Serangan ini terjadi saat sistem internal dan eksternal JAL mengalami kerusakan, mengakibatkan masalah pada jaringan yang menghubungkan kedua sistem tersebut.
Japan Airlines (JAL) mengidentifikasi serangan tersebut sebagai serangan DDoS (Distributed Denial of Service) yang berarti serangan tersebut mencoba mengatasi sistem dengan mengirim data dalam jumlah yang sangat besar sehingga sistem menjadi tidak responsif. Mereka juga memastikan bahwa tidak ada data pelanggan yang terkena virus yang masuk ke dalam sistem.
Saat ini, serangan DDoS digunakan sebagai pengalih perhatian, sementara penyerang menyebarkan malware, atau bahkan ransomware , di tempat lain di jaringan. Atau, penjahat dapat menghubungi korban, terkadang bahkan melalui telepon, untuk meminta tebusan sebagai imbalan atas penghentian DDoS.
Jadwal penerbangan terganggu penerbangan domestik terutama terkena keterlambatan sekitar 30 menit. Sementara untuk penerbangan internasional juga terpengaruh, tetapi tidak ada informasi spesifik mengenai keterlambatan berapa lama.
JAL telah melakukan proses pemulihan sistem dan menyelesaikannya secepatnya. Meskipun demikian, mereka telah menangguhkan penjualan tiket untuk beberapa jam sebelum memulai kembali operasi.
Serangan ini menyebabkan keterlambatan lebih dari 30 menit untuk 24 penerbangan domestik. JAL juga sementara membatalkan penjualan tiket untuk penerbangan domestik dan internasional yang berangkat pada hari tersebut.
Menteri Transportasi Jepang meminta JAL untuk mempercepat upaya pemulihan sistem dan memberikan kompensasi bagi penumpang yang terdampak.
JAL berusaha segera memulihkan operasi dan penjualan tiket, serta mengambil langkah-langkah untuk memperkuat keamanan siber mereka agar serangan serupa tidak terjadi lagi di masa mendatang.
Meskipun serangan siber ini menyebabkan gangguan yang signifikan, JAL berhasil mengatasi masalah dengan cepat dan memastikan bahwa keselamatan penerbangan tidak terganggu. Hal ini menunjukkan pentingnya investasi dalam keamanan siber untuk melindungi infrastruktur kritikal dari serangan yang semakin kompleks dan sering terjadi. (*)
Editor : Hendra Efison