Penulis : Sari Fitria, S.Pd.SD.MM - Kepala UPT SDN 16 Supayang
Suasana haru bercampur bangga menyelimuti Aula UPT SDN 16 Supayang, Kecamatan Salimpaung, saat sekolah tersebut menggelar acara Perpisahan dan Pelepasan Siswa Kelas VI Tahun Pelajaran 2025/2026, Senin (4/5/2026).
Acara yang berlangsung sederhana namun penuh makna itu dihadiri unsur pemerintahan kecamatan, pemerintah nagari, tokoh masyarakat, wali murid, hingga para guru yang selama ini mendampingi siswa menempuh pendidikan dasar.
Berbeda dari biasanya, perpisahan digelar sebelum pelaksanaan ujian akhir. Langkah ini sengaja dilakukan pihak sekolah sebagai bentuk motivasi dan dukungan moral bagi siswa agar lebih percaya diri menghadapi ujian.
Momen pelepasan itu bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan menjadi ruang kebersamaan yang memperlihatkan kuatnya hubungan emosional antara siswa, guru, dan orang tua.
Sekcam Salimpaung Andry yang hadir dalam kesempatan tersebut memberikan apresiasi terhadap perkembangan SDN 16 Supayang. Menurutnya, sekolah itu menjadi contoh bagaimana sinergi antara tenaga pendidik, pemerintah nagari, dan masyarakat mampu melahirkan lingkungan pendidikan yang aktif dan berprestasi.
Ia menilai kekompakan seluruh unsur sekolah menjadi modal penting dalam mencetak generasi muda yang berkualitas.
Kemudian, ketika acara berlangsung saya menyampaikan bahwa sekolah terus berupaya meningkatkan mutu pendidikan melalui berbagai program akademik dan nonakademik. Selama beberapa tahun terakhir, siswa SDN 16 Supayang aktif mengikuti berbagai lomba, mulai dari kegiatan yang digelar Kemendikbud hingga kompetisi tingkat nasional. Salah satu prestasi yang membanggakan tahun ini adalah keberhasilan seorang siswa meraih Juara I O2SN cabang bulutangkis tingkat Kecamatan Salimpaung dan berhak mewakili kecamatan ke tingkat kabupaten.
Suasana paling mengharukan terjadi ketika para siswa menyerahkan bunga kepada guru mereka. Tangis haru pecah saat siswa memeluk para guru yang selama enam tahun menjadi pembimbing sekaligus orang tua kedua di sekolah. Banyak wali murid tampak ikut meneteskan air mata menyaksikan momen perpisahan tersebut.
Dalam sambutannya, Sari Fitria berpesan agar para siswa tetap menjaga ibadah, menghormati orang tua dan guru, serta membawa nama baik sekolah di mana pun berada. Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga adat dan nilai budaya Minangkabau di tengah perkembangan zaman.
Pesan itu disampaikan melalui pepatah Minang “Dima bumi dipijak, di sinan langik dijunjuang”, yang mengandung makna agar setiap anak mampu menempatkan diri dan menghormati lingkungan tempat mereka berada.
Wali Nagari Supayang, Nofrizal, turut memberikan motivasi kepada para siswa agar terus semangat melanjutkan pendidikan. Menurutnya, para lulusan SDN 16 Supayang merupakan generasi penerus yang akan membawa nama baik Nagari Supayang di masa depan.
Perpisahan itu menjadi bukti bahwa pendidikan bukan hanya soal proses belajar di ruang kelas, tetapi juga tentang membangun karakter, kebersamaan, dan harapan.
Di tengah keterbatasan, SDN 16 Supayang menunjukkan bahwa sekolah di nagari mampu melahirkan siswa berprestasi sekaligus berkarakter melalui dukungan bersama antara guru, orang tua, pemerintah, dan masyarakat. (*)
Editor : Adriyanto Syafril