiliki asupan protein yang tidak mencukupi. Kondisi ini berpotensi berlanjut hingga masa kehamilan apabila tidak segera ditangani, sehingga memperbesar risiko terjadinya masalah kesehatan pada ibu maupun bayi.

Prof Azrimaidaliza juga me­nyoroti pentingnya peme­nuhan kebutuhan energi dan protein selama kehamilan. Hasil penelitian kohort yang dilakukannya menunjukkan bahwa ibu hamil dengan asupan energi kurang dari 1.800 kkal per hari memiliki risiko 1,7 kali lebih besar melahirkan bayi dengan berat lahir di ba­wah 3 kilogram. Sementara itu, asupan protein kurang dari 65 gram per hari meningkatkan risiko hingga 3,6 kali melahirkan bayi dengan panjang lahir di bawah 48 sentimeter.

Selain faktor individu, keta­hanan pangan keluarga juga menjadi penentu penting da­lam pemenuhan gizi ibu hamil. Penelitian yang dilakukan di Pesisir Selatan menunjukkan lebih dari separuh ibu hamil berada pada kondisi rawan pangan, yang erat kaitannya dengan kondisi sosial ekonomi keluarga. Situasi tersebut berpotensi me­ningkatkan risiko anemia dan KEK pada ibu hamil serta berdampak pada kualitas kesehatan bayi yang dilahirkan.

Prof Azrimaidaliza menekankan bahwa investasi terbaik dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia adalah memastikan perempuan memasuki masa kehamilan dengan status gizi yang baik. Perbaikan gizi sejak remaja hingga masa kehamilan menjadi stra­tegi penting untuk memutus rantai ma­salah gizi antargenerasi sekaligus mewujudkan generasi Indonesia yang sehat, tumbuh optimal, dan bebas stunti­ng sebagai fondasi menuju Indonesia Emas 2045. (rel)

Editor : Adriyanto Syafril
#Universitas Andalas (Unand)