PADEK.JAWAPOS.COM—Ribuan hektare lahan pertanian di Kota Padang yang bergantung pada aliran Bendungan Gunung Nago kini menjadi perhatian serius pemerintah. Kerusakan infrastruktur irigasi membuat distribusi air ke sejumlah wilayah terganggu, sehingga diperlukan solusi jangka panjang untuk pemulihan sistem pengairan.
Kepala Dinas Pertanian Kota Padang, Yoice Yuliani, menjelaskan bahwa pengelolaan bendungan tersebut berada di bawah kewenangan Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air Provinsi Sumatera Barat. Meski demikian, pihaknya terus melakukan koordinasi lintas instansi guna memastikan kebutuhan air petani tetap terpenuhi.
Saat ini, kondisi irigasi di sektor kiri Gunung Nago dilaporkan mulai membaik. Aliran air telah kembali menjangkau sejumlah wilayah seperti Binuang Kampung Dalam, Cupak Tangah, Pisang, Lubuklintah, Ambacang, hingga beberapa kawasan di Kecamatan Lubukbegalung dan Padang Timur.
Baca Juga: Kontroversi Pengadaan Motor Listrik MBG
Namun, kondisi berbeda terjadi di sektor kanan. Petani di wilayah ini masih mengalami kekurangan pasokan air. Upaya darurat sebelumnya yang dilakukan oleh Balai Wilayah Sungai Sumatera V melalui penggunaan pompa air belum mampu menjadi solusi permanen, sehingga petani masih bergantung pada curah hujan.
Wilayah terdampak meliputi Kelurahan Gunungsarik, Koronggadang, hingga Kecamatan Nanggalo. Secara keseluruhan, luas lahan sawah yang bergantung pada Bendungan Gunung Nago mencapai sekitar 2.000 hektare.
Pemerintah melalui PSDA Sumbar dan BWS Sumatera V kini tengah menyusun rencana anggaran untuk perbaikan permanen. Mengingat kerusakan yang terjadi cukup kompleks, proses pembangunan membutuhkan perencanaan matang dan tidak dapat dilakukan secara instan.
“Perbaikan irigasi sudah direncanakan, tetapi saat ini masih dalam tahap penyusunan dokumen perencanaan. Pembangunan fisik diharapkan dapat dimulai pada 2027 atau melalui APBN Perubahan 2026,” ujar Yoice.
Sementara menunggu realisasi proyek, pemerintah berupaya menghadirkan solusi sementara agar aktivitas pertanian tetap berjalan. Salah satunya dengan mengupayakan distribusi air darurat ke sektor kanan Gunung Nago.
Selain itu, Dinas Pertanian juga mendorong petani untuk beralih ke komoditas yang tidak membutuhkan banyak air, seperti sayuran dan jagung pakan ternak. Langkah ini dilakukan untuk meminimalkan kerugian akibat terganggunya masa tanam padi.
Baca Juga: M. Zuhrizul Pimpin FPTI Sumbar 2026–2030
Pemerintah turut memberikan bantuan berupa benih dan pupuk kepada petani terdampak. Bantuan tersebut telah disalurkan ke wilayah Kecamatan Kototangah dan Kuranji dengan luas lahan terdampak mencapai 75,32 hektare. Sementara untuk Kecamatan Pauh, penyaluran bantuan lanjutan sedang dipersiapkan. (cr3)
Editor : Adetio Purtama