PADEK.JAWAPOS.COM -- Kondisi ekonomi yang tidak menentu menuntut masyarakat untuk semakin bijak dalam mengelola keuangan rumah tangga. Kenaikan harga kebutuhan pokok hingga meningkatnya biaya transportasi akibat penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) menjadi tantangan tersendiri dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Hal tersebut disampaikan Direktur Keuangan Padang Ekspres, Yossi Ariesta, dalam program KABA PADEK Sore yang ditayangkan pada Jumat (12/6). Program yang dipandu host Febi Tri Lianti tersebut mengangkat tema “Pola Hidup di Saat Krisis: Di antara Kebutuhan dan Keinginan”.
Menurut Yossi, tekanan ekonomi saat ini membuat masyarakat harus lebih berhati-hati dalam membelanjakan uang agar kondisi keuangan tetap stabil.
“Saat kondisi ekonomi sulit, masyarakat harus lebih selektif dalam menggunakan uang. Jangan sampai pengeluaran lebih besar daripada pendapatan yang dimiliki,” ujarnya.
Ia menjelaskan, salah satu persoalan utama dalam pengelolaan keuangan keluarga adalah ketidakmampuan membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Kondisi ini sering kali membuat seseorang terjebak dalam pengeluaran yang sebenarnya tidak mendesak.
Yossi menilai fenomena fear of missing out (FOMO) atau rasa takut tertinggal tren menjadi salah satu faktor yang memicu meningkatnya pengeluaran konsumtif.
“Banyak orang menggunakan uang yang seharusnya dialokasikan untuk kebutuhan pokok justru untuk mengikuti tren. Padahal, belum tentu barang atau aktivitas tersebut benar-benar dibutuhkan,” katanya.
Selain pengaruh tren, lingkungan sosial juga memiliki peran besar dalam membentuk pola konsumsi seseorang. Keinginan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitar sering kali mendorong seseorang melakukan pengeluaran di luar kemampuan finansialnya.
“Pengaruh lingkungan itu sangat kuat. Kalau tidak ada kontrol terhadap pengeluaran, kondisi keuangan bisa boncos,” ujarnya.
Karena itu, Yossi menekankan pentingnya menyusun perencanaan keuangan yang matang melalui pengelompokan anggaran berdasarkan skala prioritas.
“Kita harus membuat anggaran pengeluaran. Kelompokkan mana yang menjadi kebutuhan utama dan mana yang masih bisa ditunda,” katanya.
Ia juga menyarankan masyarakat menerapkan kebiasaan menunda pembelian sebelum memutuskan membeli suatu barang guna menghindari perilaku belanja impulsif.
“Kalau melihat barang yang ingin dibeli, jangan langsung membeli. Tunda dulu selama tiga hari. Dari situ kita bisa menilai apakah barang tersebut benar-benar dibutuhkan atau hanya sekadar keinginan,” jelasnya.
Menurut Yossi, keinginan yang muncul karena dorongan sesaat biasanya akan mereda setelah beberapa waktu. Sebaliknya, apabila barang tersebut memang dibutuhkan, maka dorongan untuk membelinya akan tetap ada.
Ia menilai strategi paling realistis bagi keluarga untuk bertahan di tengah tekanan ekonomi adalah menyesuaikan pengeluaran dengan pendapatan yang dimiliki.
“Jika pendapatan keluarga Rp5 juta per bulan, maka pengeluaran tidak boleh melebihi jumlah tersebut. Prinsipnya sederhana, belanjakan sesuai kemampuan,” tegasnya.
Selain melakukan efisiensi pengeluaran, masyarakat juga didorong untuk mencari sumber pendapatan tambahan guna menjaga stabilitas ekonomi keluarga. Menurutnya, perkembangan teknologi saat ini membuka berbagai peluang usaha sampingan yang dapat dimanfaatkan.
“Manfaatkan teknologi yang ada. Banyak pekerjaan sampingan yang bisa dilakukan untuk memperoleh tambahan pendapatan,” ujarnya.
Yossi turut mengingatkan masyarakat agar mengurangi pengeluaran yang bersifat konsumtif, seperti terlalu sering makan di luar atau nongkrong tanpa perencanaan yang jelas.
Di sisi lain, pembelian kebutuhan pokok juga perlu dilakukan secara bijak dengan membeli sesuai kebutuhan, bukan berdasarkan keinginan.
“Belanjalah secukupnya. Jangan berlebihan. Dengan begitu, keuangan keluarga akan lebih sehat dan mampu menghadapi situasi ekonomi yang tidak pasti,” tuturnya.
Ia berharap masyarakat semakin sadar akan pentingnya literasi keuangan, terutama dalam membangun kebiasaan hidup hemat dan disiplin mengelola pengeluaran.
“Intinya, bedakan kebutuhan dan keinginan. Dengan perencanaan yang baik, kondisi ekonomi sesulit apa pun masih bisa dihadapi dengan lebih tenang,” pungkasnya. (sel)
Editor : Adriyanto Syafril