Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Gempa Berau Kalimantan Timur dan Sejarah Tsunami 1921, Badan Geologi Keluarkan Rekomendasi

Heri Sugiarto • Selasa, 17 September 2024 | 01:37 WIB

Pada 14 Mei 1921, intensitas gempa di Berau Kalimantan Timur mencapai VII MMI, menyebabkan kerusakan berat di wilayah Sangkulirang dan memicu tsunami. (Foto: X Daryono BMKG)
Pada 14 Mei 1921, intensitas gempa di Berau Kalimantan Timur mencapai VII MMI, menyebabkan kerusakan berat di wilayah Sangkulirang dan memicu tsunami. (Foto: X Daryono BMKG)
PADEK.JAWAPOS.COM-Gempa magnitudo 5,6 yang mengguncang wilayah Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, pada Minggu (15/9/2024) pukul 20:08:09 WIB, mengingatkan kembali pada peristiwa gempa besar yang terjadi di wilayah ini tahun 1921.

Kepala Pusat Gempabumi dan Tsunami BMKG, Daryono, menyebutkan bahwa pada 14 Mei 1921, intensitas gempa mencapai VII MMI, menyebabkan kerusakan berat di wilayah Sangkulirang dengan radius guncangan mencapai 250 km.

Saat itu, gempa akibat sesar Sangkulirang tersebut juga menyebabkan rekahan tanah sepanjang 10 meter dengan lebar 20 cm, serta menyemburkan pasir dan tanah liat (likuifaksi). Tsunami setinggi 1 meter dan kerusakan parah dilaporkan terjadi di Sekurau.

Gempa Susulan hingga Pagi

Gempa Berau pada Minggu malam diikuti oleh 18 kali gempa susulan hingga pukul 07:00 WIB, Senin (16/9/2024).

Menurut BMKG, episenter gempa bumi berada di darat pada koordinat 1,28°LU – 118,42°BT, sekitar 140,9 km Tenggara Kota Tanjungredep dengan kedalaman 10 km.

United States Geological Survey_ (USGS) dan GeoForschungsZentrum (GFZ) Jerman juga mencatat gempa dengan magnitudo 5,5 pada kedalaman antara 10,6 km hingga 18 km.

Dampak Gempa dan Kondisi Tanah

Menurut Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Berau, gempa ini menyebabkan kerusakan ringan pada rumah-rumah di Kampung Batu Putih, Kecamatan Batu Putih.

Guncangan dengan skala intensitas IV MMI dirasakan di Karangan, Kutai, dan Maratua. Sementara itu, skala III MMI dirasakan di Kabupaten Berau dan Kutai Timur, serta skala II MMI di beberapa wilayah lainnya seperti Kutai Kartanegara, Samarinda, Bontang, dan Tarakan. 

Berdasarkan data dari Badan Geologi Kementerian ESDM, Senin (16/9/2024), wilayah yang terkena guncangan sebagian besar berada di Kawasan Rawan Bencana (KRB) gempa bumi menengah. Namun, tidak ada potensi tsunami pada Minggu malam itu karena pusat gempa berada di darat.

Wilayah tersebut pada umumnya tersusun oleh morfologi dataran pantai, dataran bergelombang dan perbukitan bergelombang hingga terjal.

Wilayah ini dominan tersusun oleh tanah lunak (kelas E) dan tanah sedang (kelas D) pada morfologi dataran hingga dataran bergelombang, serta tanah keras (kelas C) pada morfologi perbukitan.

Data Badan Geologi memperlihatkan daerah di sekitar pusat gempa pada umumnya tersusun oleh batuan berumur tersier (batuan sedimen dan batuan karbonat), dan endapan kuarter (aluvial pantai, aluvial sungai, rawa).

Sebagian batuan tersier tersebut telah mengalami pelapukan. Batuan yang telah mengalami pelapukan dan endapan kuarter pada umumnya bersifat lepas, urai, tidak terkonsolidasi dan memperkuat efek guncangan gempa. 

Peta tapak kondisi tanah di lokasi gempa Berau, Kalimantan Timur. (Peta: Badan Geologi Kementerian ESDM)
Peta tapak kondisi tanah di lokasi gempa Berau, Kalimantan Timur. (Peta: Badan Geologi Kementerian ESDM)

Rekomendasi Badan Geologi

Gempa ini menjadi pengingat pentingnya kesiapsiagaan masyarakat dan pemerintah daerah dalam menghadapi potensi gempa bumi di masa mendatang, terutama di wilayah rawan seperti Berau.

Badan Geologi Kementerian ESDM menyampaikan beberapa rekomendasi, yakni agar masyarakat tetap tenang dan selalu waspada terhadap gempa susulan.

Masyarakat juga diimbau agar mengikuti arahan dari petugas BPBD setempat dan jangan mudah percaya dengan informasi yang tidak jelas terkait gempa bumi dan tsunami.

Warga yang rumahnya rusak disarankan segera mengungsi ke tempat aman.

Pemerintah setempat diminta memperhatikan konstruksi bangunan di wilayah Berau, yang harus dibangun dengan struktur tahan gempa untuk meminimalkan kerusakan.

Mitigasi bencana perlu diperkuat, baik secara struktural maupun non-struktural, mengingat Kabupaten Berau termasuk wilayah rawan gempa dan tsunami.

Badan Geologi juga memperkirakan, kejadian gempa ini tidak menyebabkan sesar permukaan atau bahaya ikutan lain seperti retakan tanah, penurunan tanah, gerakan tanah, atau likuifaksi.(*)

Editor : Heri Sugiarto
#badan geologi #daryono #bmkg #rekomendasi badan geologi #gempa Berau #tsunami sekurau #gempa susulan #sejarah gempa