Apa lagi kamu yang sedang mengenakan kaus oranye itu. Ah, jerukku, ternyata dengan menunggumu datang ia sudah membusuk saja sebelah. Mestinya harus kumakan dulu. Kenapa hati ini mengatakan harus menunggu dirimu datang agar bisa kita makan berdua.
Oh, itu adalah kali terakhir kulihat dirimu memakai kaos oranye yang menyala seperti jeruk yang kupegang hari itu. Kenapa kau tak datang menemuiku? Kenapa kau menghilang pada saat itu. Jeruk yang kupegang dalam genggaman sudah kuniatkan untuk dirimu dan kita akan menyantapnya berdua.
Kau tahu? Jeruk itu kan kecintaan kita berdua. Bahkan kita sering bertengkar ketika membaginya menjadi dua. Dengan lucunya kita menghitung jumlah isinya dan jumlah ganjil kita bagi kembali menjadi dua. Sungguh serunya kala itu. Andai kau tahu.
Di bawah kipas angin kumerenung. Di dekat kaca gedung aku menyaksikan hiruk-pikuk kota yang sedang antrean macet di simpang empat lampu merah. Sebenarnya apa sih makna lampu lalu lintas itu.
Merah, kuning, dan hijau. Kenapa bukan warna lain. Menurut aku gara-gara lampu ini semua menjadi tidak sabaran. Semua menjadi macet tidak karuan, suara klakson yang juga memekakkan telingaku.
Hampir setiap hari kudengar suara itu. Pagi, siang, sore, senja, malam, bahkan tengah malam, dan juga dini hari. Ada apa dengan jalanan itu? Aku selalu saja terperangkap di sini sendiri. Tanpa ada yang menemani.
Di pojok dekat jendela, di kursi yang kurang nyaman untuk diduduki, dan dengan suara kipas angin di tengah-tengah ruangan berbunyi keras seakan mau terbang menimpuk kepala seseorang.
Kuharap itu tidak kepalaku yang akan diserangnya. Aneh memang, tetapi nyata sudah. Suara kipas yang tak karuan menambah kebisingan saat aku menikmati jalanan yang macet di bawah sana. Di mana jeruk di atas mejaku hari ini? Kenapa yang ada hanya apel, anggur, dan lainnya. Yang kuharapkan bukan mereka, tetapi jerukku.
Aku memang hobi mencari gara-gara. Tak hanya tentang pertengkaran dengan seorang perempuan, tetapi juga dengan perutku. Perut yang selalu membawaku masuk ke ruangan ini. Tetapi ini sungguh kali terakhir aku memakan jeruk.
Kuludeskan sendirian sekantong plastik sehingga hari ini aku tak lagi melihat jeruk di meja riasku. Kenapa aku selalu membarter kesedihanku dengan makanan. Padahal makanan itu tak boleh lagi kusantap. Dokter bilang jeruk itu sudah menjadi daftar hitam di perutku.
Kenapa sih hal enak itu mesti diblokir dari kehidupanku? Aku hanya ingin harapan baru.
Sekarang yang kuingat kenapa kamu yang biasa mengenakan kaos oranye itu tidak tampak lagi dari sudut jendela ini?
Apa aku harus berpindah ke sudut jendela satu lagi? Lalu banyak juga nanti yang akan kupindahkan, kursiku dan meja riasku. Argh, terlalu ribet! Biarlah kupantau di sini saja setiap harinya.
Kamu mudah sekali akrab dengan semua orang termasuk denganku. Sering kali aku bercerita denganmu tentang sosok penjual jeruk di pinggir jalan itu. Kamu selalu saja menjadi pendengar yang baik tanpa banyak pertanyaan.
“Apa Ibu selalu menunggu orang yang memakai kaos oranye itu?” tanya wanita paruh baya padaku.
“Iya, tentu saja. Kami adalah sosok yang tidak dapat dipisahkan sama sekali.”
