Penulis : Tosfayana Mawardi - Guru Agama SMPN 8 Payakumbuh
Geliat zaman menuju kancah modern sarat dengan perubahan besar dalam kehidupan manusia, terutama bagi generasi muda. Kemajuan teknologi, media sosial, dan arus globalisasi memberikan banyak manfaat, tetapi juga menghadirkan tantangan dalam pembentukan karakter anak. Fenomena seperti kurangnya sopan santun, menurunnya rasa hormat kepada orang tua dan guru, perilaku konsumtif, perundungan, hingga kecanduan gawai menjadi persoalan gentingpada anak zaman sekarang atau yang sering disebut anak zaman now.
Kondisi tersebut menunjukkan urgensi revitalisasi pendidikan karakter, yaitu upaya menghidupkan kembali nilai-nilai moral dan akhlak mulia dalam kehidupan anak. Dalam perspektif Islam, pendidikan karakter merupakan bagian penting dari pendidikan akhlak yang bertujuan membentuk manusia beriman, bertakwa, dan berkepribadian baik sesuai ajaran Al-Qur’an dan Sunnah.
Hakikat pendidikan karakter dalam Islam tidak hanya menekankan kecerdasan intelektual, tetapi juga pembentukan akhlak mulia seperti tugas Rasulullah sawpada sabdanya: “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Ahmad)
Hadis tersebut menunjukkan bahwa esensi pendidikan Islam adalah pembentukan akhlak. Nilai-nilai seperti jujur, disiplin, tanggung jawab, dan peduli sesama harus ditanamkan sejak dini.
Anak zaman now hidup di tengah perkembangan teknologi digital yang sangat pesat. Informasi dapat diakses dengan mudah tanpa batas ruang dan waktu. Namun, penggunaan teknologi yang tidak terkontrol dapat memengaruhi perilaku dan karakter anak.
Beberapa tantangan pendidikan karakter saat ini antara lain pengaruh media sosial, kurangnya pengawasan orang tua, menurunnya keteladanan, pergaulan bebas, kecanduan gadget.
Untuk menghadapi tantangan tersebut, diperlukan revitalisasi pendidikan karakter yang dilakukan secara bersama-sama oleh keluarga, sekolah, dan masyarakat. Diantaranya yaitu: Menanamkan pendidikan akhlak sejak dini, memperkuat pendidikan agama, membangun budaya sekolah yang positif, pengawasan terhadap penggunaan teknologi dan menanamkan nilai keteladanan.
Keluarga memiliki peran utama dalam pendidikan karakter. Orang tua harus menjadi teladan bagi anak melalui sikap dan perilaku sehari-hari. Allah Swt. berfirman:
“Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka...” (QS. At-Tahrim: 6)
Selain keluarga, sekolah juga berperan penting melalui budaya disiplin, religius, dan pembiasaan perilaku positif. Guru harus menjadi contoh dalam bersikap dan bertutur kata. Kegiatan seperti salat berjamaah, tadarus Al-Qur’an, dan gotong royong dapat memperkuat karakter peserta didik. Pengawasan dan pemahaman terhadap penggunaan teknologi juga sangat diperlukan agar anak mampu memanfaatkan media digital secara bijak melalui kerja sama antara orang tua dan sekolah. Mereka harusnya memanfaatkan teknologi bukan dimanfaatkan oleh teknologi. (*)
Editor : Adriyanto Syafril