Penulis : Medria Deni Yanti, S.Pd - Guru SDN 01 Situjuah Gadang
Ketika program Sekolah Penggerak hadir, banyak kepala sekolah bersemangat mengikutinya. Program ini dianggap jalan menuju sekolah yang lebih maju, modern, dan berkualitas. Buk Nurma pun termasuk salah satu kepala sekolah yang didorong langsung oleh kepala dinas pendidikan untuk ikut serta.
Sejujurnya, awalnya beliau tidak terlalu tertarik. Buk Nurma lebih memilih fokus membenahi sekolah kecil yang dipimpinnya di pelosok desa. Namun karena dorongan dan harapan besar dari pimpinan, beliau mengikuti seluruh tahapan seleksi. Mulai dari tes skolastik, tes tertulis, hingga administrasi berhasil dilaluinya dengan baik.
Sayangnya, beliau gagal pada tahap wawancara.
Kegagalan itu bukan karena Buk Nurma tidak memiliki pengalaman memimpin. Saat wawancara, beliau menjawab jujur berdasarkan kondisi nyata di desa. Beliau menyampaikan bahwa pembelajaran daring belum sepenuhnya cocok diterapkan di daerah tersebut. Banyak anak terkendala jaringan internet, fasilitas belajar, bahkan pendampingan orang tua di rumah. Menurut beliau, pendidikan di desa tidak bisa disamakan sepenuhnya dengan kondisi kota.
Jawaban itu ternyata bertolak belakang dengan arah program yang diharapkan.
Buk Nurma gagal menjadi kepala sekolah penggerak.
Setelah kegagalan itu, beliau kembali menjalani aktivitas seperti biasa.
Datang ke sekolah sejak pagi, mendampingi guru, menata lingkungan belajar, dan memastikan anak-anak merasa nyaman. Beliau berpikir mungkin memang jalan pengabdiannya bukan di sana.
Namun setahun kemudian, kepala dinas pendidikan kembali meminta beliau mengikuti seleksi.
Bahkan Buk Nurma diminta datang ke ibu kota provinsi. Awalnya beliau kira hanya untuk pelatihan biasa. Ternyata beliau diarahkan lagi untuk mengikuti program kepala sekolah penggerak.
Kali ini beliau menerima dengan pertimbangan berbeda. Buk Nurma mulai berpikir bahwa setiap program pasti memiliki manfaat. Apalagi ada bantuan dana seratus juta rupiah yang bisa digunakan untuk meningkatkan fasilitas sekolah. Sebagai kepala sekolah di daerah, beliau membayangkan betapa indahnya jika sekolah kecil itu memiliki fasilitas yang lebih lengkap dan nyaman bagi anak-anak.
Beliau kembali menjalani seluruh proses seleksi. Berbagai tugas dan tulisan harus diselesaikan dalam waktu singkat. Bahkan ada malam-malam tanpa tidur demi memenuhi persyaratan. Buk Nurma lolos tahap demi tahap dan kembali sampai pada wawancara akhir.
Namun sekali lagi, beliau gagal.
Padahal wawancara berlangsung lancar. Penguji banyak bertanya tentang apa yang telah beliau lakukan selama memimpin sekolah. Ketika Buk Nurma menjelaskan berbagai aktivitas di sekolah, salah seorang penguji bertanya mengapa beliau sesibuk itu padahal hanya memimpin sekolah negeri biasa.
Dari situlah beliau mulai memahami sesuatu. Kepala sekolah yang sejak pukul setengah enam pagi sudah sibuk memikirkan sekolah, mendampingi guru, menerima wali murid, mengurus kegiatan siswa, hingga pulang menjelang sore, ternyata memiliki ritme kerja yang berbeda dengan konsep kepemimpinan yang dibayangkan dalam program tersebut.
Saat itu Buk Nurma benar-benar sedih. Beliau merasa mengecewakan banyak pihak. Guru-guru yang selalu mendoakan demi kemajuan sekolah. Kepala dinas pendidikan yang begitu berharap beliau berhasil. Bahkan beliau merasa bersalah karena telah diberi kepercayaan besar tetapi belum mampu mewujudkannya.
Namun dari kegagalan itu, Buk Nurma belajar satu hal penting: sekolah hebat tidak selalu lahir dari program hebat. Sekolah yang maju lahir dari kepala sekolah dan guru-guru yang terus bertumbuh serta bekerja dengan hati.
Beliau kembali bekerja seperti biasa.
Sedikit demi sedikit perubahan mulai terlihat di sekolah yang dulu hampir tidak diminati masyarakat. Buk Nurma bersama guru-guru berhasil melahirkan puluhan penghafal Al-Qur’an dan menyelamatkan banyak anak dari buta huruf Al-Qur’an. Sekolah tersebut juga menjadi juara umum bidang seni selama beberapa tahun berturut-turut. Mushala sekolah berhasil dibangun. Ruang guru ditata senyaman mungkin agar guru betah bekerja dan berdiskusi. Pondok literasi hadir di halaman sekolah untuk menumbuhkan budaya membaca. Fasilitas kegiatan siswa semakin lengkap. Bahkan drumband sekolah mendapatkan bantuan tahun itu juga dari ketua DPRD, dan bisa tampil memukau dalam setiap acara.
Semua itu tidak lahir dari bantuan program besar, melainkan dari gotong royong masyarakat, dukungan perantau, alumni, dan semangat guru-guru yang bekerja dengan tulus.
Kini Buk Nurma memahami bahwa keberhasilan sekolah bukan hanya diukur dari gelar atau status yang dimiliki kepala sekolahnya. Yang paling penting adalah apakah sekolah tersebut benar-benar hidup, dicintai masyarakat, dan mampu membawa perubahan bagi anak-anak di sekitarnya.
Mungkin Buk Nurma memang gagal menjadi kepala sekolah penggerak. Namun beliau tidak gagal menggerakkan sekolah.
Karena pada akhirnya, pendidikan bukan hanya tentang program dan predikat. Pendidikan adalah tentang hati yang terus mau bekerja, bertumbuh, dan mengabdi demi masa depan anak-anak bangsa. Kegagalan dalam seleksi tidak memadamkan semangat Buk Nurma. Justru dari sanalah lahir pengabdian yang lebih tulus, membumi, dan berdampak nyata bagi masyarakat desa.
Buk Nurma membuktikan bahwa seorang kepala sekolah tidak perlu menyandang predikat “penggerak” untuk bisa menggerakkan. Cukup dengan ketulusan, kerja keras, dan cinta pada anak-anak, perubahan besar bisa terjadi dari hal-hal kecil yang dilakukan setiap hari. Dan itulah penggerak sejati. (*)
Editor : Adriyanto Syafril