Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

SBY Soroti Peran Xi Jinping, Putin, dan Trump dalam Geopolitik Global

Hendra Efison • Rabu, 26 Februari 2025 | 23:33 WIB

Presidential Lecture bersama Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (26/2/2025) di Universitas Paramadina.
Presidential Lecture bersama Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (26/2/2025) di Universitas Paramadina.
PADEK.JAWAPOS.COM—Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), menyoroti peran tiga pemimpin dunia yang memiliki pengaruh besar dalam geopolitik global saat ini, yakni Presiden China Xi Jinping, Presiden Rusia Vladimir Putin, dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Menurut Presiden ke-6 Republik Indonesia itu, ketiganya memiliki tiga elemen utama yang memungkinkan dominasi mereka dalam percaturan dunia, yaitu kekuatan ekonomi, kekuatan militer, dan kekuatan teknologi.

SBY juga menyoroti melemahnya multilateralisme akibat kebijakan ‘America First’ yang diterapkan oleh Donald Trump, serta semakin kuatnya peran Rusia dan China di panggung internasional.

Ia mempertanyakan hak veto yang dimiliki oleh lima negara besar di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), mengingat hanya segelintir negara yang dapat memengaruhi keputusan global.

“Masa depan lembaga-lembaga internasional seperti Bretton Woods, IMF, World Bank, dan WTO kini terancam oleh perubahan besar dalam sistem ekonomi global. Begitu pula dengan ASEAN, yang harus diperkuat sebagai warisan para pendahulu demi menjaga stabilitas kawasan Asia Tenggara,” ujar SBY.

Ia menegaskan bahwa peran ASEAN sebagai organisasi regional harus terus dijaga dan diperkuat. Indonesia, yang kini menjadi anggota BRICS, memiliki peran strategis dalam menjaga stabilitas kawasan serta memperkuat kerja sama antarnegara ASEAN di tengah dunia yang semakin terfragmentasi.

Dalam sesi diskusi, SBY membahas perubahan besar dalam tatanan global sejak Perang Dunia II hingga era kontemporer. Ia menjelaskan transisi dari sistem G-8 ke G-7 akibat keluarnya Rusia, serta dampak meningkatnya fenomena ultranationalism, unilateralism, dan isolationism yang mengancam eksistensi multilateralisme dunia.

“Pertanyaan besar yang muncul saat ini adalah, apakah G20 yang dibentuk pada 2008 masih relevan dengan perubahan tatanan dunia? Begitu pula dengan masa depan G7 dan BRICS. Indonesia, yang kini telah resmi menjadi anggota BRICS, harus siap menghadapi tantangan global dan menavigasi posisi strategisnya,” pungkas SBY.

Saat mengawali paparannya itu, SBY mengungkapkan kedekatannya dengan tokoh-tokoh Universitas Paramadina, mulai dari Cak Nur, Anies Baswedan, Firmanzah, hingga Rektor saat ini, Prof. Didik J. Rachbini.

Universitas Paramadina sukses menggelar Paramadina Presidential Lecture dengan menghadirkan SBY sebagai pembicara utama. Acara bertema “Masa Depan Multilateralisme di Tengah Ketidakpastian Ekonomi-Politik dan Keamanan Global” ini berlangsung secara luring di Universitas Paramadina Kuningan, Trinity Tower Lt.45, Rabu (26/2/2025).

Diskusi akademik ini dimoderatori oleh Ahmad Khoirul Umam dan dihadiri oleh civitas akademika serta pemangku kepentingan di bidang politik dan ekonomi. (*)

Editor : Hendra Efison
#melemahnya multilateralisme #xi jinping #Paramadina #sby #putin #trump