PADEK.JAWAPOS.COM-Pendidikan di Indonesia memiliki satu muara tujuan yaitu untuk megembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, serta menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab.
Dengan adanya tujuan Pendidikan yang dicita-citakan bangsa Indonesia maka segala proses yang terjadi dalam pendidikan diharapkan bisa menggali potensi siswa secara optimal, dan seimbang dalam aspek kognitif spiritual dan moral.
Aspek kognitif yang mengacu pada generasi cerdas yang mampu mengembangkan peradaban serta dan meningkatkan daya saing nasional di era revolusi indutri. Aspek spiritual dan moral mengacu pada tercipta warga negara yang demokratis, berpartisipasi aktif dalam masyarakat, dan bertanggung jawab.
Terbentuknya karakter peserta didik yang yang berakhlak mulia, beriman bertakwa pada Tuhan yang maha esa. Dalam pembentukan karakter peserta didik yang beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia bagi peserta didik muslim yang memiliki andil besar adalah pembelajaran pendidikan Agama Islam.
Karena PAI disekolah tidak hanya sebatas memberikan pengetahuan agama saja, tetapi PAI juga menanamkan nilai-nilai moral dan etika yang menjadi pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Akan tetapi dalam realita sering ditemukan motivasi belajar siswa terhadap mata pelajaran PAI masih rendah.
Ketika belajar PAI sering terlihat sikap siswa yang tidak bersemangat atau pasif, kurang antusias, dan hanya belajar PAI hanya sebatas memenuhi tuntutan akademik untuk mendapatkan nilai sesuai kriteria ketercapaian tujuan pembelajaran (KKTP).
Ada beberapa hal yang menyebabkan rendahnya motivasi belajar PAI bagi siswa antara lain pembelajaran masih berpusat pada guru dan guru sebgai objek pendidikan,metode pembelajaran masih konvensional, kurang interaksi, pastisipasi siswa, pembelajaran masih bersifat monoton dan tidak melibatkan emosional siswa.
Untuk mengatasi masalah tersebut, seorang pendidik harus bisa menciptakan pembelajaran yang berpusat pada siswa karena siswa adalah sabjek pendidikan dan guru hanya sebagai pemimpin pembelajran, mengubah strategi dan metode pembelajaran agar menarik dan bisa memotivasi siswa.
Banyak model yang diatawarkan di ataranya adalah model pembelajaran kooperatif Numbered Heads Together (NHT). Model ini adalah model yang lebih interaktif, menyenangkan, dan bermakna.
Peserta didik tidak hanya memahami konsep-konsep agama, tetapi juga belajar menerapkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari, melalui kerja sama, rasa tanggung jawab, dan saling menghargai.
Adapun Langkah dalam pembelajaran kooperatif numbered heads together diawali membagi siswa menjadi beberapa kelompok dan setiap siswa dalam kelompok mendapat nomor yang berbeda. Siswa diberi tugas sesuai dengan nomor yang dimiliki.
Siswa menyelesaikan tugas yang diberikan dengan mendiskusikan dalam kelompok. Setelah selesai dipangil nomor siswa yang memiliki nomor yang sama untuk melaporkan hasil diskusi dan siswa saling melengkapi tugas dan diakir kegiatan guru memverikan evaluasi dan umpan balik terhadap hasil diskusi.
Berdasarkan Langkah langkah dalam pembelajaran Numbered Heads Together tersebut dilihat bahwa pembelajaran tersebut dapat meningkatkan motifasi belajar siswa belajar PAI karena metode tersebut memiliki beberapa kelebihan diantaranya menumbuhkan rasa tanggung jawab, melatih peserta didik untuk saling membantu dan bekerjasama, menumbuhkan rasa percaya diri dan meningkatkan kompetisi secara sehat yang sesuai syariat Islam, meningkatkan pemahaman konsep agama. (Kiki Yulia Muhtari, Guru UPTD SDN 12 Guguak VIII Koto)
Editor : Novitri Selvia