Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

SD Negeri 41 LubukMinturun, Tembus Menulis Puisi Internasional

Novitri Selvia • Senin, 9 Desember 2024 | 14:20 WIB
Jias Mengki, GURU SDN 41 LUBUKMINTURUN.(TIM LAMAN GURU)
Jias Mengki, GURU SDN 41 LUBUKMINTURUN.(TIM LAMAN GURU)

PADEK.JAWAPOS.COM-Dalam dunia pendidikan, guru sering digelar sebagai pelita yang menerangi kehidupan. Jias Mengki, seorang guru di SDN 41 Lubukminturun, membuktikan bahwa seorang pendidik yang bisa menjadi sosok yang menginspirasi tidak hanya melalui pengajaran, tetapi juga lewat karya sastra.

Baru-baru ini, Jias berhasil menorehkan prestasi gemilang di dunia internasional dengan karyan ya yang berjudul Stoning the Longing.
Puisi yang ditulis Jias ini diterima dalam ajang sastra internasional yang merupakan kerja sama antara Indonesia dan India.

Proyek prestisius ini difasilitasi oleh Komunitas Satu Pena Sumatera Barat, sebuah organisasi yang terus mendukung dan mendorong penulis-penulis berbakat di berbagai bidang sastra untuk melangkah ke tingkat global.

Keberhasilan ini tidak hanya membanggakan Jias pribadi, tetapi juga menjadi kebanggaan bagi dunia pendidikan dan komunitas sastra Indonesia. Stoning the Longing adalah sebuah puisi yang penuh makna dan emosi.

Dengan gaya bahasa yang halus namun tajam, Jias berhasil menyampaikan tema universal tentang kerinduan dan perjuangan untuk mengatasi keterbatasan.

Kerinduan yang dimaksud dalam puisi ini tidak hanya berbicara tentang jarak fisik antara dua individu, tetapi juga tentang hasrat untuk meraih sesuatu yang lebih besar dari hidup ini, sebuah panggilan untuk terus bergerak dan tidak menyerah pada keterbatasan.

Jias mengungkapkan bahwa ide untuk menulis puisi ini datang dari pengalaman pribadinya sebagai seorang guru. Setiap hari, ia menyaksikan semangat murid-muridnya yang terus berusaha menggapai mimpi mereka meskipun berasal dari latar belakang yang sederhana.

“Kerinduan itu adalah tentang bagaimana kita semua, baik sebagai individu maupun masyarakat, selalu mendambakan hal yang lebih baik, lebih indah, dan lebih bermakna,” ungkap Jias.

Komunitas Satu Pena Sumatera Barat, sebagai salah satu fasilitator proyek ini, berperan penting dalam membuka jalan bagi Jias untuk tampil di panggung internasional.

Komunitas ini telah lama dikenal sebagai wadah kreatif yang mendukung para penulis, penyair, dan seniman lainnya di Sumatera Barat untuk mengembangkan karya-karya mereka.

Dalam kerja sama dengan India, komunitas ini menghubungkan dua budaya besar yang kaya akan tradisi sastra. Melalui inisiatif ini, para penulis dari kedua negara diberikan kesempatan untuk saling bertukar pikiran, berbagi pengalaman, dan memperkaya karya mereka dengan perspektif lintas budaya.

Jias adalah salah satu dari sedikit peserta yang berhasil melewati proses seleksi ketat untuk menjadi bagian dari proyek ini. Kemampuannya dalam mengolah kata-kata dan menciptakan puisi yang mampu menyentuh hati pembaca menjadi alasan utama karyanya terpilih.

Ajang sastra ini bukan hanya sekadar platform bagi para penulis untuk menunjukkan karya mereka, tetapi juga menjadi tempat untuk mendapatkan pengakuan internasional.

Dengan diterimanya Stoning the Longing dalam proyek ini, Jias berhasil mengharumkan nama Indonesia, khususnya Sumatera Barat, di dunia sastra global. Sebagai seorang guru, Jias juga berharap prestasinya ini bisa menjadi inspirasi bagi murid-muridnya.

“Saya ingin menunjukkan kepada anak-anak bahwa mimpi itu tidak pernah terlalu besar. Dengan usaha, doa, dan dukungan dari orang-orang di sekitar, kita semua bisa mencapainya,” ujar Jias.

Prestasi Jias ini juga menjadi bukti bahwa pendidikan dan seni dapat berjalan seiring untuk menciptakan dampak yang lebih besar. Sebagai seorang guru, ia tidak hanya berfokus pada kurikulum sekolah, tetapi juga mendorong murid-muridnya untuk mengeksplorasi kreativitas mereka di luar kelas.

“Sastra adalah cara lain untuk mengajarkan nilai-nilai kehidupan kepada murid-murid saya. Dengan menulis dan membaca puisi, mereka belajar tentang empati, keberanian, dan keindahan dalam kehidupan sehari-hari,” tambah Jias.

Keberhasilan Jias juga memberikan dampak positif bagi komunitas lokal di Lubuk Minturun. Masyarakat setempat merasa bangga dan termotivasi untuk ikut berkontribusi dalam mengembangkan potensi seni dan budaya di daerah mereka.

“Prestasi Pak Jias adalah bukti bahwa Lubuk Minturun juga memiliki potensi besar dalam bidang sastra. Ini adalah awal yang baik untuk terus mendorong generasi muda agar lebih mencintai literasi,” ujar salah seorang anggota Komunitas Satu Pena.

Ke depan, Jias berharap dapat terus berkarya dan berkontribusi, tidak hanya untuk dunia sastra tetapi juga untuk pendidikan di Indonesia.

Ia bercita-cita untuk mengadakan lokakarya sastra bagi guru dan siswa di Lubuk Minturun, dengan tujuan untuk menanamkan kecintaan terhadap literasi sejak dini.

“Saya percaya bahwa sastra memiliki kekuatan untuk mengubah dunia. Melalui kata-kata, kita bisa menyampaikan pesan-pesan penting yang mampu menyentuh hati dan pikiran banyak orang,” tutup Jias.

Prestasi Jias Mengki adalah contoh nyata bagaimana dedikasi, kreativitas, dan semangat untuk terus belajar dapat membawa seseorang melampaui batas-batas yang ada.

Dengan karyanya, ia tidak hanya menginspirasi generasi muda, tetapi juga memperlihatkan bahwa sastra adalah bahasa universal yang dapat menyatukan dunia.(JIAS MENGKI, MA, Guru SD Negeri 41 Lubukminturun)

Editor : Novitri Selvia
#Menulis Puisi Internasional #SD Negeri 41 Lubukminturun #Jias Mengki