“Kita berencana mewujudkan pesantren di Lapas Suliki, atau menerapkan pembinaan warga binaan berbasis pondok pesantren. Berbagai materi pembelajaran, sarana dan prasarananya, tentunya dipersiapkan dulu. Kita akan melakukan penjajakan kepada stakeholders terkait seperti Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Limapuluh Kota, MUI, Kapolresta, dan lainnya,” ungkap Kamesworo kepada wartawan di Damar Shaker Padang.
Mantan Kasi Binadik Lapas IIA Karawang itu terlihat bersemangat untuk mewujudkan pesantren di Lapas Suliki. ‘’Pekerjaan dan tugas sebagai Kalapas bagi saya adalah amanah. Seperti saya sampaikan saat sertijab, saya akan meneruskan apa yang sudah baik selama ini di Lapas Suliki, dan akan terus menjadikan Lapas Suliki lebih baik lagi ke depannya,” ujar Kamesworo, yang datang bersama istrinya, Nurhayati (Noy), dan dua pegawai Lapas Suliki.
Sembari ngopi bareng wartawan, Kamesworo juga melontarkan ide untuk menghapus tato warga binaan. “Sejalan dengan pesantren di Lapas Suliki, kita juga ingin warga binaan bebas tato. Kita usahakan bisa memperoleh atau mendatangkan peralatan laser untuk menghapus tato tersebut,” ungkapnya.
Kamesworo berharap pesantren di Lapas Suliki tidak butuh waktu lama untuk mewujudkannya. “Apalagi bulan suci Ramadan 1444 Hijriyah sudah dekat, yakni Maret 2023. Saya sudah bayangkan semaraknya pelaksanaan pesantren ini di Lapas Suliki,” ujarnya. (hsn) Editor : Hendra Efison