PADEK.JAWAPOS.COM–Di tepian Sungai Limau Manis, Kecamatan Pauh, Kota Padang, suara denting pahat yang menghantam batu masih terdengar nyaring di tengah suasana senja. Aktivitas para pengrajin Batu Lado—sebutan lokal untuk cobek batu—tetap berlangsung meski kawasan tersebut sempat diterjang bencana galodo pada November 2025 lalu.
Di bawah tenda sederhana, para pengrajin melanjutkan tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun. Salah satunya adalah Jamalis (55), yang akrab disapa Buyuang Manggih. Selama 35 tahun, ia menggantungkan hidup dari kerajinan batu sungai yang diolah menjadi cobek berkualitas tinggi.
“Bencana kemarin memang besar, tapi kami hanya berhenti bekerja selama tiga hari. Setelah itu kami kembali ke sungai. Justru galodo membawa banyak material batu baru bagi kami,” ujarnya saat ditemui, Rabu (15/4/2026).
Baca Juga: IRT di Padang Ditangkap, Nekat Curi HP dan Uang di Gudang Barang Bekas
Material batu yang terbawa banjir bandang kini menjadi sumber bahan baku yang melimpah. Batu-batu tersebut dikenal memiliki kualitas unggul—kuat, tidak berpasir, dan tahan lama—sehingga sangat cocok dijadikan cobek.
Namun demikian, tantangan tetap ada. Tidak semua batu memiliki tekstur yang mudah diolah. “Mencari batu sekarang mudah, tapi mencari yang ‘lemak’ atau agak lunak itu yang sulit. Di situlah seninya,” tambahnya.
Proses pembuatan Batu Lado masih dilakukan secara manual, menggunakan pahat dan palu tanpa bantuan mesin. Ketelitian menjadi faktor utama, karena kesalahan kecil dapat merusak seluruh bentuk batu.
Baca Juga: Viral Dugaan Pungli di Lembah Harau, Polres Limapuluh Kota Turun Tangan
Untuk ukuran kecil, satu cobek bisa diselesaikan dalam waktu sekitar 30 menit. Namun untuk ukuran besar atau pesanan khusus, pengerjaan bisa memakan waktu seharian penuh.
Secara ekonomi, kerajinan ini masih menjadi penopang utama kehidupan para pengrajin. Harga jual cobek berkisar antara Rp50 ribu hingga Rp400 ribu per buah, tergantung ukuran dan kualitas. Dalam sehari, pengrajin bisa memperoleh pendapatan antara Rp150 ribu hingga Rp400 ribu.
Produk Batu Lado Limau Manis bahkan telah dipasarkan ke berbagai daerah di luar Sumatera Barat, seperti Medan, Aceh, hingga Silungkang, melalui perantara pengepul.
Baca Juga: Gunung Marapi Erupsi Pagi Ini, Tinggi Kolom Letusan Teramati 1.600 Meter
Saat ini, sekitar 15 pengrajin masih bertahan di kawasan tersebut. Mereka terus bekerja di tengah kondisi alam yang tidak menentu, dengan keyakinan bahwa alam yang dijaga akan memberikan kehidupan.
“Insya Allah aman. Kami sudah paham karakter sungai ini. Kalau kita jaga alam, alam juga akan menjaga kita,” tutup Buyuang Manggih. (cr3)
Editor : Adetio Purtama