Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

TKA SD 2026: Antara Pemetaan Mutu dan Tekanan Baru bagi Siswa

Adriyanto Syafril • Kamis, 30 April 2026 | 09:12 WIB
Siti Nur Isnaini, M.Pd
Siti Nur Isnaini, M.Pd

Penulis : Siti Nur Isnaini, M.Pd - Guru SD Negeri 36 Payakumbuh

Di tengah upaya pemerintah meningkatkan mutu pendidikan dasar, Tes Kompetensi Akademik (TKA) di Sekolah Dasar hadir sebagai instrumen baru yang menjanjikan pemetaan kemampuan siswa secara lebih objektif.

Namun, pertanyaan mendasar muncul dari ruang kelas: apakah TKA benar-benar membantu siswa belajar lebih baik atau sekadar memenuhi kebutuhan data sistem.

Ketika anak-anak usia sekolah dasar kembali dihadapkan pada evaluasi berskala luas, kekhawatiran pun menguat. Tujuan pengukuran dikhawatirkan menggeser esensi pembelajaran dari proses bermakna menjadi sekadar capaian terukur.

Saat ini, siswa Sekolah Dasar (SD) di seluruh Indonesia, termasuk di Kota Payakumbuh, sedang menjalani TKA yang berlangsung pada 20 hingga 30 April 2026. TKA ini digadang-gadang mampu memotret capaian belajar secara objektif.

Momentum ini bukan sekadar agenda rutin, melainkan penanda kembalinya evaluasi berskala luas di jenjang SD. Rangkaian kegiatan telah dimulai dari simulasi hingga gladi bersih sejak Maret.

Tes TKA merupakan asesmen terstandar yang dirancang untuk mengukur capaian akademik murid pada mata pelajaran tertentu. Kebijakan ini dilatarbelakangi kebutuhan akan laporan capaian belajar yang objektif dan dapat dibandingkan secara nasional.

Selama ini, penilaian antar sekolah dinilai belum sepenuhnya setara dan adil. Karena itu, TKA diharapkan mampu menjadi solusi dalam menyamakan standar penilaian.

Secara konseptual, TKA tidak hanya berfungsi sebagai alat ukur. TKA juga menjadi instrumen penyedia informasi capaian akademik murid untuk berbagai kepentingan, termasuk seleksi pendidikan.

Selain itu, TKA bertujuan memberikan gambaran kekuatan dan kelemahan belajar siswa. TKA juga mendorong peningkatan kualitas penilaian guru serta menjamin kesetaraan hasil belajar.

Dengan demikian, dalam kerangka idealnya, TKA berfungsi sebagai alat diagnostik sekaligus pemetaan mutu pendidikan nasional. TKA tidak hanya berbicara tentang hasil akhir, tetapi juga menjadi dasar perbaikan pembelajaran.

Namun, di sinilah letak titik kritisnya. Dalam praktik di lapangan, muncul pertanyaan apakah fungsi tersebut benar-benar dirasakan oleh guru dan siswa.

Pelaksanaan TKA di sekolah menunjukkan sejumlah kelemahan yang cukup nyata. Pada banyak satuan pendidikan, TKA masih terkesan dipaksakan dan belum diiringi kesiapan matang.

Kesiapan sarana dan prasarana, terutama perangkat, jaringan, dan teknis pelaksanaan, belum merata di semua sekolah. Kondisi ini membuat pelaksanaan tidak berjalan optimal.

Di sisi lain, sosialisasi kepada orang tua masih belum maksimal. Banyak orang tua belum memahami secara utuh tujuan dan manfaat TKA.

Akibatnya, muncul persepsi yang beragam dan cenderung keliru. Hal ini berujung pada tekanan tambahan bagi siswa untuk mendapatkan nilai tinggi.

Menjelang pelaksanaan tes, terjadi pergeseran fokus pembelajaran di sejumlah sekolah. Kegiatan belajar lebih banyak diarahkan pada latihan soal dan pembahasan tipe pertanyaan.

Waktu untuk eksplorasi dan pemahaman mendalam menjadi berkurang. Siswa pun mulai merasakan tekanan, sehingga proses belajar berpotensi kehilangan makna.

Meski demikian, TKA juga memiliki sisi positif. Kehadirannya mendorong guru lebih fokus pada penguatan literasi dan numerasi.

Siswa mulai terbiasa dengan soal yang menuntut pemahaman dan penalaran. Diskusi antar guru terkait strategi pembelajaran juga semakin berkembang.

Ke depan, output TKA perlu dipahami secara menyeluruh. Hasil TKA SD berupa laporan capaian yang memuat level kompetensi dan daya serap materi, khususnya Matematika dan Bahasa Indonesia.

Hasil tersebut dilengkapi dengan Sertifikat Hasil TKA (SHTKA) dengan skala skor 0–100. Kategori penilaian meliputi istimewa, baik, memadai, dan kurang.

Hasil ini tidak menjadi penentu kelulusan siswa. Namun, berfungsi sebagai alat pemetaan nasional, validator nilai rapor, dan pertimbangan seleksi ke jenjang SMP.

Pada akhirnya, manfaat TKA tidak bisa dilihat secara hitam putih. TKA dapat memberi manfaat jika digunakan secara tepat.

Sistem pendidikan memperoleh data pemetaan mutu secara menyeluruh. Sementara siswa dapat memanfaatkannya sebagai alat evaluasi diri.

Kunci utama terletak pada pemanfaatan hasil TKA. Jika digunakan untuk mendukung pembelajaran yang sesuai kebutuhan siswa, maka TKA akan benar-benar bermakna. (*)

Editor : Adriyanto Syafril
#Tes Kompetensi Akademik #TKA SD 2026 #pendidikan dasar #evaluasi siswa #kebijakan pendidikan