PADEK.JAWAPOS.COM-“Sajauah-jauh tabang bangau, suruiknyo ka kubangan juo. Sajauah-jauh kito malangkah, pulang ka fitrah adolah nan paliang elok”
Lebaran baru saja berlalu. Hiruk pikuk kendaraan yang memadati jalanan Sumatera Barat, tawa renyah di ruang tamu, hingga hangatnya katupek gulai paku di meja makan, semuanya bermuara pada satu kata: Pulang.
Kita menyebutnya mudik, sebuah perjalanan fisik untuk kembali ke akar, ke pelukan orang tua, dan ke tempat kita berasal. Yayasan Pendidikan Islam (YPI) Raudhatul Jannah Payakumbuh, memaknai “pulang” lebih dalam lagi.
Di sela khidmatnya Ramadhan kemarin, tepatnya pada 20-21 Februari dan berlanjut 7, 9, 10 Maret 2026, sebanyak 31 guru perwakilan dari unit TK hingga SMA melakukan sebuah “Mudik Spiritual”.
Bukan menempuh jarak kilometer, melainkan menempuh jarak waktu 14 abad silam, menjemput kembali teladan terbaik umat manusia, Rasulullah SAW.
Mengapa harus Mudik ke Shiroh?
Kita tidak bisa menutup mata. Generasi hari ini sedang terpapar badai hubbudunya, sebuah kecenderungan mencintai dunia secara berlebihan yang menjauhkan mereka dari agama.
Anak-anak kita mungkin lebih mengenal algoritma media sosial daripada langkah kaki sang Nabi.
Fenomena hubbudunya (cinta dunia yang berlebihan) mulai mengikis pondasi iman, menjadikan standar kesuksesan hanya sebatas materi dan popularitas semu.
Semangat inilah yang ditekankan oleh Bapak Ihsan Fadila, Ketua YPI Raudhatul Jannah. Beliau memberikan dukungan penuh agar kurikulum sekolah tidak hanya mencetak anak yang pintar secara angka, tapi juga “pintar” secara adab dan aqidah.
Di sinilah urgensi integrasi Shiroh Nabawiyah, kami ingin membawa ananda “pulang” mengenal jati diri mereka sebagai hamba Allah melalui keteladanan Rasulullah sebagai Uswah dan Qudwah.
Dalam pembekalan intensif yang dipandu oleh Ust. Panji Anugerah (Kepala SD 2 Raudhatul Jannah) selaku narasumber, para guru yang ditunjuk sebagai Tim Penggerak Shiroh memetakan empat fase besar perjalanan Nabi untuk diintegrasikan ke dalam pembelajaran yaitu;
Fase Pra-Islam (Analogi Kebutuhan Fondasi yang Kokoh).
Memahami dunia pernah berada dalam kegelapan jahiliyah selama enam abad karena kehilangan arah.
Peradaban hancur karena hilangnya kompas tauhid. Ini menjadi pengingat bahwa kecerdasan intelektual tanpa iman hanya akan melahirkan kerusakan peradaban.
Di Raudhatul Jannah, setiap mata pelajaran dimulai dengan meluruskan niat, bahwa sekolah adalah ibadah.
Fase Pra-Nubuwah (Usia TK): Masa Menanam Adab
Selama 40 tahun, Allah menempa kejujuran Muhammad muda. Selama 40 tahun, Allah menempa pribadi Muhammad SAW melalui perniagaan dan pengembalaan domba.
Ini adalah masa persiapan fisik, mental, dan karakter Al-Amin. Di unit TK, Shiroh diajarkan melalui pembiasaan adab dan karakter Al-Amin.
Seperti Nabi yang dijaga fitrahnya, ananda diajak tumbuh mencintai Allah dan Rasul-Nya melalui lingkungan yang penuh kasih sayang.
Fase Mekkah (Usia SD & SMP): Menghujamkan Aqidah
Tiga belas tahun di Mekkah adalah masa penempaan iman di tengah rintangan. Sesuai teori Social Modeling, siswa membutuhkan sosok nyata untuk ditiru.
Di unit SD dan SMP, integrasi Shiroh bertujuan agar ananda memiliki “mental pejuang” yang kuat, tidak mudah goyah oleh pengaruh negatif zaman, karena akar aqidahnya sudah menghujam dalam.
Sosok Mush’ab bin Umair, pemuda bangsawan paling tampan dan harum di Mekkah, yang rela melepaskan segala kemewahannya demi memeluk Islam.
Ia menjadi “Duta Islam” pertama yang dengan kecerdasan dan kelembutannya mampu mengislamkan Madinah.
Atau keteguhan hati Ibunda Khadijah binti Khuwailid, yang seluruh harta dan jiwanya menjadi benteng bagi dakwah Rasulullah di masa-masa tersulit.
Ketangguhan inilah yang ingin kita wariskan, agar ananda memiliki “mental pejuang” yang tidak goyah oleh perundungan atau tren negatif zaman sekarang.
Fase Madinah (Usia SMA): Melahirkan Pemimpin
Sepuluh tahun di Madinah adalah fase pemenangan dan pembangunan kekuatan. Untuk unit SMA, Shiroh menjadi inspirasi kepemimpinan (leadership).
Mereka dipersiapkan untuk berkontribusi bagi umat dan menjadi duta Islam yang santun menuju Indonesia Emas 2045.
Kita berkaca pada Ali bin Abi Thalib, pemuda yang berani bertaruh nyawa demi strategi hijrah, atau Zaid bin Tsabit, anak muda jenius yang menguasai berbagai bahasa asing dalam waktu singkat demi tugas diplomasi Nabi.
Muara Perjuangan Raudhatul Jannah: Liilla Ikrimatillah
Integrasi Shiroh di Raudhatul Jannah bukan sekadar menambah materi hafalan di buku rapor.
Ini adalah upaya memasukkan “ruh” Islam ke dalam setiap helai pembelajaran. Matematika diajarkan dengan ketelitian Amanah, Sains dengan kekaguman pada ayat Kauniyah, dan Bahasa dengan kelembutan tutur kata Nabi.
Muara dari ikhtiar ini adalah mempersiapkan generasi Rabbani yang mengusung visi “Liilla ikrimatillah”-menegakkan kalimah Laillaha illallah di muka bumi.
Sekolah bukan sekadar gedung, Ia adalah peta jalan bagi generasi yang rindu akan kejayaan Islam. YPI Raudhatul Jannah percaya, bahwa setiap anak yang duduk di bangku kelas hari ini adalah ‘Mush’ab bin Umair’, Ali bin Abi Thalib, Zaid bin Tsabit dan Khadijah masa depan.
Baca Juga: Gubernur Mahyeldi Tinjau BTS Telkomsel di Sitinjau Lauik
Ayah dan Bunda, libur lebaran mungkin telah usai, namun perjalanan “Mudik Spiritual” ananda baru saja dimulai di gerbang sekolah. Mari kita bergandengan tangan.
Biarkan Shiroh Nabawiyah menjadi kompas yang menuntun mereka pulang ke fitrahnya. Selamat kembali ke sekolah, jemput fajar Indonesia Emas 2045 dengan senyum Rasulullah di wajah anak-anak kita. Bismillah, kita mulai perjalanan ini bersama. (*)
Editor : Novitri Selvia