Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

SMP Negeri 11 Padang, Urgensi Pemikiran KH Dewantara di Dunia Pendidikan Merdeka Belajar

Novitri Selvia • Senin, 2 Maret 2026 | 13:56 WIB

Maizendra, M.Pd, GURU SMPN 8 PADANG.(TIM LAMAN GURU)
Maizendra, M.Pd, GURU SMPN 8 PADANG.(TIM LAMAN GURU)

PADEK.JAWAPOS.COM-Sebelum saya mengikuti CGP angkatan 9, sebelumnya saya merasa program guru penggerak ini merupakan sesuatu kegiatan yang hanya diselimuti dengan tugas-tugas dalam bentuk zoom dan daring.

Sehingga dalam menset saya hanya akan memunculkan sesuatu kebosanan. Ternyata setelah saya bulatkan tekat untuk fokus mengikuti program guru penggerak angkatan 9 sampai ke tahap ini.

Hal yang saya rasa sebelumnya hanya pikiran negatif dan perasaan rasa takut saja ketika akan mengikutinya.

Setelah saya mengikuti lokakarya dan melaksanakan apa yang telah di instruksikan oleh fasilitator dan pembimbing guru penggerak melalui MLS.

Sehingga merubah menset dan pemikiran saya untuk semangat dalam mengikuti program guru penggerak sampai akhir. Pada awal melakukan CGP saya dipancing oleh pertanyaan yaitu apa yang diharapkan dan dikhawatirkan?

Disitulah saya makin semangat karna sesunggunya guru harus menambah ilmu untuk bisa menghadapi pendidikan yang terus berkembang sesuai dengan perkembangan zaman.

Sehingga guru, tidak kekurangan literasi untuk mendidik peserta didik sesuai dengan tujuan yang diharapkan oleh pendidikan.

Tujuan yang diharapkan oleh pendidikan adalah bagaimana dalam proses pendidikan itu.

Terdapat suatu perubahan dan perkembangan sesuai dengan kodrat peserta didik yang telah dimiliki oleh manusia yang haus dengan ilmu, mengharapkan kedatangan seorang guru yang bisa mengisi dirinya dengan ilmu.

Seperti gelas kosong dan kertas putih yang masih kabur-kabur coretan tintanya untuk memiliki pendidikan yang cerah dimasa yang akan datang.

Ketika awal mengikuti CGP saya lebih mendalami pemahaman tentang pendidikan yang sesungguhnya.

Bahwa pendidikan itu mengetuk hati seseorang guru untuk peduli terhadap orang lain dengan memberikan pemahaman dan pengajaran sesungguhnya terhadap peserta didik.

Menjadi seorang guru tidak hanya sekedar melaksanakan kewajiban namun menunaikan kewajiban serta tanggung jawab penuh untuk mencerdaskan anak bangsa.

Kewajiban tersebut disampaikan oleh pakar pendidikan yang disebut juga Bapak Pendidikan KH Dewantara. Beliau menyampaikan bahwa peran seorang guru itu berinteraksi kedalam trilogi pendidikan.

Pertama ingarsyo suntulodo (artinya seorang guru tidak hanya sekedar mengajar saja dengan metode yang dipahami, akan tetapi memiliki daya tarik oleh peserta didik yang akan dijadikan contoh atau model, baik dalam ucapan, perbuatan dan tindakan.

Kedua ing madya mangun karso (artinya seorang guru di tengah-tengah kesibukan, mengambil peran untuk membangkitkan kemampuan peserta didik untuk terus berkolaborasi aktif, kreatif dan mandiri.

Ketiga tut wuri handayani (seseorang guru mampu menjadi motivator bagi peserta didik dan membangkitkan semangat peserta untuk semangat dalam belajar).

Ketiga trilogi tersebut mengetuk hati saya sebagai seorang guru. Dari mana hal itu saya dalami. Yaitu ketika saya memahami dan belajar pada program CGP sampai pada saat ini.

Ternyata tugas dan diskusi yang saya lalui merupakan sesuatu penggugah jiwa saya untuk terus berekreasi dalam mengajarkan ilmu kepada peserta didik.

Di dalam mls ada namanya tugas mulai dari diri sendiri. Tugas tidak hanya sekedar tugas yang dilaksanakan begitu saja, akan tetapi memahami intisari dari pendidikan sesungguhnya.

Bahwa pendidikan itu merupakan sebuah tindakan yang dilakukan oleh seorang berilmu kepada orang lain dengan cara menuntun kodrat anak untuk terus mengembangkan bakat dan minat peserta didik.

Artinya seorang menuntun atau membimbing peserta didik sampai kepada tingkat pemahaman dan memiliki suatu perubahan dari peserta didik, tidak hanya nilai tolok ukurnya.

Akan tetapi terjadinya perubahan besar dalam jiwa peserta didik, dan ter implementasi dalam karakter dan akhlak dalam kehidupan sehari-hari nya.

Setalah saya mempelajari dan belajar dari program guru pengerak, sehingga saya menghadapi peserta didik tidak hanya sekedar mengajar atau menggunakan teacher senter, akan tetapi menerapkan pembelajaran student center (pembelajaran yang bersumber dari peserta didik).

Kemudian saya masuk kedalam lokal harus menyiapkan bahan ajar, atau metode yang cocok untuk digunakan didalam kelas, agar peserta didik bisa aktif, dan kreatif serta mandiri dan bisa mencari sendiri untuk menyelesaikan masalah yang sedang ia hadapi.

Apa-apa saja yang saya persiapkan sebelum mengajar dikelas. Diantaranya saya harus banyak belajar dari guru penggerak lain yang aktif, kemudian berdiskusi dengan anggota KKG, mempersiapkan bahan ajar sesuai dengan kebutuhan peserta didik.

Kemudian melakukan pembuatan media interaktif untuk penunjang dalam pembelajaran. Namun setiap yang dilakukan tidaklah akan berjalan secara mulus saja.

Pasti jelas akan memiliki tantangan, namun jika seorang guru itu sadar akan tanggung jawab sebagai guru, makan ia tidak akan mengeluh dan terhenti dengan pengaruh yang dihadapi seperti melihat tingkah laku peserta didik dizaman sekarang yang sulit untuk dikendalikan, pengaruh gadged yang semakin besar, sehingga membuat watak dari seorang anak sulit untuk diatur, karena mereka sendiri telah memiliki kiblat yang selalu melekat dalam aktivitas ke sehari-hari annya.

Sebagai kesimpulan dari tulisan refleksi ini, terus mengembangkan kompetensi sebagai seorang guru untuk profesional dengan cara banyak belajar dan literasi, apalagi mendalami arti makna pendidikan dan pengajaran yang telah disampaikan oleh Bapak Pendidikan KH Dewantara .

Kemudian teruslah melakukan hal-hal yang baru didalam kelas, berikan kebebasan kepada peserta didik untuk mengembangkan kompetensi yang dimilikinya.

Tugas seorang guru itu, tidaklah menyampaikan dari awal sampai berakhirnya pembelajaran, akan tetapi menjadikan peserta didik sebagai sumber informasi dengan cara mengarahkan, membuka nalar mereka untuk berkolaborasi dan berkreasi secara menyeluruh untuk mengembangkan bakat dan minatnya sesuai dengan kodrat yang diberikan oleh Tuhan Yang Maha Esa.(Maizendra, M. Pd, GURU SMPN 11 PADANG)

Editor : Novitri Selvia
#KH Dewantara #SMP Negeri 11 Padang #Maizendra