Penulis : Dilla, S.Pd - Guru SMPN Bukittinggi
Suasana haru bercampur bangga menyelimuti Lapangan SMP Negeri 2 Bukittinggi pada Sabtu (16/5). Pelepasan siswa kelas IX tahun ajaran 2025/2026 tidak sekadar menjadi seremoni perpisahan, tetapi juga menjadi panggung apresiasi karya dan perayaan budaya literasi yang terus tumbuh di sekolah tersebut.
Kegiatan yang berlangsung meriah itu dihadiri anggota DPRD Kota Bukittinggi, Nur Hasra, B.Sc., lurah, Babinsa, Bhabinkamtibmas, komite sekolah, orang tua siswa, serta para tamu undangan lainnya.
Pada kesempatan tersebut, hampir 300 siswa kelas IX secara resmi diserahkan kembali kepada orang tua setelah menempuh pendidikan selama tiga tahun di SMPN 2 Bukittinggi.
Prosesi penyerahan itu menjadi simbol berakhirnya perjalanan belajar mereka di bangku sekolah menengah pertama, sekaligus awal perjalanan baru menuju jenjang pendidikan berikutnya.
PLT Kepala SMPN 2 Bukittinggi, Yessy Suryanty, M.Pd., dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas perjalanan, kerja keras, serta berbagai capaian yang telah ditorehkan para siswa selama menempuh pendidikan.
“Anak-anak yang hari ini dilepas tidak hanya membawa ijazah dan nilai akademik, tetapi juga pengalaman, karakter, dan bekal kehidupan yang akan menjadi penguat langkah mereka ke depan,” ujarnya.
Pelepasan siswa tahun ini semakin istimewa karena dirangkai dengan peluncuran karya buku guru dan siswa serta majalah digital sekolah. Sejak 2023 hingga 2026, SMPN 2 Bukittinggi tercatat telah melahirkan 11 karya buku siswa dan tiga majalah digital, menjadi bukti nyata konsistensi sekolah dalam membangun budaya literasi.
Tidak hanya siswa, budaya menulis di SMPN 2 Bukittinggi juga tumbuh kuat di kalangan pendidik. Sejumlah guru telah melahirkan berbagai karya berupa buku tunggal maupun buku antologi, yang lahir dari pengalaman mengajar, refleksi pendidikan, hingga karya sastra.
Kehadiran karya-karya tersebut menunjukkan bahwa budaya literasi di sekolah tidak berhenti di ruang kelas, tetapi menjadi gerakan bersama yang melibatkan seluruh warga sekolah.
Kepala Sekolah, Yessy Suryanty, mengapresiasi hadirnya berbagai karya tersebut sebagai bagian dari upaya membangun sekolah yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga produktif dalam berkarya.
Menurutnya, karya yang lahir dari guru dan siswa bukan sekadar tumpukan halaman yang dibukukan, melainkan jejak pemikiran, kreativitas, dan keberanian untuk menyampaikan gagasan kepada masyarakat.
Gerakan literasi di SMPN 2 Bukittinggi sendiri terus berkembang melalui berbagai kolaborasi. Salah satunya digerakkan oleh Dilla, S.Pd., yang aktif menginisiasi dan mendampingi kegiatan literasi sekolah.
Melalui berbagai program menulis, pendampingan karya, hingga penerbitan buku siswa, budaya membaca dan menulis terus ditumbuhkan secara berkelanjutan.
Gerakan tersebut juga mendapat dukungan penuh dari pimpinan sekolah serta rekan sejawat. Tujuannya bukan sekadar menghasilkan buku atau mengejar prestasi, melainkan membentuk generasi yang beradab, berpikir kritis, dan memiliki kecakapan literasi yang baik.
Perjalanan itu tentu tidak selalu berjalan mulus. Berbagai tantangan hadir di tengah perkembangan teknologi dan perubahan kebiasaan generasi muda. Namun, kondisi tersebut tidak menyurutkan langkah untuk terus bergerak menghadirkan ruang-ruang literasi yang lebih dekat dengan kehidupan siswa.
SMPN 2 Bukittinggi sendiri sebelumnya juga mendapat apresiasi sebagai Sekolah Penggerak Menulis Pantun ASEAN Terbaik tingkat Sumatra Barat, memperkuat identitas sekolah sebagai salah satu penggerak literasi di daerah.
Acara pelepasan turut dimeriahkan dengan pentas seni siswa yang menampilkan beragam kreativitas di hadapan tamu undangan dan orang tua siswa. Berbagai pertunjukan seni yang ditampilkan menjadi ruang bagi siswa untuk menunjukkan bakat dan ekspresi diri yang selama ini tumbuh di lingkungan sekolah.
Momen tersebut juga dirangkai dengan pemberian kenang-kenangan kepada guru yang memasuki masa purna tugas dan guru yang pindah tugas, sebagai bentuk penghargaan atas dedikasi dan pengabdian mereka.
Sementara siswa kelas IX juga menyerahkan kenang-kenangan kepada sekolah sebagai simbol rasa terima kasih dan kecintaan terhadap almamater.
Pada kesempatan yang sama, pihak sekolah menyampaikan apresiasi kepada Nur Hasra, B.Sc, yang selama ini turut mendukung kemajuan SMPN 2 Bukittinggi melalui bantuan dana pokok pikiran (pokir) untuk pembangunan atap lapangan sekolah. Menjelang akhir acara, suasana haru mulai menyelimuti lapangan sekolah.
Tangis pecah ketika para siswa dan guru saling bersalaman. Pelukan dan ucapan terima kasih mengalir di antara mereka, menutup perjalanan tiga tahun yang telah dilewati bersama.
Hari itu, yang dilepas bukan sekadar siswa yang telah menuntaskan pendidikan, tetapi juga ribuan kenangan yang tumbuh dari ruang kelas, halaman sekolah, dan cerita-cerita yang kelak akan terus mereka bawa sepanjang perjalanan hidup.
Hari itu, pelepasan siswa tidak hanya menjadi akhir dari masa belajar di SMPN 2 Bukittinggi, tetapi juga menjadi perayaan tentang persahabatan, kenangan, karya, dan mimpi-mimpi yang siap melangkah menuju masa depan. (*)
Editor : Adriyanto Syafril