Dilansir dari Agence France-Presse (AFP), misi Israel itu melibatkan baku tembak sengit antara pasukan Zionis dan militan Palestina di kamp pengungsi Nuseirat. Kawasan padat pengungsi itu diserbu militer Israel untuk membebaskan para tawanan dari dua bangunan. Mereka lantas menerbangkan tawanan dengan helikopter.
Kemenkes Gaza menyatakan 274 orang tewas dalam aksi pembantaian Nuseirat itu. Jumlah korban tewas bertambah dari sebelumnya 210 orang menjadi 274 orang. Di sisi lain, sebanyak 698 orang terluka. “Anak saya menangis, takut dengan suara pesawat yang menembaki kami,” kata seorang perempuan Gaza, Hadeel Radwan, 32.
Dia menceritakan bagaimana mereka melarikan diri dari pertempuran sengit sambil menggendong putrinya yang berusia 7 bulan. “Kami semua merasa bahwa kami tidak akan selamat. Penjajah brutal itu tidak akan membiarkan kami hidup,” imbuhnya kepada AFP.
Di saat tangis warga Gaza mengalir, masyarakat Israel antusias ketika mendengar pembebasan empat tawanan. Mereka adalah Noa Argamani, 26; Almog Meir Jan, 22; Andrey Kozlov, 27; dan Shlomi Ziv, 41. Keempatnya diculik dari festival musik Nova pada 7 Oktober 2023. Seluruh tawanan itu berada dalam kondisi sehat.
Jubir IDF Laksamana Muda Daniel Hagari menyebutkan, sekitar 120 tawanan masih ditahan. Hamas menangkap sekitar 250 warga sebagai tawanan pada 7 Oktober 2023 untuk dipertukarkan dengan warga Palestina yang ditahan Israel.
Di sisi lain, pada Februari lalu, dua lembaga yakni Commission of Detainees’ Affairs dan the Palestinian Prisoner Society mengumumkan jumlah warga Palestina yang ditahan di penjara-penjara Israel ditaksir lebih dari 9.000 orang. Pembantaian itu sontak dikecam Hamas. Ismail Haniyeh, pemimpin Hamas yang berbasis di Qatar, bersumpah untuk terus berjuang.
“Rakyat kami tidak akan menyerah, dan perlawanan akan terus membela hak-hak kami,” katanya dalam sebuah pernyataan.
Jubir Brigade Al Qassam Abu Ubaida menambahkan, beberapa tawanan justru tewas akibat operasi yang dilakukan Israel itu.
“Israel dengan pembantaian yang mengerikan mampu membebaskan beberapa sandera, namun membunuh beberapa lainnya selama operasi tersebut,” jelasnya. Presiden Otoritas Palestina Mahmoud Abbas mengutuk serangan itu. Dia menyebut serangan kamp Nuseirat sebagai pembantaian berdarah dan menyerukan pertemuan darurat Dewan Keamanan PBB.
Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa Josep Borrell menuturkan hal senada. Dia menggambarkan pemandangan di kamp itu sebagai hal yang mengerikan. Borrell juga mendesak Israel untuk menerima rencana gencatan senjata yang diusulkan Presiden AS Joe Biden pekan lalu. (dee/c18/bay/jpg)
Editor : Novitri Selvia