PADEK.JAWAPOS.COM - Program KABAPADEK Sore kembali hadir membahas isu terkini seputar dunia media dan teknologi, Senin (18/5). Dalam edisi sore tersebut, Pemimpin Redaksi Padang Ekspres, Tandri Eka Putra membahas perkembangan penggunaan Artificial Intelligence (AI) dalam dunia jurnalistik.
Program yang dipandu host Febi Tri Lianti itu rutin tayang setiap Senin, Rabu, dan Jumat dengan menghadirkan berbagai topik aktual serta narasumber kompeten di bidangnya.
Dalam pemaparannya, Tandri menegaskan bahwa AI bukan ancaman bagi dunia jurnalistik, melainkan alat bantu yang dapat mempermudah pekerjaan wartawan maupun redaktur jika digunakan secara tepat dan terkontrol.
“AI itu alat bantu dalam bekerja. Banyak yang menganggap AI membunuh dunia jurnalistik, padahal tidak sepenuhnya benar. Semua tergantung bagaimana penggunaannya dan bagaimana kita mengontrolnya,” ujar Tandri.
Menurutnya, AI memberikan banyak manfaat dalam proses kerja jurnalistik, mulai dari pengelolaan data, pengeditan tulisan, hingga pengolahan gambar dan visualisasi informasi.
“Bayangkan jika kita harus menyimpan banyak data di harddisk yang memakan ruang besar. Dengan AI, data bisa lebih terorganisir. Dalam editing juga membantu mengurangi typo dan mempercepat pekerjaan,” katanya.
Tandri menjelaskan, perkembangan AI saat ini membuat banyak penulis memanfaatkannya untuk membantu proses penulisan artikel maupun produksi konten. Namun, penggunaan AI tetap membutuhkan kemampuan manusia untuk memilah dan memeriksa hasil yang diberikan teknologi tersebut.
“Masalahnya sekarang ada sebagian orang yang menjadikan AI sebagai sandaran sepenuhnya. Mereka hanya menyalin hasil AI tanpa membaca dan memilah isi tulisannya,” jelasnya.
Ia menyebutkan, AI bekerja berdasarkan perintah atau prompt yang dimasukkan pengguna. Karena itu, kualitas hasil yang diberikan AI sangat dipengaruhi oleh kejelasan instruksi yang diberikan.
“AI hanya mendeskripsikan sesuai perintah yang kita masukkan. Semakin jelas prompt-nya, maka semakin jelas juga hasil yang diberikan,” ungkapnya.
Selain memberi kemudahan, penggunaan AI dalam dunia jurnalistik juga dinilai memiliki dampak positif dan negatif. Dari sisi positif, AI mampu mempercepat pengumpulan data, membantu transkripsi wawancara, mempermudah penyuntingan naskah, hingga membantu visualisasi data dan gambar.
Namun di sisi lain, penggunaan AI yang tidak terkontrol dapat membuat wartawan terlalu bergantung pada teknologi dan mengurangi kemampuan analisis serta kreativitas dalam menulis berita.
“Kalau terus bergantung pada AI tanpa berpikir kritis, tentu kemampuan analisis dan kreativitas bisa menurun,” katanya.
Tandri juga menyoroti maraknya berita palsu dan manipulasi konten yang dibuat menggunakan AI. Menurutnya, masyarakat perlu lebih cerdas dalam membedakan berita asli dan konten hasil rekayasa teknologi.
Ia menjelaskan, salah satu ciri berita yang patut dicurigai adalah informasi yang tidak memiliki sumber jelas, kutipan yang tidak dapat diverifikasi, serta penggunaan foto atau video yang terlihat tidak natural.
“Biasanya berita hasil editan AI memiliki data yang tidak jelas sumbernya, kalimatnya terlalu umum, dan terkadang ada detail yang tidak sinkron antara isi berita dengan foto atau videonya,” jelasnya.
Selain itu, masyarakat juga disarankan membandingkan informasi dengan media terpercaya serta memastikan berita dimuat oleh media resmi yang memiliki struktur redaksi jelas.
Menurut Tandri, media profesional seperti Padang Ekspres tetap mengedepankan proses verifikasi sebelum berita diterbitkan kepada publik.
“Kami punya tanggung jawab hukum dan kode etik. Karena itu, meskipun menggunakan AI sebagai alat bantu, keaslian berita tetap harus dicek. Kami melakukan cross check ke pihak terkait sebelum berita naik cetak,” tegasnya.
Ia menambahkan, setiap berita di Padang Ekspres melewati beberapa tahapan pemeriksaan untuk memastikan akurasi informasi yang diterima masyarakat.
“Kami menerapkan empat lapis pemeriksaan sebelum berita diterbitkan agar informasi yang sampai ke masyarakat benar-benar valid,” tutupnya. (sel)