“Buktinya sekarang Ibu terpisah dengannya.”
“Oh, tidak, kami hanya sedang bersandiwara merasakan bagaimana rasanya LDR-an.”
“Tapi saya lihat Ibu tampak sedih.”
“Ini hanya sebagian kecil peran emosional yang kulakoni. Bukankah hidup kita ini penuh sandiwara dan perasaan?”
“Iya bu.”
“Begitulah hidup bukan? Aku hanya sedang menikmati kesedihanku. Memangnya tidak boleh?”
“Boleh bu, tetapi kenapa Ibu tidak berusaha mencarinya?”
Aku terdiam, keadaan tiba-tiba berubah menjadi hening tak bersuara. Lalu lintas tak nampak lagi macet seperti biasanya. Tak kuhiraukan lagi kenapa lampu itu berwarna merah, kuning, dan hijau. Orang-orang juga tidak lagi membunyikan klaksonnya.
Hanya saja suara kipas angin yang baling-balingnya terus bertengkar hebat saat berputar.
Pertanyaan wanita paruh baya itu seakan-akan menancapkan duri pada otakku. Ia adalah wanita yang sudah puluhan tahun bekerja di rumahku. Ia tak banyak bicara. Sekali bicara, perkataannya malah terus menghantui hatiku.
“Apakah Ibu masih ingat dengan penjual jeruk di pinggir jalan dekat apartemen kita?”.
“Bagaimana aku bisa melupakannya, apalagi itu tempat favorit dan kali terakhir kita membeli jeruk”.
“Tahukah Ibu siapa nama penjualnya?”.
“Itulah yang tak sempat kutanyakan padanya. Siapa dia dan tinggal di mana. Padahal kita sudah berlangganan dengannya beberapa tahun belakangan”.
Ternyata penjual jeruk sempat diselamatkan oleh seseorang. Seorang pria yang mengenakan kaos oranye mencoba menghindari pot bunga yang hampir jatuh tepat di atas kepalanya. Usut punya usut benda itu berasal dari salah satu lantai apartemen kita.
Seseorang yang berada di lantai lima apartemen kita telah mengakui kesalahannya dan bertanggung jawab. Ia juga malah memberikan hadiah kepada pria yang mengenakan kaos oranye hari itu. Pria itu sudah lama menyelesaikan masa internship.
Status yang disandangnya sejak tiga tahun lalu adalah dokter umum. Sekarang pria berkaos oranye itu memperdalam ilmu kedokterannya dengan menempuh pendidikan lagi sebagai dokter spesialis.
“Ini ada titipan surat untuk Ibu,” sebuah amplop yang diberikan wanita paruh baya.
Dear Adikku, maaf baru kali ini aku bisa jujur kepadamu. Mungkin ketika kau membaca surat ini, aku sudah tak ada lagi di sampingmu. Aku tahu warna favoritmu adalah oranye. Makanya aku suka memakai kaos oranye. Hari ini aku melanjutkan studiku ke luar negeri.
Bapak pernah berpesan kepadaku untuk selalu merawat dan menjagamu. Bapak dan ibu kita mungkin telah lama berpisah ketika kau masih dalam perut ibu. Tetapi bapak tak pernah melupakanmu.
Bapak selalu saja mencari tahu keberadaanmu, sedang kuliah apa kamu, dan sedang apa kamu. Kau hidup hanya berdua dengan ibu. Kau masih bertahan hidup meski ibu sudah tiada. Begitu pun aku, selalu berdua dengan bapak.
Mungkin itu keputusan terbaik bapak dan ibu untuk berpisah. Tapi sekarang aku tak mau lagi berpisah denganmu adikku. Maafkan aku baru menyampaikan berita mengejutkan seperti ini kepadamu hanya lewat surat. Tunggu saja aku agar bisa menyembuhkan penyakitmu. (*)
Editor : Novitri Selvia