Dalam dua tahun terakhir, tercatat 20 kasus necrotising fasciitis—penyakit pemakan daging yang sangat agresif—di wilayah kerja Shrewsbury and Telford Hospital NHS Trust, melampaui jumlah 18 kasus selama satu dekade sebelumnya.
Penyakit yang secara medis dikenal sebagai necrotising fasciitis ini terjadi ketika bakteri masuk melalui luka di kulit, menyebar cepat ke lapisan jaringan dalam, dan melepaskan racun yang menghancurkan jaringan tubuh dalam hitungan jam.
Kondisi ini sangat berbahaya dan memerlukan penanganan medis darurat.
Meski penyebab pasti lonjakan kasus belum diketahui, para dokter menduga meningkatnya infeksi bakteri atau penurunan kekebalan tubuh akibat pembatasan sosial selama pandemi Covid-19 bisa menjadi faktor pemicunya.
Dalam laporan yang dipublikasikan di jurnal BMJ Case Reports, para peneliti menyoroti tiga kasus pada wanita yang tertular penyakit ini di area genital eksternal (vulva).
Salah satu pasien bahkan meninggal hanya beberapa jam setelah dirawat di rumah sakit.
Ia awalnya mengira bintik kecil di area mons pubis—jaringan lemak di atas alat kelamin—akan sembuh sendiri.
Setelah pengobatan awal dengan antibiotik dari dokter umum, kondisinya justru memburuk dalam lima hari.
Saat dilarikan ke ruang gawat darurat, infeksi sudah menyebar luas hingga ke perut bagian bawah.
Ia meninggal akibat sepsis hanya 28 jam setelah diagnosis.
Kasus kedua melibatkan wanita dengan benjolan 3 cm di vulva yang ternyata adalah abses.
Dalam waktu 12 jam, jaringan labia luarnya mengalami kerusakan parah dan pasien harus menjalani tiga operasi besar serta rekonstruksi alat kelamin.
Kasus ketiga terjadi setelah pasien menjalani histerektomi (operasi pengangkatan rahim). Pasien mengalami demam dan nyeri di bekas operasi. Setelah diperiksa, dokter menemukan jaringan mati akibat necrotising fasciitis dan segera melakukan operasi.
Pasien selamat, namun menderita nyeri berat dan masih menunggu perawatan lanjutan.
Pakar mikrobiologi dan imunologi dari Indiana University yang tidak terlibat dalam studi ini, Profesor Bill Sullivan, menjelaskan bahwa infeksi semacam ini bisa terjadi di area tubuh mana pun yang mengalami luka.
Menurutnya, infeksi di area genital wanita bisa dipicu oleh berbagai hal, mulai dari luka akibat bercukur, hubungan intim yang kasar, tindik, hingga prosedur kosmetik atau bedah.
“Vaginal necrotising fasciitis dapat ditularkan melalui seks kasar, tindik, atau prosedur kosmetik dan bedah,” kata Sullivan kepada Live Science.
Para dokter berharap laporan ini bisa meningkatkan kewaspadaan para ginekolog agar diagnosis tidak terlambat dan mencegah hasil fatal bagi pasien.
Diagnosis dan perawatan dini sangat krusial dalam menyelamatkan nyawa dari penyakit langka nan mematikan ini.(*)
Meta Description (SEO):
Kasus penyakit pemakan daging necrotising fasciitis yang menyerang organ intim wanita melonjak di Inggris. Waspadai gejalanya! Simak laporan lengkapnya di sini.
Keyword SEO:
necrotising fasciitis, penyakit pemakan daging, infeksi genital wanita, vulva, sepsis, penyakit langka, ginekologi Inggris, BMJ Case Reports.