PADEK.JAWAPOS.COM-Rabu, tepatnya pada 24 September lalu, lima orang guru SMPN 11 Padang, termasuk kepala sekolah, Arna Fera , S.Si, M.Pd melaksanakan kompetisi di ruang rapat Lt.2 Graha Perencana Zuiyen Rais Bappeda (Badan Perencanaan Pembangunan Daerah) pada Bidang Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Kota Padang tahun 2025.
Mereka mempersentasikan terhadap inovasi yang berhasil dilaporkan ke Kemendagri melalui aplikasi indeks Inovasi Daerah. Kompetisi tahun ini yang terdiri atas 3 (tiga) kategori, yaitu Perangkat Daerah, Sekolah, dan Puskesmas.
Pada hari tersebut, hadir lima sekolah yang memaparkan hasil inovasinya. Sekolah tersebut yaitu, SDN 37 Pegambiran, SDN 30 Kubu Dalam, SDN Yari School, termasuk SMPN 11 Padang.
Di ruangan rapat tersebut tim inovasi SMPN 11 melakukan persentasi dari kelanjutan inovasi yang telah dimulai semenjak 2024 lalu. Adalah Arna Fera, kepala sekolah SMPN 11 Padang yang meretas ide untuk program inovasi di sekolahnya.
Lewat gebrakan yang ia launchingkan tahun lalu bersama tim, persisnya September 2024, inovasi ini telah masuk nominasi 16 besar dari 118 inovasi dalam dunia pendidikan di kota Padang.
Fera, sapaan akrab wanita ramah ini, menjadikan curhat online dan intel beraksi menjadi media curhat tentang permasalahan yang dihadapi siswa.
Fera mengaku, ide awal muncul inovasi curhat online ini, saat ia membaca sebuah situs yang membahas tentang intel. Dimana intel yang dimaksud merupakan siswa-siswi pilihan, dan bisa dipercaya menjadi detektif terhadap permasalahan teman sekelas mereka.
“Jadi ide awalnya itu karena ingin membentuk semacam intel untuk masing- masing kelas. Intel inilah yang akan melakukan investigasi, mencari kebenaran fakta dari permasalahan siswa yang telah ditulis via online melalui google-form yang telah dibuat oleh tim inovasi.
“Kita tahu permasalahan remaja itu sangat kompleks.
Masa pubertas terkadang bisa menjadi sandungan bagi siswa dalam memacu prestasi dan minat belajar mereka. Ada siswa yang tidak mau curhat secara langsung, bahkan malu. Melalui menulis di google-form ini, siswa bisa lebih leluasa dalam curhat online.” ungkap Fera Rabu 24/9.
Lebih lanjut Fera menuturkan, dalam rentangan dua bulan perjalanan inovasi ini, terjaring banyak permasalahan yang dihadapi siswa.
Ada yang curhat tentang permasalah dengan guru. Entah itu dengan guru mata pelajaran, teman, bahkan terkadang dengan wali kelasnya.
"Kami dan tim kemudian mengevaluasi, dan mengambil kebijakan bahwa wali kelas tidak lagi dilibatkan supaya penyelesaian bisa lebih objektif. Sehingga saat ini, g-from yang ditulis siswa hanya bisa diakses oleh saya, selaku kepala sekolah, tim inovasi, dan juga guru BK.”tutur Fera.
Hamela Malini, S.Pd.I, M.A, salah seorang guru yang terlibat dalam tim pembuatan g-form inovasi ini mengungkapkan bahwa kebanyakan siswa terkadang takut untuk sekadar sharing dan terbuka dengan teman.
Kami melihat bahwa terkadang ada anak yang introvert, cemas, dan kikuk untuk mengungkapkan permasalahan yang mereka hadapi. Melalui inovasi ini, siswa diberikan kesempatan untuk mengisi g-form dimana hanya wali kelas dan guru BK yang bisa mengakses data tersebut,” ungkap Mela sapaan guru PAI ini.
Fitri Yani, S.Pd selaku guru BK yang juga terlibat dalam inovasi ini mengungkapkan, saat ini sudah ada 203 kasus yang masuk ke dalam google –form yang disebar di setiap kelas.
Permasalah yang ditulis siswa beragam. Curhatan siswa rata- rata tentang kasus pembullyan, pelecehan seksual, keegoisan teman, dan masalah keluarga. Namun kebanyakan curhat masalah pertemanan,” ungkap Yani Minggu 28/9.
Lebih lanjut Yani mengungkapkan, dengan adanya inovasi curhat online ini, ia mengaku selaku guru BK merasa terbantu. Karena biasanya siswa malu untuk masuk ke ruang BK.
Masuk ke ruang BK dan duduk di sana, terkadang menjadi momok memalukan bagi siswa. Mereka akan di bully oleh teman- temannya.
Bagi sebagian siswa, mereka menganggap jika telah masuk ke ruang BK, berarti mereka adalah siswa yang bermasalah. Dan mereka sangat menghindari berada di ruangan BK.
“Dengan adanya inovasi ini, kami bisa mengetahui bahwa banyak permasalahan yang kadang si enggan, cemas, bahkan malu untuk mengungkapkannya. Dengan demikian, kami bisa cepat mengetahui dan mencarikan solusi dengan tetap menjaga kerahaasiaan identitas si pelapor,” ungkap Yani.
Dalam pelaksanaannya, Yani dan timnya selalu intens dalam memantau permasalahan di google-form. Dalam sehari Yani dan tim bisa menangani 3-5 kasus siswa yang telah melapor di google-form tersebut.
Sebelum melapor, siswa yang kami pilih sebagai intel tadi, kami kroscek dulu kebenaran tentang permasalahan yang dihadapi oleh si korban.
Kami menamainya cepu alias intel atau si mata-mata yang biasanya diambil dari siswa yang bisa dipercaya untuk mencari tahu kebenaran masalah yang dihadapi si korban. “Melalui laporan intel, kamipun bergerak menyelesaikan kasus tersebut,” tambah Yani.
Seiring perkembangan perjalanan inovasi ini, Yani mengaku mendapat respons yang positif. Kerja sama guru, orang tua, dan juga guru BK sebagai tim inovasi ini menjadi titik balik bahwa semua permasalahan siswa harus segera ditindaklanjuti.
Fera menambahkan, saat ini kami juga bekerja sama dengan Dinas Pendidikan, Komisi Perlindungan Anak kota Padang , dan juga beberapa dosen konseling BK di UNP pada kasus- kasus berat.
Semisal pelecehan seksual, pemerasan, cyber crime (kejahatan online) atau ancaman lainnya. Kami tetap menjaga kerahasiaan, atau kode etik korban, apabila terjadi di lingkungan sekolah.
“Kita berharap curhat online dan intel beraksi, bukan sekadar ajang mencari masalah dengan lingkungan kelas, tapi memang menjadi media yang bisa mencarikan jalan keluar bagi si korban, “harap Fera.(Meri Fitriani, S.Pd, SMP Negeri 11 Padang)
Editor : Novitri Selvia