Berdasarkan laporan Independent, Sabtu (19/4/2025), penelitian ini mengingatkan pentingnya kesehatan pendengaran sebagai bagian dari evaluasi risiko kardiovaskular secara menyeluruh.
Penelitian dilakukan oleh para ahli di Tiongkok dengan menganalisis data dari UK Biobank, melibatkan 164.431 partisipan yang telah menjalani tes untuk mengukur kemampuan pendengaran, termasuk digit triplet test (DTT)—tes yang menilai kemampuan mendengar angka dalam kebisingan latar.
Dari jumlah tersebut, sekitar 160.062 orang tidak menggunakan alat bantu dengar, dan semua peserta tidak memiliki riwayat gagal jantung pada awal penelitian.
Baca Juga: Tiga Hari BOM Run di Padang, Fadly Amran: Terima Kasih, Hunian Hotel dan Transaksi UMKM Melonjak!
Namun, dalam masa tindak lanjut selama lebih dari 11 tahun, tercatat 4.449 peserta mengalami gagal jantung.
Gagal jantung adalah kondisi ketika jantung tidak dapat memompa darah secara efektif, yang ditandai dengan gejala seperti kelelahan, sesak napas, dan pembengkakan di kaki dan pergelangan kaki.
Di Inggris saja, diperkirakan lebih dari satu juta orang hidup dengan kondisi jangka panjang ini.
Para peneliti menemukan bahwa peserta dengan tingkat ambang penerimaan bicara (speech reception threshold/SRT) yang tinggi—artinya mereka membutuhkan suara lebih keras untuk memahami kata-kata—memiliki risiko gagal jantung yang lebih tinggi dibandingkan mereka yang memiliki pendengaran normal.
Baca Juga: UGM Kembangkan Microforest: Inovasi Ciptakan Udara Bersih
“Dibandingkan dengan mereka yang memiliki pendengaran normal, partisipan dengan pendengaran kurang, pendengaran buruk, atau penggunaan alat bantu dengar memiliki risiko gagal jantung yang lebih tinggi,” ungkap peneliti.
Tak hanya itu, tingkat SRT tinggi juga berkorelasi dengan distres psikologis, isolasi sosial, dan neurotisisme, terutama pada mereka yang tidak menggunakan alat bantu dengar.
Para peneliti menyimpulkan bahwa gangguan pendengaran mungkin menjadi faktor risiko potensial atau indikator awal gagal jantung pada populasi umum.
Baca Juga: Hadiri Halalbihalal KKLA: Fadly Amran Ajak Warga Luak Agam Dukung Progul Pemko Padang
Oleh karena itu, integrasi penilaian kesehatan pendengaran dalam kerangka evaluasi risiko jantung disarankan, termasuk pentingnya intervensi psikologis bagi penderita gangguan pendengaran.
Data WHO dan Riskesdas
Sementara itu, data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang disampaikan Kementerian Kesehatan terungkap bahwa lebih dari 17 juta orang di dunia meninggal setiap tahun akibat penyakit jantung dan pembuluh darah.
Di Indonesia, data Institute for Health Metrics and Evaluation (IHME) 2019 mencatat 651.481 kematian per tahun akibat penyakit kardiovaskular, yang terdiri atas stroke 331.349 kematian, penyakit jantung koroner: 245.343 kematian, penyakit jantung hipertensi: 50.620 kematian, dan penyakit kardiovaskular lainnya: sisanya.
Riskesdas 2018 mencatat prevalensi penyakit jantung berdasarkan diagnosis dokter sebesar 1,5%, dengan prevalensi tertinggi di Kalimantan Utara (2,2%), DI Yogyakarta (2%), dan Gorontalo (2%).
Baca Juga: Kantor Pajak Padang Pratama Satu Terbakar, Semua Dokumen Penting Hangus
Selain itu, terdapat delapan provinsi dengan angka prevalensi di atas rata-rata nasional, termasuk Aceh, Sumatera Barat, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, dan Sulawesi Tengah.
Prevalensi penyakit jantung lebih tinggi pada perempuan (1,6%) dibandingkan laki-laki (1,3%).
Dari segi pekerjaan, angka tertinggi ditemukan pada aparat pemerintahan seperti PNS, TNI, Polri, BUMN/BUMD, yakni 2,7%.
Penduduk perkotaan juga tercatat lebih rentan dengan prevalensi 1,6%, dibandingkan dengan perdesaan yang hanya 1,3%.(*)
Editor : Heri Sugiarto