Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

SMP Negeri 3 Kecamatan Lareh Sago Halaban, Membentuk Karakter via Lima S

Novitri Selvia • Rabu, 26 Juni 2024 | 09:45 WIB

Reni marlina,S.Pd, GURU SMPN 3 KECAMATAN LAREH SAGO HALABAN.(TIM LAMAN GURU)
Reni marlina,S.Pd, GURU SMPN 3 KECAMATAN LAREH SAGO HALABAN.(TIM LAMAN GURU)

PADEK.JAWAPOS.COM-Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 mengamanatkan Pancasila sebagai dasar negara dan pandangan hidup bangsa Indonesia yang harus menjiwai semua bidang pembangunan. Salah satu bidang pembangunan nasional yang sangat penting dan menjadi fondasi kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara adalah pembangunan karakter bangsa.

Salah satu kunci keberhasilan program pengembangan karakter pada satuan pendidikan adalah keteladanan dari para pendidik dan tenaga kependidikan. Keteladanan bukan sekadar sebagai contoh bagi peserta didik, melainkan juga sebagai penguat moral bagi peserta didik dalam bersikap dan berperilaku. Oleh karena itu, penerapan keteladanan di lingkungan satuan pendidikan menjadi prasyarat dalam pengembangan karakter peserta didik.

Sekolah merupakan tempat menuntut ilmu bagi peserta didik dan tempat menuangkan ilmu bagi guru. Pembangunan karakter bangsa seperti yang tertera dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dapat terwujud di sekolah. Melalui pendidikan di sekolah, Karakter bangsa dapat dilaksanakan dengan membudayakan lima “S”.

Membudayakan atau kebiasaan bearti sesuatu yang biasa dikerjakan. Kebiasaan adalah perbuatan yang berulang-ulang dalam bentuk yang sama karena banyak orang menyukai dan menganggapnya penting. Oleh karena disukai dan dianggap penting, maka kebiasaan itu terus dilaksanakan.

Kebiasaan disekolah merupakan norma yang keberadaannya dalam lingkungan sekolah diterima sebagai aturan yang mengikat. Dengan demikian, kita dapat memahami bahwa kebiasaan pada hakikatnya adalah perbuatan manusia secara sadar yang dikerjakan oleh banyak orang secara berulang-ulang. Senyum, Salam, Sapa, Sopan dan Santun.

1. Senyum

Senyum merupakan suatu pencerminan seseorang terhadap karakter. Orang yang suka senyum kepada orang lain adalah gambaran orang yang pemaaf. Senyum tidak akan ada harganya bila tidak terbit dari hati yang tulus.

Dalam Faidhul Khathir, Ahmad Amin menjelaskan “Orang yang murah senyum dalam menjalani hidup ini bukan saja orang yang paling mampu membahagiakan diri sendiri, tetapi juga orang yang paling mampu berbuat, orang yang pailing sanggup memikul tanggung jawab, orang paling tangguh menghadapi kesulitan dan memecahkan persoalan, serta orang yang pailng dapat menciptakan hal-hal yang bermanfaat bagi dirinya sendiri dan orang lain”. Bertolak dari hal tersebut maka peserta didik di SMPN 3 Kecamatan Lareh Sago Halaban dibimbing untuk mudah senyum kepada siapapun.

2. Salam

Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim mengatakan “Hendaknya mengucapkan salam yang kecil kepada yang besar, dan yang berjalan kepada yang duduk, dan yang sedikit kepada yang banyak”. Bertolak dari riwayat tersebut maka di SMPN 3 Kecamatan Lareh sago Halaban mengharuskan peserta didik saling menyalami satu sama lain. Bersalaman merupakan hal patut yang kita lakukan untuk membentuk karakter seseoorang.

3. Sapa

Sapa adalah sikap orang ramah, ramah adalah salah satu sifat terpuji. Orang penyapa selalu bermuka manis pada siapapun, ia selalu menunjukan sikap bersahabat dan menghindari permusuhan.Orang penyapa biasanya akan menegur terlebih dahulu bila bertemu dengan orang yang dikenalnya, ia suka menjawab salam atau teguran orang lain.

4. Sopan

Hakikat kesopanan adalah kepantasan, kepatutan, atau kebiasaan yang berlaku dalam kehidupan sehari-hari. Kesopanan juga dapat untuk mengatur pergaulan sehingga masing-masing guru, pegawai, peserta didik dan masyarakat saling hormat menhormati di sekolah dan di lingkungan masyarakat.

Sopan dapat dikategorikan menjadi dua macam. Pertama sopan dalam berbicara. Sesama teman, peserta didik cendrung berbicara kurang sopan disebabkan kurangnya pemantauan orang tua disaat anaknya berada di luar rumah. Kedua sopan berpakaian.

Berpakaian menurut agama islam untuk wanita hurus menutup aurat mulai dari kepala sampai ujung kaki. Artinya wanita muslim harus pandai memilih pakaian untuk dirinya sesuai dengan aturan islam. Nah, di sekolah peserta didik diwajibkan memakai hijap untuk menutup auratnya.

5. Santun

Kesantunan dan kesopanan adalah dua hal yang patut kita lakukan. Santun disini adalah tutur bicara dan bahasa yang digunakan untuk berkomunikiasi. Sebahagian peserta didik berkumunikasi dengan kurang santun. Dengan adanya budaya lima “S” di SMPN 3 Kecamatan Lareh Sago Halaban maka peserta didik akan terbiasa bertutur kata santun.

Senyum, salam, sapa, sopan dan santun apa bila telah dilakukan seseoarng apa lagi guru dan peserta didik di sekolah maka akan terbentuk wajah yang berseri. Hati yang lapang, akhlak yang menawan, jiwa yang lembut dan pembawaan yang tidak kasar.

Karakter peserta didik tidak bisa datang dengan sendirinya, tetapi harus dibangun dan dibentuk. Membangun karakter bertujuan untuk membina peserta didik yang berketuhanan Yang Maha Esa, berkemanusiaan, berjiwa persatuan, berkebijaksanaan dan berkeadilan. Sehingga peserta didik dapat mencapai tujuan yang diinginkan. (Reni marlina,S.Pd, GURU SMPN 3 KECAMATAN LAREH SAGO HALABAN)

Editor : Novitri Selvia
#Reni Marlina #SMP Negeri 3 Kecamatan Lareh Sago Halaban #Lima S #membentuk karakter