PADEK.JAWAPOS.COM-Bagi wisatawan, Tabuik mungkin sekadar atraksi budaya yang spektakuler. Namun bagi masyarakat Pariaman, tradisi yang setiap tahun digelar pada bulan Muharram itu jauh lebih dalam dari sekadar tontonan. Di balik kemeriahan arak-arakan dan gegap gempita festival, tersimpan jejak sejarah panjang, perdebatan asal-usul, serta nilai-nilai filosofis yang terus hidup di tengah masyarakat.
Laporan : Zikriniati ZN
TOKOH masyarakat Tabuik Pasa, Masril Ibo, menuturkan bahwa tradisi Tabuik yang berkembang di Pariaman memiliki akar sejarah yang jauh lebih tua dibandingkan berbagai versi yang selama ini banyak beredar.
Menurutnya, tradisi tersebut telah hadir sejak ratusan tahun silam, bahkan diperkirakan sekitar abad ke-2 Hijriah atau lebih dari tujuh abad lalu. Tradisi itu, kata dia, dibawa oleh para pengikut Imam Husain yang menyelamatkan diri setelah tragedi Karbala.
“Menurut cerita yang kami terima dari para tetua, ada dua tokoh yang dikenal dengan nama Siti Makkah dan Salahuddin yang sampai ke Pariaman. Mereka datang sambil menyebarkan ajaran Islam ke luar Jazirah Arab,” ujar Masril kepada Padang Ekspres.
Dari cerita yang diwariskan secara turun-temurun itu, masyarakat Pariaman kemudian mengenang peristiwa wafatnya Hasan dan Husain setiap memasuki bulan Muharram. Peringatan tersebut lambat laun berkembang menjadi tradisi budaya yang kini dikenal sebagai Tabuik.
Masril mengakui bahwa sejarah Tabuik hingga kini masih menyisakan beragam versi. Salah satu yang paling populer adalah pendapat yang menyebutkan bahwa tradisi itu dibawa oleh tentara Sipahi asal India Selatan atau Tamil yang datang ke pesisir barat Sumatra pada masa lampau.
Namun, menurut Masril, versi tersebut tidak sepenuhnya sesuai dengan cerita yang diwariskan para tetua adat di Pariaman.
Ia bahkan menilai pandangan itu muncul sebagai bagian dari upaya kolonial Belanda yang menjalankan politik divide et impera atau politik pecah belah, sehingga sejarah asli Tabuik menjadi kabur di tengah masyarakat.
“Orang-orang Kaliang atau keturunan India memang kemudian ikut terlibat dalam pelaksanaan Tabuik setelah mereka membaur dan menetap bersama masyarakat Pariaman. Tetapi menurut cerita para orang tua kami, mereka bukan pembawa pertama tradisi ini,” katanya.
Baginya, perbedaan pendapat mengenai asal-usul Tabuik adalah sesuatu yang lumrah. Sebab, tradisi yang telah berusia ratusan tahun itu diwariskan melalui cerita lisan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Bagi Masril, Tabuik bukan sekadar cerita yang ia dengar dari orang lain. Tradisi itu menjadi bagian dari kehidupannya sejak kecil.
Pria yang akrab disapa Uniang Ibo tersebut mengaku sudah mengenal Tabuik sejak usia lima tahun. Rumahnya yang berada tak jauh dari lokasi pembuatan Tabuik membuat dirinya tumbuh bersama denyut kehidupan tradisi tersebut.
Ia masih mengingat bagaimana suasana gotong royong begitu terasa dalam setiap persiapan pelaksanaan Tabuik di masa lalu.
Saat itu, belum ada bantuan anggaran pemerintah. Seluruh kebutuhan pembuatan Tabuik dipenuhi melalui sistem maradai, yakni swadaya masyarakat yang dilakukan secara sukarela.
Warga bergotong royong mengumpulkan dana, menyumbangkan tenaga, bahkan mengantarkan kopi dan nasi ke rumah tempat para pembuat Tabuik bekerja siang dan malam.
“Semuanya dilakukan oleh anak nagari. Tidak ada yang dibayar. Orang datang membantu karena merasa memiliki tradisi ini,” kenangnya.
Rumah tempat pembuatan Tabuik pun tidak dipilih sembarangan. Para alim ulama dan ninik mamak bermusyawarah menentukan rumah warga yang dianggap layak, biasanya milik orang yang memiliki kemampuan bertukang.
