Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

UPTD SDN 02 Payakumbuh: Dari Sampah jadi Kebanggaan, Wujudkan Sekolah Nol Limbah

Novitri Selvia • Kamis, 9 April 2026 | 15:21 WIB
PENGELOLAAN LIMBAH: Siswa UPTD SDN 02 Payakumbuh
menyusun ratusan ecobrick untuk disusun dijadikan kursi
dan plang sekolah baru- baru ini.(TIM LAMAN GURU)
PENGELOLAAN LIMBAH: Siswa UPTD SDN 02 Payakumbuh menyusun ratusan ecobrick untuk disusun dijadikan kursi dan plang sekolah baru- baru ini.(TIM LAMAN GURU)

 
PADEK.JAWAPOS.COM-Berawal dari tantangan, berujung pada karya. Itulah yang dilakukan UPTD SDN 02 Payakumbuh dalam menyikapi kebijakan Pemerintah Kota Payakumbuh terkait larangan membuang sampah ke luar lingkungan sekolah.

Dengan jumlah siswa mencapai 540 orang, sekolah ini justru mampu mengubah persoalan sampah menjadi potensi bernilai melalui gerakan ecobrick.

Memutus Rantai Sampah dari Sumbernya

Potensi timbunan sampah dari aktivitas siswa menjadi perhatian serius. Untuk itu, pihak sekolah mengambil langkah strategis dengan memutus rantai sampah langsung dari sumbernya, yakni kantin dan ruang kelas.

Baca Juga: Halalbihalal Guru PAI Payakumbuh: Hangatkan Silaturahmi, Kuatkan Misi Mendidik

Kebijakan diawali dengan koordinasi bersama penjaga kantin. Diterapkan aturan sederhana namun tegas: “Belanja di Sini, Sampah Kembali ke Sini.” Setiap siswa yang membeli jajanan wajib mengembalikan kemasan plastik kepada penjaga kantin untuk dikelola.

“Kami menjadikan penjaga kantin sebagai garda terdepan. Alhamdulillah, kebijakan ini berjalan baik. Kini tidak ada lagi sampah plastik yang berserakan karena alurnya sudah jelas,” ujar Gustina.

Satu Kelas, Satu Aksi

Gerakan ini diperluas ke seluruh kelas melalui program “Menabung Plastik.” Setiap siswa diminta membawa botol bekas, lalu mengisinya dengan potongan sampah plastik dan kertas hingga padat menjadi ecobrick.

Baca Juga: UPTD SD Negeri 65 Payakumbuh: Semangat Paguyuban, Gelar Gotong Royong Akbar

Kegiatan ini tidak hanya berfokus pada pengelolaan limbah, tetapi juga menjadi sarana pembelajaran karakter. Siswa dilatih untuk disiplin, sabar, dan teliti. Mereka juga memahami bahwa plastik yang sulit terurai dapat diolah menjadi sesuatu yang bermanfaat.

“Kami ingin menanamkan kesadaran bahwa sampah adalah tanggung jawab bersama. Target kami jelas, tidak ada satu pun sampah plastik yang keluar dari lingkungan sekolah. Semua harus diolah menjadi sesuatu yang bernilai,” tegasnya.

Disulap Jadi Identitas dan Fasilitas

Hasilnya mulai terlihat nyata. Ratusan ecobrick yang terkumpul dimanfaatkan menjadi berbagai karya fungsional dan estetis. Rangkaian ecobrick yang dibingkai dengan pelat besi kini menjadi plang nama “SDN 02 Payakumbuh” di pagar sekolah.

Baca Juga: Huntap Korban Bencana Gunakan, Pembangunan Lebih Cepat

Selain itu, ecobrick juga dimanfaatkan sebagai bahan pembuatan kursi dan meja ramah lingkungan yang digunakan siswa.

Menuju Sekolah Hijau

Program ini membawa dampak positif bagi lingkungan sekolah. Selain menciptakan kemandirian dalam pengelolaan sampah, kegiatan ini juga mengubah pola pikir siswa terhadap sampah plastik.

SDN 02 Payakumbuh kini menjelma menjadi sekolah yang tidak hanya fokus pada pembelajaran akademik, tetapi juga menjadi laboratorium hidup bagi pendidikan lingkungan.

Baca Juga: JKA Dorong Penguatan SDM Transportasi, Padangpariaman Perkuat Sinergi Nasional

Melalui gerakan ecobrick, sekolah ini membuktikan bahwa keterbatasan bukanlah penghalang. Justru dari keterbatasan lahir inovasi yang mampu mengubah sampah menjadi estetika dan kebanggaan bersama. (Gustina, M.Pd., PLT KEPALA UPTD SDN)

Editor : Novitri Selvia
#UPTD SDN 02 Payakumbuh #Sekolah Nol Limbah #Gustina