Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Bahagia Menjadi Guru

Adriyanto Syafril • Jumat, 24 April 2026 | 10:24 WIB
Murid SMP Nurul Ikhlas sedang membaca dan mempelajari sejarah islam yang menjadi salah satu mata pelajaran yang harus diikuti. (TIM LAMAN GURU)
Murid SMP Nurul Ikhlas sedang membaca dan mempelajari sejarah islam yang menjadi salah satu mata pelajaran yang harus diikuti. (TIM LAMAN GURU)

Penulis : Riko Deris, M.Pd., Gr  - Guru Pendidikan Pancasila SMP Nurul Ikhlas Kab. Tanahdatar

PADEK.JAWAPOS.COM - Jika pengalaman adalah guru yang terbaik, maka menjadi seorang guru merupakan pengalaman yang terbaik.

Ketika suatu kali ada yang bertanya, “Apa motivasi yang membuat Anda selalu bersemangat untuk mengajar?” Semua saya lakukan karena Allah swt dan itulah yang membuat saya semangat terus mengajar.

Tak terasa bertahun-tahun telah berlalu, tiba-tiba ada murid  yang ingat masa-masa di sekolah bersama , itulah yang membuat saya menjadi termotivasi  terus mengajar.

Ada semacam kebahagiaan tersendiri di dalam hati ketika murid yang kita ajar dulu masih ingat tentang kebaikan yang pernah kita ajarkan. Terlebih lagi jika mereka sekarang sudah menjadi orang sukses di bidangnya.

Guru sangat jauh berbeda dengan profesi seorang karyawan. Karyawan pulang tanpa membawa banyak tumpukan pekerjaan. Sementara guru, seringkali membawa tanggungan pekerjaan sebagai hasil dari suatu pembelajaran di sekolah.

Guru menjadi orang tua kedua bagi muridnya. Mulai dari merencanakan kegiatan pembelajaran, dituntut harus pandai berkomunikasi, berwawasan luas, visioner, mengorganisasi kelas, ataupun menjadi sosok yang bisa mengayomi.

 Seseorang yang menjadikan segala urusan muridnya berjalan dengan lancar. Sosok yang bisa memberi kebahagiaan bagi muridnya, serta menyebarkan perasaan gembira dalam proses pembelajaran.

Pengalaman mengajar selama sepuluh tahun terakhir telah mendorong saya untuk berbuat lebih baik lagi di tahun-tahun berikutnya.

Banyak sekali pengalaman didapatkan ketika menjadi guru. Saat pertama kali menjadi guru kelas 7 di sebuah SMP Swasta di Kecamatan X Koto Kabupaten Tanahdatar, saya sempat ragu apakah bisa menjalankan peran ini dengan baik atau tidak. Saya benar-benar harus belajar lagi, baik materi pelajarannya maupun cara mengajar yang bisa dipahami  murid di kelas 7.

Pengalaman mempersiapkan murid dalam mengikuti berbagai kegiatan kepramukaan dan perlombaan juga memberikan saya pembelajaran yang luar biasa.

Semua yang saya alami itu berdampak sangat positif bagi perjalanan hidup dan kehidupan saya. Saya jadi sadar bahwa menjadi guru bukan hanya sekadar mengajar di kelas lalu pulang. Bukan begitu, karena guru adalah pendidik yang harus bisa menjalankan berbagai peran bagi muridnya, menjadi orang tuanya, temannya, pembimbingnya, pelatihnya dan sebagainya.

Selain mengajar di sekolah, berkomunikasi dan menjalin kerja sama dengan wali murid juga pengalaman yang sangat berharga. Saya membentuk grup WA khusus untuk mempermudah berkolaborasi dan berkomunikasi dengan wali murid.

Tanpa grup, guru akan kesulitan untuk memantau dan melaporkan hasil perkembangan serta kegiatan para muridnya. Grup mendorong guru dan wali murid berjalan selaras dan beriringan.

Menjadi guru sungguh banyak tantangannya. Menjadi guru tidaklah mudah, kita harus memahami beragam karakter murid kita, dan itu adalah pekerjaan yang sangat membutuhkan perhatian.

Apalagi mereka mempunyai latar belakang yang tidak sama yang kadang akan terbawa-bawa sampai ke sekolah. Murid adalah amanah yang harus kita bimbing sehingga menjadi generasi yang berpotensi, mempunyai harkat dan martabat yang bisa mengemban tugas sebagai generasi pelurus bangsa, itulah yang membuat saya selalu ingin membuat mereka lebih baik lagi ke depannya.

Begitu banyak suka dan duka yang dapat saya ambil hikmahnya ketika pertama kali menjadi guru. Perlu banyak kesabaran dan ketelatenan apalagi mengajar anak SMP, mengingat SMP Nurul Ikhlas adalah SMP yang sarana dan prasarananya sangat terbatas ketika itu.

Di sinilah tantangannya bagi saya bagaimana dengan keadaan yang seperti ini bisa membuat SMP yang kecil dengan segala fasilitas  seadanya bisa menjadi SMP yang muridnya mempunyai kompetensi yang bagus.

Setiap saat saya selalu memberi semangat kepada mereka untuk meraih apa yang mereka cita-citakan dengan semangat belajar walau dengan keterbatasan yang ada, karena belajar mencari ilmu pengetahuan itu bisa dilakukan siapapun, di manapun dan kapanpun juga.

Saya selalu mengatakan kepada mereka: “Jangan jadikan segala keterbatasan itu menjadi penghalang bagi kita untuk maju”. Mungkin hal inilah yang membuat mereka kadang begitu dekat dengan saya. (*)

Editor : Adriyanto Syafril
#SMP Nurul Ikhlas #Laman Guru Tanahdatar #Laman Guru