Selama sepuluh hari, sejak 1 hingga 10 Muharram, rumah itu berubah menjadi pusat aktivitas masyarakat. Di sanalah bambu, rotan, kain, dan berbagai ornamen dirangkai menjadi sebuah karya budaya yang sarat makna.
Kini, wajah Tabuik memang telah berubah. Tradisi yang dahulu tumbuh dari semangat gotong royong masyarakat telah berkembang menjadi agenda wisata unggulan Kota Pariaman yang mampu menarik ribuan pengunjung setiap tahunnya.
Namun di balik kemasan pariwisata itu, masyarakat setempat berupaya menjaga agar ruh dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya tidak hilang ditelan zaman.
Bersama Tokoh Tabuik Subarang, Nasrul Ilyas, Masril menjelaskan bahwa setiap tahapan dalam pelaksanaan Tabuik sesungguhnya mengandung pesan filosofis yang mendalam.
Menurut mereka, Tabuik bukanlah ritual keagamaan yang identik dengan mazhab tertentu sebagaimana kerap dipersepsikan sebagian orang. Sebaliknya, tradisi ini merupakan bentuk kearifan lokal yang disusun oleh niniak mamak Pariaman sebagai media pembelajaran tentang kehidupan manusia.
Prosesi maambiak tanah, misalnya, dimaknai sebagai simbol asal-usul penciptaan manusia yang berasal dari tanah.
Kemudian dilanjutkan dengan manabang batang pisang, yang melambangkan unsur air sebagai bagian penting dalam penciptaan kehidupan. Batang pisang dan tebu dipilih karena dianggap menyimpan kandungan air yang melimpah.
Sementara itu, prosesi maarak jari-jari yang sering dikaitkan dengan kisah peperangan Karbala, menurut para tetua adat sebenarnya merupakan perlambang unsur angin.
“Ketika jari-jari itu diputar dan dikibaskan, akan muncul hembusan angin. Itulah makna yang ingin disampaikan,” jelas Masril.
Selanjutnya, maarak saroban menjadi simbol kemuliaan dan cahaya. Sorban yang berada di bagian kepala dimaknai sebagai lambang derajat tertinggi yang harus dicapai manusia melalui akhlak dan kebijaksanaan.
Puncak seluruh rangkaian ditandai dengan Tabuik naik pangkek, mahoyak Tabuik, hingga prosesi membuang Tabuik ke laut yang menjadi momen paling dinantikan masyarakat dan wisatawan.
Tak hanya itu, material yang digunakan dalam pembuatan Tabuik pun mengandung pesan moral. Bambu dipilih karena kuat dan tahan menghadapi berbagai kondisi. Rotan melambangkan kelenturan dan kemampuan beradaptasi tanpa kehilangan fungsi dan manfaatnya.
Sedangkan warna-warni hiasan yang menghiasi tubuh Tabuik menjadi representasi kehidupan masyarakat Pariaman yang beragam, hidup berdampingan dalam perbedaan, namun tetap berada dalam satu kesatuan.
Ketua Tabuik Subarang, Husni Thamrin, menilai beragam versi sejarah yang berkembang mengenai Tabuik merupakan sesuatu yang tidak dapat dihindari.
Menurutnya, setiap keluarga dan setiap kelompok masyarakat menerima cerita yang berbeda dari para pendahulu mereka. Karena itu, munculnya berbagai interpretasi adalah bagian dari dinamika tradisi yang telah berusia ratusan tahun.
“Yang pasti, Tabuik adalah budaya anak nagari yang sampai hari ini masih bertahan dan terus dijaga. Yang terpenting dalam pelaksanaannya adalah menjaga keamanan dan kelancaran seluruh rangkaian kegiatan,” ujarnya.
Hingga kini, bentuk dasar Tabuik maupun prosesi pelaksanaannya tetap dipertahankan sebagaimana diwariskan para leluhur. Di tengah arus modernisasi dan perkembangan pariwisata, masyarakat Pariaman masih berusaha menjaga keaslian tradisi tersebut.
Ketika gandang tasa kembali ditabuh dan Tabuik mulai dihoyak di tengah lautan manusia, yang tersaji bukan sekadar sebuah pertunjukan budaya. Di sana hidup ingatan kolektif tentang sejarah, gotong royong, falsafah kehidupan, dan identitas masyarakat Pariaman yang terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Karena itulah, bagi anak nagari, Tabuik bukan hanya warisan masa lalu. Ia adalah cermin yang menghubungkan leluhur, masyarakat hari ini, dan masa depan Pariaman yang tetap berakar pada budayanya.(***)
Editor : Adriyanto Syafril