PADEK.JAWPAOS.COM-Meyakinkan diri, bahwa kemampuan yang ia miliki dapat berkembang, bertumbuh tanpa batas. Membangun keyakinan untuk bergerak melakukan proses belajar, bersyukur (berdedikasi) dan melakukan usaha membangun jembatan yang aman, nyaman menuju akhir yang bahagia. Tidak mudah tentunya, namun bisa dilatih, dipantik dan diajarkan.
Bagi seorang pendidik (guru) hal ini menjadi tantangan, sekaligus peluang, tak hanya bagi muridnya, terlebih bagi dirinya sendiri. Tantangan karena tak mudah bagi guru yang terbiasa dengan pola pikir tetap, menerima gagasan bahwa kemampuan dirinya, murid-muridnya dapat dikembangkan tanpa batas.
Kecenderungan memaksa apa yang diyakininya, dalam waktu singkat menampakkan hasil dengan mengbaikan prosesnya.
Hal ini terkadang melemahkan mental guru itu sendiri, sehingga melupakan bahwa kemampuan dikembangkan melalui usaha, butuh waktu, belajar yang berkelanjutan tanpa batas.
Menjadi tantangan tersendiri akibat ketakutan akan kegagalan. Guru dengan pola pikir tetap beranggapan, cukup! Aku yang paling paham, batasku hanya sampai di sini! Atau muridku ini memang segitu kemampuannya, sudahlah.
Sehingga enggan mencoba hal yang baru. Tentu saja tantangan berikutnya adalah dukungan.
Guru membutuhkan dukungan, niat yang dibangun, dukungan dari berbagai pihak, menjadikan guru mampu bergerak, bertumbuh seiring keinginan agar murid-muridnya lebih terbuka dan percaya pada sang guru.
Menjadi sebuah peluang ketika guru dengan pola pikir bertumbuh mendapati dirinya berusaha melihat kesulitan sebagai kesempatan sehingga mendorong mereka untuk terus belajar, meningkatkan kualitas diri.
Menjadi peluang dimana guru dengan tanpa mengurangi wibawanya, mampu memotivasi murid-murid dengan beragam kemampuan, meyakinkan mereka masa depan yang sukses adalah milik mereka, melalui kerjakeras, kegigihan dan kesyukuran mereka pasti mampu meraihnya.
Menjadi peluang, dimana guru dan murid mampu secara bersama-sama melihat kegagalan bukanlah akhir sebuah usaha. Namun, sebagai hal yang normal yang merupakan bagian dari proses belajar.
Point pentingnya adalah bangkit kembali, saling mendukung untuk hasil yang lebih produktif sesuai cita-cita bersama. Sebaik-baiknya guru adalah guru yang mampu menginspirasi murid-muridnya dengan tulus hati.
Sebagai figur panutan muridnya seorang guru dengan pola pikir bertumbuh menjadi “apotek” bagi segala “sakit” muridnya yang sebenarnya telah memiliki “obat” dalam dirinya.
Ucapan motivasi yang tepat kehadiran yang tulus guru menjadi agen perubahan yang dapat menginspirasi, menggerakkan murid-muridnya menghadapi masa depan.
Bangga menjadi dirinya sendiri, yakin dengan pencapaiannya. Hal ini membangun karakter yang tangguh, percaya diri, mampu mencari solusi dalam kondisi yang tidak menguntungkan sekalipun.
Murid-murid menyadari, tenang dan nyaman belajar dengan gurunya. Mengapa? Karena guru mempercayai mereka. Keberhasilan mereka mendapat pujian sesuai porsinya.
Kesalahan justru dijadikan kesempatan bagi otak mereka untuk lebih berkembang. Otakmu butuh strategi yang lebih menantang ucap sang guruu dengan yakin. Sang murid tergerak berbuat lebih baik lagi, dengan cara berbeda.
Pola pikir bertumbuh mengindikasikan bahwa guru tak hanya mengajarkan, namun mempraktikkannya. Guru harus terus belajar, membuka diri terhadap perubahan positif.
Menjadikan dirinya figur yang patut diteladani. Rajin dan tak mudah menyerah. Tidak mengkhianati kepercayaan muridnya dalam bentuk dan kondisi apapun.
Tetap mampu bertindak positif dalam situasi negatif sekalipun. Sang guru sang peziarah, yang tak berhenti pada satu titik untuk diam. Namun terus berjalan untuk menemukan lentera yang hampir padam, bernyala kembali.(Veronika Teja, Guru SD Pius Payakumbuh)
Editor : Novitri Selvia