Penulis : Nevi Afriani, S.Pd. - Guru Bahasa Indonesia SMPN 9 Payakumbuh
Sekolah adalah lembaga para murid mendapatkan pembelajaran di bawah pengawasan guru. Sekolah bukan hanya tempat aktivitas transfer ilmu, melainkan ruang tumbuh dan berkembang bagi murid maupun guru dalam mengembangkan kemampuan baik akademik maupun nonkademik.
Dalam konteks pendidikan, kualitas dari kegiatan proses belajar mengajar (PBM) menjadi indikator penting keberhasilan suatu lembaga pendidikan mencapai tujuan pendidikan itu sendiri. Namun, kualitas PBM tidak semata-mata ditentukan kurikulum, pendekatan pembelajaran, media pembelajaran, metode pembelajaran, atau kecerdasan yang dimiliki guru dan murid.
Ada faktor lain yang penting dalam mencapai pendidikan. Faktor yang terkadang sering luput dari pemantauan bersama, yaitu kenyamanan di lingkungan sekolah. Dalam dunia kerja modern baik di sekolah atau lingkungan pendidikan, produktivitas guru tidak hanya ditentukan kemampuan teknis atau keterampilan individu, tetapi juga lingkungan kerja yang mendukung mencapai tujuan terbaik bagi murid. Kenyamanan di sekolah juga ikut memengaruhi kualitas pendidikan itu sendiri.
Kenyamanan ini mencakup aspek fisik, psikologis, maupun sosial yang secara langsung maupun tidak langsung. Ketiga faktor tersebut memiliki peran masing-masing dalam menciptakan kenyamanan di sekolah.
Pertama, lingkungan fisik yang nyaman. Lingkungan fisik yang nyaman termasuk faktor yang memengaruhui kualitas kerja. Lingkungan fisik dimaksud misalnya ruang kerja yang bersih, rapi, memiliki pencahayaan cukup, sirkulasi udara yang baik, penataan yang tepat, serta peralatan kerja yang memadai dapat meningkatkan fokus bagi guru dalam memulai aktivitas pembelajaran sebelum masuk ke kelas guna mentransfer ilmu untuk murid. Sebaliknya, kondisi ruang kerja yang berantakan, bau, kotor, bising, atau minim fasilitas justru menurunkan semangat kerja dan tentunya berdampak pada tidak kosentrasi guru menyiapkan kebutuhan untuk murid.
Kedua adalah hubungan sosial di tempat kerja. Hubungan sosial menjadi salah satu hal yang mampu menciptakan kenyaman di tempat kerja. Hubungan sosial di tempat kerja merupakan interaksi yang terjalin antara orang-orang yang berada dalam lingkungan kerja, seperti atasan, rekan kerja, maupun bawahan. Hubungan ini tidak hanya terbatas pada komunikasi terkait pekerjaan, tetapi juga meliputi sikap saling menghargai, kerja sama, rasa solidaritas, dan dukungan antar individu.
Di sekolah memang sudah seharusnya hubungan itu terikat dengan positif. Budaya kerja yang positif di sekolah, saling menghargai dan komunikasi terbuka membuat sesama civitas akademika merasa lebih dihargai dan termotivasi. Konflik yang tidak terselesaikan atau iklim kerja yang penuh tekanan dapat menurunkan kualitas hasil kerja. Guru juga manusia yang harus dimanusiakan.
Ketiga, dukungan psikologis dan rasa aman. Guru dan murid yang merasa aman secara psikologis lebih berani berinovasi, berkreatif, mengemukakan ide, mengembangkan potensi, dan mengambil inisiatif yang bernilai tinggi. Rasa aman ini muncul oleh banyak kemungkinan seperti apresiasi terhadap kinerja, serta dukungan dalam menghadapi tantangan pekerjaan, rasa kekeluargaan, bahkan rasa persaudaraan meski tidak sedarah. Apabila hal ini terwujudkan maka bisa berdampak meningkatnya kualitas kerja.
Kenyamanan di lingkungan sekolah akan berbanding lurus dengan kualitas kerja. Beberapa dampak positif yang dapat dirasakan di antaranya produktivitas meningkat sebab bekerja dengan fokus. Dampak lainnya seperti loyalitas bertambah dan tingkat stres menurun sehingga kesehatan mental lebih terjaga.
Jadi, Kenyamanan di sekolah bukan sekadar fasilitas tambahan, melainkan bagian penting dari strategi sekolah untuk meningkatkan kualitas kerja guru maupun staf tata usaha. Investasi dalam menciptakan lingkungan kerja yang nyaman di sekolah akan memberikan manfaat jangka panjang. Jika kenyamanan sudah angkat tangan, seberat apapun beban di pundak maka akan terasa lebih ringan namum sebaliknya ketika kenyaman itu sudah angkat kaki maka semua terasa sulit dan tak berarti. (*)
Editor : Adriyanto Syafril