Guru SMPN 5 Padang
MENJADI seorang guru bukanlah profesi yang mudah. Pekerjaan guru bukan hanya sekedar memberikan pembelajaran saja kepada siswa, namun berperan juga dalam membina dan membimbing, mengarahkan dan membentuk perilaku siswa menjadi manusia yang berakhlak mulia.
Tentunya, dalam menghadapi beragam karakter yang ada pada siswa, guru dituntut memiliki kesabaran yang luar biasa. Maka tak heran, profesi guru merupakan profesi yang mulia. Panggilan hati nurani dan keikhlasan dalam mendidik dan membina tingkah laku siswa dengan penuh kasih sayang.
Hal inilah, guru yang diharapkan dan ditunggu oleh anak bangsa. Ketika masuk ke dalam kelas, dirindukan kehadirannya. Siswa menyenganinya bukan karena takut, melainkan kewibawaan dan “karismatik” yang dimilikinya.
Ketika penulis bersekolah dulu, guru betul-betul sangat dihormati dan disengani karena kepiawaiannya dalam memberikan ilmu yang bermanfaat dan pembinaan akhlak siswa. Takutnya siswa bukan disebabkan oleh amarah guru, tapi karena ketegasan dan kewibawaannya. Pembelajaran dan nasehat yang diberikannya menggena di hati siswa.
Begitu pula penilaian orang tua siswa, banyak memberikan respon yang sangat positif terhadap keprofesionalan guru dalam mengajar dan mendidik siswa. Jika guru melakukan tindakan “fisik ringan” karena kesalahan dari siswa tersebut, justru jika si anak mengadu, malah dimarahi oleh orang tua.
Seiring dengan kemajuan teknologi dan zaman, terjadi pergeseran nilai-nilai kesopanan berperilaku mulai melemah. Terutama dalam bertutur kata dalam berinteraksi di lingkungan sekolah. Di sinilah peranan kita seorang guru dituntut sebagai penetral pmulihan mentalitas siswa dalam bersikap dan bertutur kata di lingkungan sekolah.
Sebagai guru, kita berharap bahwa kehadiran di sekolah mendapat tempat di hati siswa. Saat memberikan pengajaran di dalam kelas, siswa merasa nyaman dan tidak jenuh dengan pembelajaran yang diberikan. Kehadiran seorang guru dalam memberikan pembelajaran, sangat ditunggu oleh siswa. Mereka terpesona dengan ketulusan dan kepedulian kita dalam mengajar dan mendidik.
Memberikan suatu ilmu pengetahuan atas dasar panggilan hati nurani, sikap yang ramah dan murah senyum dan dapat mencairkan suasana yang kaku dalam pembelajaran, inilah guru yang di hati. Kita sebagai guru, tidak ingin ditakuti oleh siswa karena keemosinalan dalam memarahi siswa yang melakukan kesalahan . Sehingga guru dicap “sebagai guru yang pemarah”.
Untuk itu, menjadi guru di hati siswa, perlu trik yang dikuasai sebagai berikut, (1) memberikan pendidikan dengan penuh ketulusan. Maksudnya adalah guru tidak berharap imbalan dari yang telah dilakukan untuk siswanya. Melaksanakan fungsi sebagai guru diilhami dengan niat yang ikhlas untuk mencerdaskan anak bangsa.
(2) Berupaya selalu bersikap ramah dan murah senyum. Istilah mengatakah bahwa senyum adalah ibadah. Memang tepat kiranya, dengan memberikan senyuman yang ramah dapat memberi rasa nyaman bagi siswa. Ekspresi wajah yang ramah yang mengalir secara natural tersebut menyejukkan hati.
Sehingga proses pembelajaran dalam kelas jadi rileks dan fleksibel. Dengan kelembutan tutur kata dalam memberikan pembelajaran dan bimbingan dapat menghipnotis siswa untuk menerima pembelajaran secara maksimal. (3) Rasa peduli yang tinggi, seorang guru yang baik, hendaknya peka terhadap keberagaman karakteristik yang dimiliki oleh siswa.
Memahami bahwa mereka memiliki keunikan tersendiri dalam belajar. Memberikan perhatian yang penuh kepada siswa yang perlu bimbingan dalam belajar karena keterbatasan kemampuan dalam melaksanakan proses pembelajaran, (4) Keunikan dalam mengajar dengan ciri khas yang dimiliki.
Memberikan kejutan-kejutan di setiap proses pembelajaran yang akan dilaksanakan dengan cara melakukan variasi-variasi dalam mengajar, seperti menggunakan metode, strategi,dan media belajar yang berbeda di setiap pembelajaran, (5) meningkatkan keprofesionalan sebagai pendidik.
Guru berupaya mengembangkan diri dalam meningkatkan keprofesionalannya sebagai pendidik, tidak terpaku dengan ilmu pengetahuan yang tidak berkembang. Artinya transfer ilmu yang diberikan kepada siswa disesuaikan dengan kemajuan ilmu pengetahuan. Guru tidak terpaku dengan satu sumber buku saja dalam menunjang pembelajaran.
Kemudian melakukan refleksi diri setelah selesai proses pembelajaran, dan berupaya memperbaiki kelemahan sebagai hasil refleksi selama pembelajaran berlangsung. Memikirkan “bagaimana” siswa dapat memaksimalkan penguasaan materi dan konsep pelajaran, sehingga pembelajaran yang telah dilaksanakan lebih bermakna.
Berpijak dari uraian yang telah penulis jabarkan di atas, Berbahagia dan banggalah, kita sebagai pendidik menjadi guru yang di hati bagi siswa, keberadaan kita di dalam kelas selalu dirindukan oleh siswa. Bukan yang di hati-hatikan yang berarti kehadiran guru di kelas memberi rasa yang kurang nyaman karena kekakuan pembelajaran yang diberikan kepada siswa.
Sikap baik yang terpancar dari diri seorang guru, menjadi panutan bagi generasi penerus bangsa. Semoga dengan peran mulia guru ini dapat menciptakan generasi emas yang cerdas, beriman dan bertaqwa serta berakhlak mulia, Aamiin Ya Rabbi ‘Alaamiin.(***) Editor : Novitri Selvia