Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Songket Halaban Tembus Pasar Internasional, Perajin Andalkan Kualitas dan Sistem Pesanan

Irfan R Rusli • Senin, 26 Januari 2026 | 17:47 WIB

Nas (52) menenun Songket Halaban menggunakan alat tenun tradisional di rumahnya, Nagari Halaban. (Foto: Irfan/Padeks)
Nas (52) menenun Songket Halaban menggunakan alat tenun tradisional di rumahnya, Nagari Halaban. (Foto: Irfan/Padeks)
PADEK.JAWAPOS.COM—Songket Halaban produksi perajin Nas (52) dari Nagari Halaban, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat, menembus pasar internasional dengan mengandalkan kualitas tenun tradisional dan sistem produksi berbasis pesanan, di tengah dominasi tekstil pabrikan dan industri massal.

Nas, perajin songket Halaban, menekuni kerajinan tenun sejak usia 18 tahun dan membangun usahanya secara mandiri dari rumah produksi sederhana.

Pada tahap awal, pemasaran dilakukan dengan menitipkan songket ke toko-toko di Bukittinggi dan Kota Padang, tanpa kepastian penjualan.

“Dulu kami menjual dengan cara menitipkan ke toko. Kadang habis, kadang tidak laku sama sekali. Tapi saya percaya, kualitas akan menentukan masa depan,” ujar Nas saat ditemui di Halaban, Sabtu (24/1/2026).

Seiring waktu, songket Halaban dikenal karena motif khas lokal dan pengerjaan detail yang seluruhnya dilakukan secara manual menggunakan alat tenun tradisional.

Reputasi kualitas tersebut mendorong perubahan model usaha, dari produksi stok toko menjadi produksi berbasis pesanan langsung.

“Dengan pesanan, kami tahu kebutuhan pasar. Produksi lebih terarah dan kualitas bisa dijaga,” kata Nas.

Pesanan songket Halaban kini datang tidak hanya dari dalam negeri, tetapi juga dari Malaysia dan Brunei Darussalam, melalui jejaring pelanggan dan rekomendasi.

Harga songket ditentukan berdasarkan tingkat kerumitan motif dan jenis benang yang digunakan.

Untuk benang kelas 1, harga songket mencapai Rp3 juta per helai, dan dapat meningkat menjadi Rp4–5 juta jika dipasarkan melalui sentra oleh-oleh.

Sementara itu, songket dengan benang kelas 2 dibanderol pada kisaran Rp2–3 juta per helai.

Satu lembar songket dikerjakan selama tiga hingga empat minggu, seluruhnya secara manual, dengan tingkat ketelitian tinggi.

Baca Juga: KAI Divre II Sumbar Dukung Walking Train Sawahlunto 2026, Napak Tilas Jalur Kereta Api Warisan Dunia

“Tidak bisa cepat. Kalau ingin hasil bagus, prosesnya harus pelan,” ujar Nas.

Nas menyebut konsumen mancanegara tertarik tidak hanya pada produk kain, tetapi juga nilai budaya dan keaslian proses tradisional.

“Mereka tertarik karena ini asli, tidak dibuat mesin,” katanya.

Di tengah popularitas Pandai Sikek sebagai sentra songket Sumatera Barat, Nas menilai Halaban memiliki potensi berkembang sebagai pusat ekonomi kreatif berbasis tenun.

Menurutnya, motif lokal dan keberadaan perajin berpengalaman menjadi modal utama untuk pengembangan kawasan.

Ia juga menekankan pentingnya regenerasi perajin agar keberlanjutan songket tradisional tetap terjaga.

“Kalau anak muda tidak mau belajar, keahlian ini bisa hilang,” ujarnya.

Bagi Nas, songket tidak hanya bernilai budaya, tetapi juga menjadi sumber penghidupan yang menopang ekonomi keluarga dan pendidikan anak-anaknya.(cr7)

Editor : Hendra Efison
#Songket Halaban #Perajin songket Limapuluh Kota #Songket tradisional Indonesia #ekonomi kreatif Sumatera Barat