PADEK.JAWAPOS.COM-Kesehatan global bukan lagi urusan para ilmuwan dan tenaga medis semata. Dalam dunia yang saling terhubung, di mana ancaman pandemi, polusi, dan degradasi lingkungan dapat muncul kapan saja, kolaborasi lintas sektor menjadi satu keniscayaan.
Sebagai guru biologi di madrasah yang mengajar generasi muda setiap harinya, saya merasa memiliki tanggung jawab untuk menerjemahkan isu-isu besar tersebut menjadi pemahaman yang relevan dan membumi bagi peserta didik saya.
Karena itu, mengikuti Webinar BRIN bertajuk “Zoonosis, Polutan, dan Hewan Model: Peran Strategis Riset Veteriner dalam Kesehatan Global” menjadi pengalaman penting yang memperluas cakrawala berpikir saya mengenai hubungan antara dunia riset dan dunia pendidikan.
Webinar ini diselenggarakan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), lembaga negara yang bertugas memperkuat ekosistem riset dan inovasi nasional, sebagaimana diamanatkan dalam Peraturan Presiden No. 78 Tahun 2021 tentang BRIN.
Dalam tayangan edukatif yang disiarkan melalui kanal YouTube BRIN, para narasumber membahas peran krusial riset veteriner dalam memantau dan menanggulangi penyakit zoonosis, yaitu penyakit menular yang berpindah dari hewan ke manusia.
Webinar ini juga menjadi bentuk nyata dari upaya BRIN dalam menjembatani hasil riset dengan publik melalui pendekatan komunikasi ilmiah yang lebih inklusif.
Salah satu pemaparan penting disampaikan oleh Dr. drh. Muhammad Khaliim Jati Kusala, M.Si dari Pusat Riset Veteriner BRIN, yang membahas “Penggunaan Hewan Laboratorium dalam Riset Kesehatan di Indonesia”.
Beliau menjelaskan bagaimana hewan model seperti mencit, kelinci, dan tikus putih menjadi bagian tak terpisahkan dalam riset vaksin, terapi, dan deteksi dini penyakit yang bisa meluas ke manusia.
Selain itu, penggunaan hewan model juga memungkinkan pengembangan diagnosis penyakit dan pemahaman patofisiologi, yang penting dalam bidang kedokteran dan kesehatan masyarakat.
Fakta yang mengejutkan adalah bahwa lebih dari 60% penyakit infeksi baru yang muncul berasal dari hewan (CDC, 2022). Wabah COVID-19 adalah bukti nyata bagaimana zoonosis dapat mengganggu stabilitas global, baik dalam aspek kesehatan, sosial, hingga ekonomi.
Indonesia sendiri, sebagai negara megabiodiversitas, memiliki potensi tinggi dalam transmisi zoonotik, jika tidak diiringi dengan riset dan mitigasi yang kuat.
Negara kita memiliki interaksi erat antara manusia, satwa liar, dan hewan ternak—suatu kondisi yang memperbesar risiko transmisi patogen lintas spesies.
Selain ancaman zoonosis, webinar ini juga menyoroti pentingnya memperhatikan polusi lingkungan, seperti mikroplastik, pestisida, dan logam berat yang masuk ke rantai makanan dan berdampak terhadap kesehatan hewan dan manusia.
Dalam konteks ini, riset veteriner dan penggunaan hewan model bukan hanya eksperimen ilmiah, tetapi bagian dari upaya preventive medicine yang lebih luas.
Salah satu yang menarik adalah studi tentang dampak senyawa polutan terhadap mutasi sel, yang berkontribusi pada penyakit kronis seperti kanker dan gangguan metabolisme.
Sebagai guru, saya menyadari bahwa pelajaran biologi tidak cukup hanya membahas klasifikasi makhluk hidup atau anatomi tubuh. Peserta didik perlu dikenalkan pada pendekatan holistik seperti konsep One Health, yang diadopsi WHO dan FAO, yang menekankan integrasi antara kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan.
Hal ini sejalan dengan Permenkes No. 90 Tahun 2019 tentang Penanggulangan Zoonosis dan Penyakit Infeksi Baru, yang menekankan pentingnya pendekatan multidisipliner dalam penanganan penyakit infeksi emerging.
Webinar ini menguatkan tekad saya untuk mengintegrasikan isu-isu kesehatan global ke dalam pembelajaran. Misalnya, dalam tugas proyek biologi, peserta didik bisa diminta mengamati perubahan perilaku hewan akibat perubahan iklim atau membuat kampanye digital tentang pentingnya menjaga sanitasi lingkungan sebagai upaya mencegah penyakit.
Pembelajaran yang kontekstual dan berbasis literasi ilmiah akan membantu mereka tumbuh menjadi generasi yang sadar risiko, berpengetahuan, dan bertanggung jawab. Kegiatan ini juga dapat dikaitkan dengan program Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) dalam Kurikulum Merdeka.
Tema-tema seperti gaya hidup berkelanjutan, kearifan lokal dalam pengelolaan lingkungan, serta budaya gotong royong bisa dikaitkan langsung dengan kesadaran akan pentingnya menjaga kesehatan ekosistem sebagai upaya menjaga kesehatan manusia dan hewan.
Di sinilah guru dapat memainkan peran sebagai fasilitator yang tidak hanya menyampaikan materi, tetapi juga menghubungkan siswa dengan realitas dunia.
Langkah BRIN membuka ruang publikasi ilmiah dan edukasi seperti ini patut diapresiasi. Dalam dunia pendidikan, materi seperti ini bisa dimanfaatkan sebagai sumber belajar lintas kurikulum, terutama dalam pendekatan inquiry-based learning.
Melalui kolaborasi dengan BRIN atau instansi riset lokal, sekolah dapat membuka peluang riset mini atau magang siswa yang mengarah pada peningkatan keterampilan saintifik dan kepekaan sosial.
Saya juga berharap kebijakan pendidikan nasional memberi ruang lebih besar pada sains terapan dan ekosistem riset di tingkat sekolah.
Dukungan terhadap laboratorium sekolah, pengembangan kurikulum kontekstual, serta pelatihan guru berbasis isu global seperti zoonosis dan perubahan iklim, harus menjadi prioritas dalam pembaruan kebijakan pendidikan.
Ini juga sejalan dengan Permendikbudristek No. 56 Tahun 2022 tentang Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan, yang menekankan perlunya penguatan kompetensi guru dalam pembelajaran berbasis isu aktual.
Akhirnya, saya meyakini bahwa menjaga kesehatan global dimulai dari kelas-kelas kecil yang berpikir besar. Guru bukan hanya penyampai materi, tetapi jembatan antara pengetahuan dan aksi nyata.
Saya berharap BRIN, Kementerian Pendidikan, dan lembaga terkait terus bersinergi membangun kultur ilmiah sejak dini, agar Indonesia tidak hanya menjadi konsumen inovasi, tetapi juga produsen solusi masa depan. Mari terus belajar, meneliti, dan berbagi demi masa depan yang sehat, adaptif, dan berkelanjutan.(Dodi Saputra, GURU MAN INSAN CENDEKIA PADANGPARIAMAN)
Editor : Novitri Selvia