Sebelum proses Makan Barapak dimulai, siswa perempuan membantu manatiang (menata makanan) sedemikian rupa di atas sebuah alas meja yang disebut dengan sepra makan.
Manatiang tentu bukan sembarang manatiang, namun ada seni dan makna yang tersirat dibalik penataan makanan yang disusun di hadapan para tamu. Mereka telah diajarkan sebelumnya, hingga saat hari-H, mereka mempraktikkan ilmu yang telah diberikan gurunya.
Nurlius, S.Pd salah satu guru penilai, menjelaskan kriteria dalam penilaian Makan Barapak ini. Penilaian yang pertama yaitu etika duduk, penilaian kedua yaitu etika makan: mulai cuci tangan sebelum makan hingga cuci tangan sesudah makan.
Makan Barapak yaitu merupakan tradisi makan bersama yang dilakukan oleh masyarakat Minangkabau yang telah ada sejak dulunya. Biasanya makan bersama ini dilakukan dalam beberapa kegiatan seperti; acara pernikahan, turun mandi (akiqah), Batagak Gala (prosesi pembelian gelar kepada kaum laki-laki dewasa dalam adat Minangkabau), dan lain sebagainya.
“Dalam Makan Barapak mempunyai makna bahwa ini merupakan salah satu cara untuk menghormati orang yang lebih tua, melatih diri untuk berbagi dalam sebuah kebersamaan, dan juga memupuk tali silaturrahmi,” tutur Nurlius.
Lebih lanjut Nurlius menjelaskan bahwa saat duduk bersama, diharapkan kita mampu membaur dalam kebersamaan tanpa memandang status sosial, karena tradisi ini menjunjung tinggi sopan santun,” ulas Nurlius.
Semua siswa menyimak dengan saksama penjelasan demi penjelasan yang diurai oleh Nurlius. Dijelaskan dalam Makan Barapak posisi duduk masyarakat atau tamu juga diatur. Perempuan biasa duduk basimpuah (bersimpuh) untuk menjaga kesopanan, sementara laki-laki duduk baselo (bersila).
Saat duduk, posisi badan juga tidak boleh terlalu dekat dengan makanan tapi juga tidak boleh terlalu jauh dari makanan. Posisi duduk harus tegak, dan tidak pula membungkuk.
“Saat proses makan, jangan sampai kita manjambau (menjangkau) posisi makanan yang jauh dari kita. Karena itu merupakan etika yang mesti dijaga. Makanya, saat manatiang (menghidangkan) makanan, betul-betul harus dipikirkan kelengkapan jenis makanan, sehingga tamu undangan tidak manjambaui makanan yang posisinya jauh dari tempatnya duduk.” terang Nurlius.
Saat proses makan akan dimulai, akan ada petatah-petitih yang akan dilakukan oleh tuan rumah, dan perwakilan peserta undangan dengan cara berbalas pantun atau bersahut-sahutan. Hal ini dilakukan sebagai bentuk penghormatan kepada undangan yang telah hadir.
“Si pangka (tuan rumah) dibantu oleh Janang untuk manatiang- natiang piring, biasanya akan dibuka carito awalnya oleh ninik mamak. atau anak pisang (anak saudara laki-laki ibu/ anak mamak) (penyeru) untuk memulai petatah-petitih sebelum proses makan di mulai,” tutur Nurlius.
“Kok iyo lai ka hujan, nak diraoknyo kito sabalik, saralun riak jo galombang, samo makan alek jo pangka … alaaah ka sanang hati sutan?”
Saat tiga siswa laki-laki yang telah dipilih memulai berpetatah-petitih, semua siswa mendengar dengan khidmat. Tiga diantaranya saling sambung-menyambung, yaitu, antara si pangka (tuan rumah), ninik mamak (Banyak pesan moral yang dikandung dalam petatah dan petitih yang disampaikan. Pun, semua majelis guru.
Ikut larut dari dendang pantun yang dibawakan tiga orang siswa yang saling sahut menyahut tersebut. Ketika proses petatah-petitih ini berlangsung, merupakan bagian dari tradisi kita bagaimana seharusnya menempatkan diri dalam ‘Makan Barapak atau makan basamo.
Di sinilah cara kita menghargai yang lebih tua terlebih dahulu. Misal dengan tawaran, “cucilah tangan dulu, Nek. Kemudian, jangan sampai makan bacapak (mengeluarkan suara ketika makan) sehingga orang disebelah kita bisa terganggu bahkan jijik dengan capak yang kita keluarkan.”terang Nurlius.
Merunut kembali tujuan diadakannya kegiatan Makan Barapak ini menurut Sylvia Dharmayani, S.Pd yang merupakan guru wali kelas VB, ini merupakan kegiatan penutup dalam rangka ujian praktik mata pelajaran BAM.
“Kami memilih Makan Barapak ini sesuai dengan kesepakatan dan kesangggupan murid yang mana semua materi dan kelengkapan kegiatan merupakan inisiatif komite kelas 6A dan 6B.” ungkap Isil sapaan akrabnya.
Siswa diajarkan jenis-jenis makanan yang khas atau wajib ada bilamana ada perhelatan dalam adat Minang Kabau. Ada makanan khusus (rendang, goreng ayam, asam padeh ikan, telur balado, yang disusun dengan aturan tertentu.
Lalu berupa aneka sayuran seperti (gulai cubadak (nangka), gulai pakis, anyang (urap) dan makanan pajamba parabuang (camilan/makanan penutup) berupa agar-agar, gelamai, onde-onde. Lalu buah pisang, semangka, dan lain sebagainya yang ditata sedemikian rupa. Pertanyaannya, apakah anak sekarang sudah paham bagaimana etika Makan Barapak?
“Etika atau tata karma sebetulnya tidak hanya saat Makan Barapak saja. Banyak lagi adab yang mesti diketahui oleh anak didik kita. Namun khusus yang ini, tentu siswa mesti paham bahwa ketika “Makan Barapak; pantang kita mencuci tangan terlebih dahulu, sekalipun kita sudah siap dan sudah kenyang,” ungkap Nurlius.
Barangkali dulu masyarakat Minang Kabau tidaklah terlalu banyak. Sehingga aktifitas ‘Makan Barapak’ sering dilakukan terutama saat acara Mananti Bako, khatam kaji, turun mandi, dan Batagak Gala.
Sekarang seiring semakin banyaknya jumlah masyarakat, majunya jaman, sehingga terkadang di sebuah acara perhelatan juga menyuguhkan hidangan prasmanan untuk menghemat tempat, waktu, dan tenaga.
“Makan Barapak’ ini sebagai warisan budaya Minangkabau. Ini merupakan salah satu kearifan lokal yang mesti kita pelihara. Kita sebagai pendidik tentu harus mengetahui tata cara prosesinya dan bagaimana mesti bersikap saat kita duduk bersama dengan masyarakat. Kalau kita sebagai pendidik belum paham, apalagi siswa kita,” pesannya.(***)
Editor : Novitri Selvia