Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

130 Tahun Pencarian: Menelusuri Jejak Sejarah Penemuan Vitamin A dan Manfaatnya Bagi Kesehatan

Heri Sugiarto • Sabtu, 20 Juli 2024 | 08:10 WIB
Penemuan vitamin A pada pertengahan abad ke-20 membawa pemahaman baru tentang peran pentingnya bagi kesehatan mata, pertumbuhan, dan kelangsungan hidup manusia.(Foto: performancelab)
Penemuan vitamin A pada pertengahan abad ke-20 membawa pemahaman baru tentang peran pentingnya bagi kesehatan mata, pertumbuhan, dan kelangsungan hidup manusia.(Foto: performancelab)
PADEK.JAWAPOS.COM-
Vitamin A, zat yang berperan penting dalam menjaga kesehatan mata dan tubuh manusia, ternyata memiliki sejarah panjang dan penemuannya tidak terjadi dalam sekejap.
 
Richard D. Semba, dalam artikelnya "On the ‘Discovery’ of Vitamin A" di Annals of Nutrition and Metabolism edisi 2012, mengisahkan perjalanan panjang selama 130 tahun para peneliti dalam mengidentifikasi vitamin A, yang jauh dari peristiwa tunggal yang dapat disebut sebagai "penemuan".

Awal mula pencarian vitamin A diawali dengan eksperimen pada hewan. Pada tahun 1816, Francois Magendie melakukan percobaan pada anjing untuk mempelajari nilai nutrisi nitrogen dalam makanan.

Hasilnya, anjing yang diberi gula tanpa nitrogen dan air menjadi kurus, mengalami kerusakan mata, dan akhirnya meninggal.

Baca Juga: Dibuka Bertahap Untuk Umum Mulai 21 Juli, Gubernur Mahyeldi Pimpin Uji Coba Jalan Lembah Anai

Temuan ini kemudian memicu Charles-Michel Billard, seorang ahli pediatri, untuk meneliti hubungan antara kekurangan nutrisi dan penyakit mata pada bayi terlantar di Paris.

Pencarian berlanjut dengan penelitian Nicolai Ivanovich Lunin, mahasiswa Gustav von Bunge, yang menunjukkan bahwa tikus dewasa tidak dapat bertahan hidup hanya dengan mengonsumsi unsur-unsur susu seperti protein, lemak, karbohidrat, garam, dan air.

Lunin menyimpulkan bahwa ada unsur lain yang belum diketahui dalam susu yang esensial untuk nutrisi.

Temuan penting lainnya datang dari Carl A. Socin, mahasiswa Bunge lainnya, yang menemukan bahwa tikus yang hanya makan kuning telur dapat hidup selama hampir 100 hari. Sedangkan tikus yang kekurangan zat besi akan mati dalam sebulan.

Baca Juga: Penertiban PMKS di Kota Padang, Belasan Orang Diamankan Satpol PP

Socin menduga adanya unsur penting dalam kuning telur untuk kelangsungan hidup.

Pada masa itu, teori nutrisi Justus von Liebig  (1803–1873) mendominasi, menyatakan bahwa nutrisi hanya terdiri dari protein, lemak, karbohidrat, dan mineral.

Namun, Frederick Gowland Hopkins, seorang ahli biokimia Inggris, menantang teori ini dengan menyatakan bahwa ada "faktor diet tak terduga" yang menyebabkan beberapa penyakit dan hewan tidak dapat hidup hanya dari campuran empat unsur nutrisi tersebut.

Hopkins menerbitkan karyanya yang revolusioner pada tahun 1912, "Feeding Experiments Illustrating the Importance of Accessory Factors in Normal Dietaries", dalam Journal of Physiology.

Baca Juga: Atasi Peredaran Narkotika di Daerah Perbatasan,  BNNK Solok Koordinasi dengan BNNK Sawahlunto

Ia melaporkan bahwa tikus muda tidak tumbuh dengan baik hanya dengan ransum dasar, namun setelah ditambahkan sedikit susu, pertumbuhan mereka menjadi normal. Hopkins menduga adanya "faktor tambahan" dalam jumlah kecil pada susu yang esensial untuk kehidupan.

Penelitian Hopkins menjadi tonggak penting dalam sejarah vitamin, dan pada tahun 1929, bersama Christiaan Eijkman, ia dianugerahi Hadiah Nobel Bidang Fisiologi atau Kedokteran atas penemuan vitamin.

Pencarian untuk memahami "faktor tambahan" Hopkins terus berlanjut. Paul Karrer, ahli kimia Swiss, berhasil menjelaskan struktur kimia vitamin A pada tahun 1931, dan Harry Holmes bersama Ruth Corbet mengkristalkan vitamin A pada tahun 1937.

Sintesis vitamin A kemudian dilakukan oleh David Adriaan van Dorp dan Jozef Ferdinand Arens pada tahun 1946, dan metode sintesis skala industri dikembangkan oleh Otto Isler dan timnya.

Peran penting vitamin A dalam penglihatan terungkap pada awal tahun 1930-an oleh George Wald, seorang ahli biokimia, yang menjelaskan hubungan antara vitamin A dan rhodopsin, pigmen pada sel fotoreseptor retina yang bertanggung jawab terhadap persepsi cahaya.

Baca Juga: TikTok LIVE Buka Peluang bagi Kreator Musik Berkarier di Industri Musik lewat ”Gimme The Mic” 2024

Penemuan vitamin A pada pertengahan abad ke-20 membawa pemahaman baru tentang peran pentingnya bagi kesehatan mata, pertumbuhan, dan kelangsungan hidup manusia.

Alfred Sommer dalam jurnal JAMA Ophthalmology pada tahun 2014, menekankan pentingnya vitamin A untuk mencegah xeroftalmia, penyakit mata akibat kekurangan vitamin A, dan memerangi infeksi yang mengancam jiwa.

Seperti dilansir dari laman Kemenkes, berbagai penemuan dan pembentukan International Vitamin A Consultative Group (IVACG) pada tahun 1975 mendorong lahirnya kebijakan untuk memasukkan vitamin A sebagai intervensi penting untuk mengatasi masalah kelangsungan hidup anak di negara berkembang. Program suplementasi vitamin A telah menyelamatkan jutaan nyawa anak-anak melalui upaya UNICEF, WHO, pemerintah, dan organisasi lain.

Di Indonesia, program suplementasi vitamin A terintegrasi dalam Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS) yang dijalankan oleh Kementerian Kesehatan, dengan membagikan kapsul vitamin A gratis di bulan Februari dan Agustus di pos pelayanan terpadu dan pusat kesehatan masyarakat.(*)

Editor : Heri Sugiarto
#kesehatan mata #vitamin a #manfaat vitamin a #pertumbuhan #Sejarah penemuan vitamin A #Xeroftalmia #negara berkembang #indonesia #penelitian